Rabu, 21 Desember 2022

The Lucky Husband

 Bingung minta ampun. Itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Bagaimana tidak bingung? Aku melihat kalender, ternyata masih tanggal lima belas dan di dompet hanya tersisa satu lembar berwarna hijau bertuliskan nominal dua puluh ribu dan empat lembar berwarna abu-abu yang sudah lecek bertuliskan angka dua ribu serta recehan koin seratus dua ratus yang membuatku malas menghitungnya.


Mau makan apa anak istriku? Itu saja yang terngiang di kepala. Terus memikirkannya malah membuat jalan otak semakin buntu. Bukannya solusi malah pening yang muncul. Awalnya di belakang mata, kemudian merambat ke dahi, lalu menjalar hampir ke semua bagian atas kepala. Ingin berteriak agar sakit kepala berkurang, tapi sayangnya aku tak punya nyali sebesar itu melakukannya di depan banyak orang.

Saat itu aku sedang duduk di depan mini market sambil menyeruput kopi dingin kemasan botol. Aku memutuskan singgah sebentar karena fokusku sudah kacau. Sangat berbahaya berkendara dalam keadaan seperti itu. Ya memang, penyebabnya adalah kepikiran uang yang sudah hampir punah di dompet padahal masih pertengahan bulan.

Pendapatanku bekerja di sebuah perusahaan yang sudah punya nama besar sebenarnya terbilang di atas nilai Upah Minimum Regional. Tapi ya begitu, tiap bulan selalu saja tidak mencukupi, selalu minus. Ada saja pengeluaran ini itu yang tidak terduga. Dan yang paling parah adalah bulan ini, bulan menjelang tahun baru. Baru tanggal lima belas sudah mau raib biaya penghidupan.

Aku duduk pas di anak tangga berbahan ubin keramik putih dekat dengan tumpukan kardus-kardus air mineral. Tidak peduli apa yang akan dikatakan orang yang mau masuk ke mini market. Dikira pria stres pun tak mengapa. Sepertinya aku memang terlihat seperti itu pada saat itu; wajah kusam, berminyak, rambut kusut, ditambah ekspresi tertekan. Melihat orang lalu-lalang keluar masuk mini market membawa belanjaan membuatku sangat iri. Kok enak ya hidup mereka? Gampang sekali beli ini itu. Sedangkan aku, mau beli kopi dalam botol yang harganya cuma tiga ribu saja pertimbangannya bukan main  memutar otak.

Sebenarnya, meskipun pendapatan tiap bulan lebih besar pasak daripada tiang, selalu ada solusi untuk hal itu, yaitu berhutang. H-U-T-A-N-G. Apa kalian familiar dengan susunan huruf tersebut? Tersenyumlah tak apa kalau sangat akrab dengan kata itu. Kita sama. Hehe. Tapi dari awal bulan, aku sudah membulatkan tekad untuk tidak melakukan hal itu. Tahun baru, harus ada perbaikan. Ya kata kerennya sih biasanya resolusi. Tapi apa daya takdir berkata lain.

Dari awal bulan, aku sudah melakukan perhitungan matang bagaimana uang yang aku dapat dari bekerja digunakan untuk ini itu, pokoknya harus ada sampai akhir bulan. Eh ternyata, keadaannya sama saja seperti bulan-bulan sebelumnya. Padahal, setelah aku renungkan, terlalu banyak jajan juga tidak. Apalagi belanja ala-ala hedonis, itu jauh. Aku pikir-pikir lagi, semuanya normal saja seperti pada umumnya orang yang melakukan pengiritan. Tapi kenapa masih saja kuraaaang? Tuhaaaan, hamba harus bagaimana?

"Mas, mas, maaf ya. Permisi saya mau ngambil kardus minuman." Salah satu pramuniaga mini market menyela lamunanku sambil sedikit menyentuh pundakku.

"Oh, iya, Mas, silahkan. Hehe." Aku bangkit berdiri sambil meringis salah tingkah. Jangan-jangan si pramuniaga berpikir aku ini memang lagi stres karena melihatku melamun dan menatap dengan tatapan kosong.

Aku putuskan sekalian saja melanjutkan perjalanan pulang. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Terik matahari yang masih sangat menyengat membuat pikiranku panas. Makanya aku mampir membeli kopi dingin, minuman favoritku, sekedar untuk sedikit melepas beban pikiran. Kemudian aku pasang kembali helm, naik ke atas motor, ku-stater, melihat sekeliling apakah ada penjaga parkir dan ternyata tidak ada, ya sudah aku tancap gas.

Jarak ke rumahku masih sekitar sepuluh menit dalam kondisi arus lalu lintas yang padat. Masih saja pertanyaan "Anak istriku mau makan apa?" masih menggema di kepala. Untungnya pening sudah mereda. Kafein suhu rendah memang ampuh menjadi penawar. Maka kubiarkan saja pertanyaan itu menggema berulang, sampai dia capek dan berhenti sendiri.

Tidak sampai sepuluh menit aku sampai di rumah. Kedatanganku disambut oleh bunyi meter listrik "biiip biiip biiiip" dan kelap-kelip nyala merah di meter tersebut. Kalian tahu apa artinya? Ya pasti sudah tahu, token listrik mau habis! Aaah, memperburuk situasi saja. Kemudian aku lihat layar monokrom meter listrik. Ternyata baru saja bunyi. Listrik masih bisa bertahan lah sampai lima harian. Syukurlah.

Saat aku beraksi ala-ala petugas perusahaan listrik memeriksa meter listrik, pintu terbuka dan muncullah istri tercintaku dengan ciri khas daster gombornya kalau sedang di rumah.

"Ada apa, Beb?" Tanya istriku sedikit mengejutkan.

"Bab beb bab beb. Emang bebek goreng?" Jawabku dengan sok ngambek. "Ini loh, Bu, bunyi meter listrik kok kayak bomb. Mau meledak kayaknya."

"Aaah, Bebeb bisa ajaaaa." Sambil mencubitku manja, istriku bereaksi.

"Diiih. Sok muda pake Bab Beb Bab Beb. Udah ah."

"Iyaaa Bapaaak." Ucap istriku mesra sambil setengah memeluk. "Kok dateng-dateng mukanya kusut gitu sih?" Lanjut istriku.

"Masuk aja dulu deh, Bu. Nanti Bapak ceritain."

Kubuka sepatu, kemudian masuk dan berganti pakaian kaos dan celana pendek. Dengan wajahku yang sudah terlihat tidak enak dipandang, istriku sepertinya mengerti dan langsung berusaha untuk membuat nyaman keadaanku. Langsung saja makanan yang dia masak, nasi dengan sayur oseng kangkung plus tempe goreng disandingkan dengan sambal terasi, dihidangkan dan disodorkan padaku yang masih duduk di kursi ruang tamu. Aku sedikit terkejut karena hal itu di luar kebiasaan keluargaku yang membiasakan makan di meja makan.

"Loh, kok tidak di meja makan aja, Bu?" Tanyaku heran.

"Gak apa-apa, Pak. Sekali-kali. Bapak kan capek, takutnya pas jalan menuju meja makan malah pingsan di tengah perjalanan." Jawab istriku dengan bercanda. Istriku jago sekali membuat hatiku tentram.

Setelah berbasa-basi bentar dengan istriku, aku melahap makanan yang dihidangkan dengan penuh nikmat. Meskipun sederhana, menurut kebanyakan orang, nikmatnya bisa mengalahkan masakan hotel bintang lima, bahkan mengalahkan rasa masakan yang ada di kompetisi memasak televisi. Tak sampai lima menit isi piring ludes tak bersisa kemudian ditutup dengan air putih segelas besar. Sungguh nikmat tiada tara.

Tiba-tiba aku merasa suasana hening dan istriku memandangiku dengan tatapan menuntut cerita yang aku janjikan. Aku hembuskan nafas, dan mengambil dompet untuk memulai cerita. Kemudian aku membuka dompet dan memperlihatkannya ke isrtriku. "Ini, Bu." Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Dengan bangganya si lembar hijau dan lembar abu-abu menampakkan diri. Tapi aku lebih terkejut karena istriku. Dia hanya tersenyum, sangat manis dan tulus, kemudian berkata, "Bapak tidur siang dulu sana, pasti capek." Kenapa istriku tidak kaget? Entahlah. Wanita memang lebih pandai menyembunyikan isi hatinya dibanding pria. Aku juga ikut tersenyum dan mencium keningnya, kemudian menuju tempat tidur, berharap setelah aku tidur, si hijau dan abu-abu di dompet berubah menjadi berlembar-lembar warna merah.

Selasa, 20 Desember 2022

Sebuah Puisi Untuk Yang Selalu di Hati

 Untuk yang tersayang dan tak akan pernah tergantikan di hati.


Bu, sejak seminggu terakhir ini kondisimu melemah, bahkan untuk sekedar berbicara lewat telepon atau video call tampak sangat berat buatmu, kuputuskan untuk membuat tulisan ini agar Ibu bisa mendengar banyak celotehanku seperti sebelum kondisi Ibu seperti sekarang. Berat sekali rasanya seminggu terakhir ini memikirkan Ibu di rumah terbaring lemah dan aku tidak bisa berada di sana untuk menemani. Bukan aku tak mau pulang ke rumah, Bu. Aku sangat ingin, tapi aku yakin Ibu tahu alasannya.

Bu, hari selasa, tanggal 20 Desember 2022 pukul 22.06 WITA, aku mulai menulis ini. Ibu pasti ingat dan akan selalu ingat kalau besok adalah tanggal saat aku dilahirkan 33 tahun yang lalu. Bincang-bincang kita di telepon tadi setelah waktu sholat Maghrib, Ibu sempat menyinggung ingin memberiku sesuatu dengan mengatakan minta maaf masih tidak bisa memberikan apa-apa karena kondisi sakit. Jujur dalam hati, Bu, aku sedih mendengarnya. Bukan karena aku tahu Ibu sedang tidak kuasa melakukan apapun akhirnya tidak bisa memberikan hadiah di hari spesialku, tapi karena betapa Ibu selalu berusaha membuatku bahagia meski dalam keadaan terlemah sekalipun. Hatiku menangis mengetahui betapa kasih sayang dan kepedulian Ibu memang tiada batas.

Maafkan aku, Bu, yang dulu pernah membantah pepatah terkenal yang pernah Ibu sampaikan kepadaku: Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Dulu aku menyangkalnya dan bilang hal itu belum tentu benar. Tapi sekarang aku menyadari, pepatah tersebut akurat sekali kebenarannya. Dalam kondisi terlemahmu, kau masih sempat bilang ingin memberikanku sesuatu di hari spesialku. Maafkan aku, Bu, yang dulu pernah menjadi sok lebih pintar kemudian membantah apa yang kau ucapkan.

Bu, 33 tahun yang lalu, ingatkah Ibu sangat merasa bahagia akan melahirkan anak pertama yang sangat ditunggu-tunggu? Setidaknya itulah yang aku bayangkan dari cerita-cerita Ibu yang selalu membanggakanku waktu kecil. Aku membayangkan senyum Ibu waktu itu sambil meringis menahan sakit kontraksi di perut. Ayah pasti juga dengan perasaan bahagia bercampur cemas sangat siaga mengurus segala keperluan bersalin Ibu. Ibu pun pasti juga sangat cemas karena memang kelahiranku adalah proses persalinan pertama yang Ibu alami. Dan setelah aku lahir, semua kecemasan seluruhnya luruh digantikan bahagia yang luar biasa. Ah, saat itu pasti Ibu juga menitikkan air mata tanda terharu dan cinta. Ayah pun pasti demikian berada di samping Ibu sambil memelukmu dan memandangiku yang baru saja menyapa dunia dengan tangisan.

Rasa bahagia Ibu dan Ayah waktu itu, selalu aku bayangkan, Bu, setiap tanggal kelahiranku datang. Rasa bahagia itu, kujadikan bahan bakar pembaharuan diriku agar menjadi anak yang Ibu dan Ayah impikan. Dan di ulang tahunku yang ke 33 ini, aku ingin sekali rasa bahagia 33 tahun silam bisa Ibu ingat kembali dan menjadi bahan bakar Ibu untuk selalu semangat sembuh dan pulih. Rasa bahagia Ibu waktu melihatku pertama kali, rasa bahagia Ibu waktu mendengar suaraku pertama kali, rasa bahagia saat bersamaku, anakmu, rasakan bahagia itu, Bu. Sekarang, anak yang engkau lahirkan 33 yang lalu sudah memberikanmu cucu. Aku yakin Ibu pasti bahagia dengan itu. Maka dari itu, Ibu harus selalu semangat, semangat sembuh. Aku masih ingin memberikan banyak kebahagiaan lain untuk Ibu. Kedua anakku, cucu-cucu Ibu yang selalu Ibu belikan sesuatu meski jauh, pasti menanti Uti-nya bisa bercanda lagi dengan mereka.

Bu, maafkan aku yang selama ini kadang membuat kesal bahkan kecewa. Padahal, 33 tahun yang lalu, aku yakin Ibu pasti tidak membayangkan hal itu terjadi karena do'a Ibu selalu baik dan harapan Ibu selalu yang terbaik untukku bukan hanya 33 tahun lalu, setiap tahun bahkan setiap hari bahkan setiap detik sejak aku lahir sampai sekarang. Aku yakin itu. Tidak sepertiku yang kadang sibuk dengan urusan sendiri sampai lupa memberi kabar kepada Ibu.

Tapi lewat tulisan ini, aku ingin memberitahumu sedikit rahasia. Sejak aku dikaruniai buah hati, do'aku untuk Ibu, hampir tidak pernah terputus. Keadaan tersebut membuatku merasakan bagaimana hebatnya lika-liku merawat dan membesarkan anak. Akhirnya aku paham bagaimana perasaan dan usaha Ibu dan Ayah waktu itu. Dan do'aku adalah wujud bersyukur kepada Alloh dan terima kasihku kepada Ibu dan Ayah yang sudah menjadi orang tua yang luar biasa. Dengarkan sekali lagi, Bu. Ibu dan Ayah adalah orang tua yang luar biasa!

Do'aku selalu, Ibu sehat dan bahagia. Do'a terbesarku saat ini adalah Ibu sembuh. Aku mohon Ibu selalu semangat untuk sembuh apapun yang terjadi. Kalau Ibu sedang patah semangat, bayangkan wajahku, wajah menantumu dan cucu-cucumu yang selalu menunggumu untuk kembali ceria.

Bu, di usiaku yang 33 tahun sekarang, aku tidak memerlukan hadiah apapun dari siapapun, karena aku sudah mendapatkan hadiah terbesar yang pernah aku terima, yaitu kesadaran, bahwa pelajaran-pelajaran yang telah kau berikan baik dari perkataan maupun yang engkau lakukan, adalah peganganku, petunjuk jalanku, untuk menjalani hidup yang ternyata sangat melelahkan. Sungguh, kupikir yang akan membantuku adalah buku-buku yang sering kubaca, video-video yang sering aku tonton, atau sumber pengetahuan lainnya. Ternyata aku salah, Bu. 32 tahun aku hidup di dunia ini, selama itu juga aku tidak menyadari bahwa nasihat-nasihat Ibu yang menuntunku pertama menuju arah-arah kebaikan, dan perkataanmu menjadi pegangan yang selalu menguatkan, serta kisah-kisah yang pernah Ibu ceritakan selalu menjadi motivasiku ketika aku benar-benar merasa tak berdaya.

Maka dari itu, aku mohon, Bu, Ibu harus selalu semangat sembuh. Karena aku akan selalu membutuhkan wejangan dari Ibu, membutuhkan do'a dari Ibu, membutuhkan kisah-kisah yang lain yang belum sempat Ibu ceritakan. Aku membutuhkan Ibu.

Ayo semangat, Bu. Ibu pasti bisa sembuh. Ibu tenang saja, aku juga bantu memintakan kesehatan dan kesembuhan Ibu kepada Alloh. "Ya Alloh, hamba mohon pulihkanlah kesehatan Ibu dan angkatlah segala macam penyakit yang ada di Ibu. Hamba mohon, Ya Alloh. Amiiin."

Bu, segini saja ya tulisanku, agar Ibu tidak capek membacanya. Semoga dengan tulisan ini, Ibu bisa mendengarku cerita panjang lebar seperti biasanya di telepon. Semoga suaraku yang dalam bentuk tulisan ini bisa menjadi penyemangat sekaligus do'a untuk Ibu. Sayangku selalu untuk engkau yang melahirkanku 33 tahun lalu dengan penuh rasa cinta dan kasih. Terima kasih Ya Alloh sudah menjadikan wanita bernama Lilik Muslimah sebagai salah satu pintu surga untukku.


Rabu, 14 Desember 2022

Musik Haram

 Istriku adalah penggemar berat sinetron di SCTV yang berjudul Takdir Cinta Yang Kupilih (Entah kenapa semua sinetron harus ada kata "cinta"nya, Cinta Setelah Cinta, Cinta Karena Cinta, Ikatan Cinta, cinta ini, cinta itu, cinta monyet, cinta kambing, deeeh, bikin mual). Dan yang menjadi original soundtrack sinetron tersebut adalah lagu milik Budi Doremi yang berjudul Mesin Waktu. Kira-kira begini lirik bagian reff-nya :


Jika aku bisa, ku akan kembali
Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih
Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau
Membawa kamu lewat mesin waktu

Saking ngefans-nya sama sinetron tersebut, lagu tersebut pun sangat menempel di kepala istriku. Sering kali dalam keadaan hatinya sedang baik, dia bernyanyi lagu kesukaannya. Yang biasanya menyanyi lagu-lagu Guns N Roses, Westlife, atau lagu-lagu barat lainnya, sekarang malah lagu itu yang dinyanyikan. Dengan "pede"nya, suara lepas, tak peduli suara in tune atau tidak, mulailah bagian reff lagu milik Budi Doremi dilantunkan.

"Andai aku bisaaa, ku akaaaan kembaliiii,"

Aku kaget. Lirikanku sinis. Apaan sih, komentarku dalam hati.

"Kuakaaan merubaaaah, takdir cintaaa yang kupiliiiih."

Nadanya mulai lepas dari pakem Budi Doremi. Lirikanku jadi lebih sinis, mengarah ke menghina.

"Meskipun taaak mungkiiiiin, walaupun kumauuuu auu auuu auuu."

Bukan hanya nadanya lepas, gerakannya pun juga lepas menirukan penyanyi sedang konser dan berpura-pura memegang microphone.

"Membawa kamuuu, lewaaat mesiiiin waktuuuuuuu."

Menyelesaikan reff tersebut membuat wajah istriku puas. Dengan nyengir menyadari kalau suaranya lantang dan nadanya loncat sana-sini, dia bilang kepadaku:

"Say, kalau Budi Doremi denger aku nyanyi, kayanya dia kecewa ya lagunya dinyanyikan sama aku. Hahahaha." Sambil ketawa-ketawa sendiri.

Eh, nyadar ternyata, cemoohku tanpa terucap. Aku menanggapi pernyataannya dengan tersenyum tanggung dan balik berkomentar.

"Itulah kenapa musik itu haram." Satu kalimat yang terlontar dariku membuatnya diam sejenak.

"Kok bisa? Maksudnya?" Tanya istriku belum menangkap apa yang kumaksud.

"Ya karena yang nyanyiin fals, kayak Sayang itu dah."

Awalnya masih bingung dengan apa yang ku katakan. Tapi akhirnya mengerti kalau sedang disindir dan cubitan manja mendarat beruntun di bagian sana-sini tubuhku. Aku juga berusaha menghindar meskipun tidak berhasil sambil tertawa puas sudah menggodanya. Hahahaha.

"Dasar suami tidak mendukung istri." Ucapnya masih dengan mencubitiku dan ekspresi ngambek-ngambek manja. Daripada badanku sakit semua, akhirnya aku kabur dan menuju teras rumah.

Aku mulai menyulut satu batang rokok. Sambil duduk dan menghisap asap rokok penuh nikmat, aku merasakan ringannya hati setelah kami tertawa bersama saling menggoda. Adegan tadi adalah salah satu dari sekian cara kami untuk memesrakan hubungan. Sering sekali kami saling mengolok-ngolok kelemahan masing-masing, tapi sambil tertawa dan bercanda.

Di tengah lamunan, dari teras, aku mendengar lagu itu diputar lagi lewat mulut istriku.

"Andai aku bisaaaa," lanjutnya bernyanyi lagi dengan makin lantang. Astaga, kukira sudah sadar, ternyata masih khilaf. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum lebar mengingat kelucuan yang dia hadirkan selalu membuatku semakin cinta kepadanya. Dialah takdir cinta yang kupilih. Asek asek jos!

Minggu, 04 Desember 2022

Catatan Harian Si Anjing

 Aku bingung kenapa majikanku tiba-tiba mengajakku pindah ke tempat baru. Karena aku penurut, maka aku menuruti saja apa yang mereka kehendaki. Kalau pindah ya ikut pindah. Kalau tinggal ya ikut tinggal.


Majikanku hanya tinggal bersama anak perempuannya. Entah kenapa Nyonya tidak terlihat sama sekali sudah lumayan lama. Mungkin sedang bekerja entah dimana. Yang aku tahu, mereka, Tuan dan anak perempuannya sangat bahagia meskipun sepertinya keadaannya susah.


Aku bisa menyimpulkan susah karena sejak Nyonya tidak terlihat, kualitas makananku menurun, bisa dibilang seadanya. Dulu, makananku adalah makanan bermerk yang mungkin harganya sangat mahal. Setiap hari makan itu rasanya sangat nikmat. Giziku juga terpenuhi dan gerakku menjadi sangat ringan dan lincah. Saat Tuan mulai menuangkan makanan di tempat makanku, jangankan rasanya, bunyi makanan saat dituangkan pun juga terdengar menggugah selera. Momen itulah yang selalu membuatku semangat. Tapi itu hanya masa lalu yang indah. Sekarang? Aku hanya makan seadaanya. Mungkin itu adalah makanan sisa Tuan dan anak perempuannya. Kadang aku hanya mendapat tulang ayam dengan nasi. Kadang juga kepala ikan tanpa nasi. Kadang roti. Pokoknya, menu makananku selalu berubah dan kurang menggugah seleraku. Mau bagaimana lagi? Aku hanya piaraan yang menunggu uluran tangan Tuanku.

Tapi aku tetap merasakan kasih sayang tulus dari Tuanku. Meskipun makan seadanya, dia melarangku mencari makan di tempat sampah. Mungkin biar aku tidak sakit. Dia juga mengajakku ke tempat tinggalnya yang baru. Meskipun cuma kamar kos yang kecil, aku turut diajaknya.

Tak lama kemudian aku mengerti mengapa Tuanku harus pindah. Sejak Nyonya tidak terlihat, Tuan mengalami masalah dengan keadaan ekonomi. Yang Tuan makan setiap hari tidak pernah berbau daging, atau telur, atau yang berbau amis. Seingatku, baunya seperti tempe, tahu dan kuah yang tidak berbau amis. Sesekali memang berbau amis telur, tapi itu dimakan oleh anak perempuannya. Sampai akhirnya, Tuan mendapat pekerjaan baru sebagai penjual makanan berbahan telur. Untuk menghemat biaya, mungkin akhirnya Tuan memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih dekat dengan lokasi pekerjaannya, dan tentunya lebih murah.

Aku senang sekali dengan pekerjaan Tuan yang baru karena selalu berbau amis telur. Tapi aku tidak berani meminta karena tidak ingin merepotkan Tuan yang sedang sibuk melayani pembeli. Aku hanya bisa menunggu sambil tiduran di dekat gerobak untuk menjual jajanan telur tersebut. Aku juga tidak mau dekat-dekat dengan gerobak Tuan, takut pembeli malah tidak berani mendekat ke tempat berjualan Tuan. Tuan memang tidak bilang itu, tapi sorot matanya sudah cukup untuk memberitahuku. Karena yang aku lakukan itu juga lah, kadang Tuan berbaik hati memberi sedikit jajanan telurnya. Ah, senangnya. Rasanya lama sekali aku tidak makan telur sebanyak itu.

Tapi di tempat baru, selalu ada tantangan baru. Di tempat baruku, mulai awal menjejakkan kaki di sana, aku sudah mencium bau kencing anjing lain. Itu pertanda daerah tersebut sudah dikuasai. Benar saja dugaanku, baru awal masuk daerah tersebut, setelah mencium baunya, aku disambut dengan gonggongan anjing yang jumlahnya lebih dari satu. Ternyata mereka dikurung oleh majikannya. Meskipun tubuh mereka lebih kecil, suara mereka sangat berisik dan nyaring. "Hey siapa kau? Pergi dari sini!" Teriak salah satu dari mereka. "Hey jelek. Berani banget kamu masuk sini." Gonggong yang lain yang memang bulunya terawat, tidak sepertiku yang sudah penuh luka sana sini. Ingin hati melawan cercaan mereka, tapi lagi-lagi sorot mata Tuan berbicara. Dia seperti bilang, "Tidak usah dilawan. Kamu ada di daerah anjing lain. Jaga sikap. Ada Tuan di sini. Kamu aman." Aku ciut dengan sorot matanya, tapi aku percaya pada Tuanku.

Pernah suatu hari, aku mau berjalan-jalan karena tiba-tiba bosan menunggu Tuan berjualan. Tuan juga sedang menunggu pembeli yang cukup lama tidak datang. Karena tidak ada yang membeli, jadinya tidak bau telur. Makanya aku bosan. Aku memutuskan untuk mengitari daerah sekitar tempat tinggal baruku. Baru saja berjalan beberapa langkah, semua anjing pemilik rumah kos menghadang. Mereka berjumlah sekitar enam. Meskipun kaget, aku tetap tenang. Mereka mulai bersuara lagi. Hanya berisik yang aku dengar, karena semuanya mengonggong bersamaan. Apalagi pemimpin mereka, aku panggil si Jabrik karena bulunya runcing naik ke atas, suaranya sangat lantang dan melengking. Menghadapi situasi seperti itu, aku bingung harus melawan mengonggong, atau lewat saja tidak mempedulikan.

Akhirnya aku memutuskan untuk melewati saja mereka tak acuh. Aku berjalan beberapa langkah, tapi mereka malah merangsek maju dengan gonggongan lebih berisik. Tanpa sadar aku juga mengerang menantang. Aku tahu gonggonganku lebih keras dan tubuhku lebih besar, jadi aku tidak takut.

Namun eranganku lenyap seketika saat mencium bau badan Tuanku. Aku langsung menoleh dan betul dia sudah di belakangku. Ternyata Tuan langsung mengelus kepalaku dan menatap para anjing yang menghadang. Entah kenapa mereka seperti tidak takut, tetap menggonggong meski tidak melanjutkan langkahnya untuk menghampiri. Sepertinya gonggongan mereka memancing majikannya untuk keluar melihat situasi. Melihat mereka terus membuat bising, majikannya kesal dan menyuruh masuk. Nyali mereka langsung ciut dan menuruti perintah majikannya meski masih mengonggong sekali dua kali. Pintu langsung dikunci dan mereka terkurung kembali.

Jalanku sudah aman. Sebelum kembali ke tempat berjualan, Tuanku mengelus dan menatapku sebentar. Matanya seperti bilang, "Aman. Kamu lanjut ya." Aku jawab dengan gonggongan pelan. Aku mulai menjelajahi daerah tempat tinggal Tuan yang baru. Bentuknya adalah komplek kos dengan kamar-kamar berjumlah lebih dari sepuluh. Ternyata tidak semua wilayah komplek kos dikuasai oleh anjing-anjing pemilik kos. Aku tidak mencium bau mereka di sekitar pojokan komplek. Sepertinya aku aman di sana. Beruntungnya, di salah satu pojokan ada keran air yang airnya selalu menetes, entah bocor atau bagaimana. Aku bisa minum di sana tanpa menunggu diberi oleh Tuan. Tapi aku juga mencium banyak bau manusia. Aku harus menunggu sampai sepi untuk bisa ke sana, takut kalau mereka mengusirku. Siapa tahu mereka lebih galak dari anjing-anjing penjaga yang resek dan berisik.

Dugaanku sedikit tepat. Pernah suatu malam setelah Tuan selesai berjualan, aku rebahan di depan kamarnya. Aku terkejut para anjing penjaga datang ke komplek kos. Pemilik kos melepas mereka saat tengah malam. Tahukah apa yang mereka lakukan? Mereka buang air besar sembarangan. Astaga, dasar para anjing tak beretika. Aku juga anjing, tapi kelakuanku tidak seperti itu. Aku masih tahu tempat untuk melakukan ritual tersebut. Dan ada salah satu penghuni kos yang "ngeh" dengan kehadiran mereka. Langsung saja dia keluar dan berteriak mengusir. "Heh, heh, pergi, pergi, hush, hush." Suaranya yang lantang memecah keheningan malam. Padahal, sepertinya penghuni kos yang lain sudah terlelap. Aku heran si pengusir tersebut bisa berteriak lantang saat semua sudah mulai beristirahat. Para anjing penjaga akhirnya kaget dan kabur tunggang-langgang. Pantas saja bau mereka tidak tercium di sekitar situ, ternyata ada yang lebih galak. Kalau aku mau kesana untuk minum, sepertinya gerak-gerikku harus sesenyap mungkin dalam keadaan sesepi mungkin. Aku takut nasibku seperti para anjing penjaga, apalagi dengan tampilanku yang penuh luka.

Tapi tidak semua penghuni kos seperti si pengusir. Pernah suatu ketika aku ingin menuju keran air tempat biasa aku minum. Mendekati lokasi, aku terkejut ada salah satu penghuni kos sedang duduk di teras sambil merokok. Mata kami sempat saling beradu pandang. Aku takut diteriaki dan diusir tapi aku lanjutkan saja langkahku pelan. Ternyata, dia diam saja membiarkanku. Nasibku beruntung sekali bertemu dengannya, bukan si pengusir yang pernah aku lihat. Aku jadi membuat kesimpulan, para anjing penjaga yang berisik tidak disukai karena mereka tidak berkelakuan baik. Buang air sembarangan membuat mereka diusir.

Aku semakin membulatkan tekad untuk melindungi daerah komplek kos, tidak hanya kamar milik tuanku. Saat tengah malam, aku tidak pernah tidur untuk berjaga siapa tahu ada orang jahat menyelinap. Untuk sementara selama aku tinggal di sana, belum ada kejadian kejahatan yang terjadi. Tapi aku selalu berjaga saat malam hari, menjaga keamanan daerah tempat tinggalku, berharap para penghuni kos yang lain menyukaiku.

Harapanku ternyata belum terwujud. Pernah di suatu siang, aku sedang merebahkan badan menemani Tuan berjualan dari kejauhan. Tiba-tiba datang salah satu penghuni kos yang pernah aku temui dan membiarkanku lewat menuju keran air. Kali ini dia berjalan bersama anak laki-lakinya yang masih kecil. Tampak si anak membawa bungkusan makanan berwarna-warni yang sangat menarik perhatianku. Karena kupikir mereka baik dan tidak keberatan dengan kehadiranku, aku mengikuti mereka. Tidak berharap menerima makanan dari mereka, aku hanya tertarik pada bungkus warna-warni yang si anak pegang. Aku ingin mengajak bermain, jadinya aku mengikuti. Tak kusangka si penghuni kos mengusirku. "Hush hush!" Ucapnya pelan. Tapi si anak tertawa dan aku sangka mereka mengajak bercanda. Jadinya aku ikuti mereka lagi dengan lebih sumringah karena selama ini aku tidak punya teman untuk bermain.

Di luar dugaanku, si penghuni kos yang kupikir mau bermain denganku mengusir dengan suara lebih lantang. Mataku terbelalak sedih. Ternyata mereka tidak ingin bermain denganku. Mereka masih belum menerimaku. Meskipun si anak tetap tertawa melihatku, raut muka si bapak seperti marah. Kemudian aku mundur dan kembali ke Tuanku.

Susah sekali menjadi anjing. Apalagi anjing berpenampilan buruk penuh bekas luka sepertiku.

Jumat, 25 November 2022

Balada Kucing Berak

 Sungguh kita adalah orang yang sangat beruntung ketika diingatkan oleh Tuhan saat kita sedang lengah. Lengah tentang apa? Tentang kita yang sudah merasa bersih ketika kita merasa kita tidak pernah berbuat hal yang buruk. Karena hal itu, kita sudah merasa sangat bersih dan tidak punya dosa. Apalagi ditambah ritual ibadah wajib kita yang rutin, tidak pernah kurang. Tapi sesungguhnya, manusia biasa seperti kita, tidak akan pernah benar-benar bersih, selalu ada kotornya. Gawatnya, saat perasaan "merasa bersih" itu semakin menguat, seringkali kita "merasa benar" dan memandang remeh orang-orang di sekitar yang tabiatnya "terlihat" tidak sebaik kita. Saat itulah kita lengah. Dan sekali lagi, kita adalah orang-orang yang beruntung ketika diingatkan olehNya.

Cerita ini sangat ingin aku tulis. Entah kenapa kejadian tadi malam sangat membekas dan menempel di pikiran dan perasaan. Lengah. Itulah kata yang tepat tentang apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.

Semalam, seperti biasa, aku menikmati kesendirian di teras rumah sambil menyulut batang demi batang rokok yang aku punya. Momen itulah yang bisa aku nikmati seusai istri dan anak-anakku terlelap. Sangat sering aku lakukan sebagai renungan tentang apapun yang terjadi dalam kehidupanku. Kepulan asap yang aku hembus begitu menenangkan otak. Dibarengi dengan tontonan video Youtube yang sengaja aku cari untuk membuatku terhibur.
Aku seperti berbicara pada diri sendiri saat momen tersebut. Melihat tontonan Youtube yang menampilkan macam-macam karakter manusia, menimbulkan inspirasi yang sering menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang selalu muncul di kepala. Tanpa disadari, tontonan-tontonan "penuh daging" yang selalu aku lihat memunculkan perasaan-perasaan bahwa aku ternyata berada pada jalan yang benar, ternyata aku orang baik, ternyata aku orang yang diberkati dan beruntung, dan masih banyak perasaan yang membuatku sekaan menjadi orang yang sangat beruntung mendapatkan pemikiran yang selalu positif untuk menjadi orang baik. Ternyata sangat halus sekali sesuatu itu muncul. Itu adalah perasaan tinggi hati. Sombong.

Ternyata aku tidak sadar aku adalah orang yang sombong. Bukan tentang harta, tapi tentang segala kemudahan yang aku dapatkan. Penghasilan stabil, selalu bisa beli ini itu, dan selalu merasa bahagia setelah itu adalah beberapa dari segala kemudahan yang diberikan olehNya. Mungkin karena selama ini aku selalu berbuat baik kepada semua orang sekalipun orang itu membenci. Mempunyai pandangan seperti itu sepertinya menjebakku. Aku selalu melihat kehidupan seperti sebuah pertunjukan, setiap elemen punya perannya masing-masing. Orang-orang yang tidak seberuntung aku, selalu aku pandang "ya memang jalannya sudah seperti itu." Ternyata sudut pandang seperti itu menjebakku.

Ketika bertemu dengan karakter orang yang tidak aku suka, aku akan berusaha diam, tidak berusaha membahasnya lewat lisan atau apapun. Hanya pikiran yang kadang dibujuk setan dalam diri yang berusaha untuk memikirkan bahwa orang itu lebih buruk dari aku. Aku selalu berusaha tidak membahasnya sekalipun kepada istriku. Memang manusia itu lemah, aku juga bisa lengah karena bujukan setan. Saat lengah itulah aku merasa aku benar. Saat bertemu dengan orang yang karakternya tidak aku sukai, dan ditimpa kesusahan, aku akan merasa "ya itu karena selama ini tabiatnya seperti itu, Tuhan memberikan balasannya."

Ada salah satu tetanggaku, yang sedikit tempramental ketika menghadapi anaknya yang sedang membuat ulah. Suara jeritan si anak sangat terdengar dari tempat tinggalku. Sampai suara barang-barang dibanting, dipukul, disertai teriakan si anak juga pernah aku dengar. Aku pikir, anak belum lima tahun tidak tahu mana salah dan benar. Tidak perlu diperlakukan sangat kasar apalagi sampai bermain fisik. Saat itu aku merasa benar apa yang aku lakukan kepada anakku. Aku tidak pernah memperlakukan anakku seperti mereka, apalagi saat anak berulah. Aku merasa aku sangat beruntung punya pengetahuan bagaimana memperlakukan anak dengan baik. Dan saat itulah ternyata rasa sombong yang sangat tipis menyelip di dalam hati. Saat keluarga mereka ditimpa kesusahan, si bapak akhirnya kehilangan pekerjaan dan harus bekerja sebagai ojol yang waktunya benar-benar panjang dari pagi sampai tengah malam, aku hanya bisa menggumun dalam hati, "ya makanya jangan seperti itu ke anakmu, jadi Tuhan ngasih yang susah."

Yang barusan hanyalah satu contoh bagaimana kesombongan itu muncul. Meskipun itu halus, akhirnya terasa sangat mengganjal. Tuhan masih sangat berbaik hati memberikan kesadaran kalau aku salah, seperti yang terjadi tadi malam.

***

Sudah lama aku "tidak suka" dengan salah satu tetanggaku ini. Awal tinggal di tempatku sekarang, aku berusaha menyapa dan mengakrabkan diri kepada tetangga baru, termasuk beliau. Beliau tuna netra dan sepuh, tapi sudah kebiasaanku tidak pernah membeda-bedakan orang dari apapun keadaannya. Bercerita ya bercerita saja. Ngobrol ya ngobrol saja selama itu tidak mengarah kepada hal-hal yang tidak nyaman aku dengar. Singkat cerita, aku sedikit akrab dengan beliau karena aku dan beliau suka ngobrol.

Terbilang sering kami ngobrol ketika waktu senggang. Aku ke tempat beliau atau beliau aku undang ke tempatku. Saling ngobrol dan makin merasa akrab adalah yang aku rasakan. Selang beberapa waktu, karena aku disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan dan keluarga, aku jadi jarang bertamu ke tempat beliau. Jadinya, beliaulah yang sering datang ketika mendengarku sedang telepon atau menonton video Youtube di depan teras. Aku tidak bermasalah dengan hal itu. Bahkan aku senang didatangi untuk diajak berbincang. Dari awalnya ngobrol tentang kehidupan keluarganya di kampung, sampai aktivitas pekerjaan sebagai tukang pijat urat, bahkan sampai keluhan yang beliau punya tentang kehidupannya, pernah aku dengar. Aku masih tidak bermasalah dengan hal tersebut. Sampai akhirnya aku tahu bagaimana karakter aslinya yang aku "tidak suka".

Beliau terbilang sering datang ke tempatku ketika mendengar aku berada di depan teras. Dan selalu aku ajak masuk untuk ngobrol. Dari tema obrolan yang aku sebutkan tadi, akhirnya mengarah ke tema obrolan "ngomongin orang". Jujur, aku selalu menghindar dari lingkaran obrolan seperti itu, tidak nyaman didengar. Tapi mau bagaimana lagi, beliau sudah di tempatku dan aku cuma bisa mendengarkan. Karena beliau seorang yang sepuh, aku jadi enggan untuk membantah. Membicarakan tetangga-tetangga lain tentang keburukannya, bahkan kejelekan anggota keluarganya, adalah hal yang beliau lakukan saat itu. Dalam hati aku segera ingin menyudahi pembicaraan macam itu tapi seakan sulit sekali mencari jeda untuk menghentikan. Jadinya aku dengarkan ceritanya sampai habis. Aku tidak mau berburuk sangka karena hal tersebut. Bodo amat mikirin karakter orang lain, yang penting aku tidak seperti itu.

Aku juga sering ngobrol dengan tetangga yang lain. Di salah satu obrolan, mereka menceritakan kejelekan si bapak tukang pijat. Ah, aku tidak peduli, aku tidak mau memikirkan kejelekan orang lain. Tapi obrolan beliau terakhir membuatku menyangkut pautkan dengan cerita tetangga yang lain. Apa ini karakter asli beliau? Menyebalkan? Kenapa mereka "tidak terlalu suka" dengan beliau? Ketika pertanyaan macam itu muncul, aku selalu berusaha untuk menghilangkannya. Aku tidak mau membebani otakku dengan hal yang tidak berguna.

Sampai akhirnya, kejadian yang membuatku kehilangan "respect" kepada beliau terjadi. Suatu hari, aku sedang senggang dan ingin di dalam saja. Sengaja pintu ditutup agar tidak ada yang mengganggu. Aku sedang bersama istri dan anak-anakku. Di tengah obrolan dengan istriku, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Dan muncullah beliau dengan memanggil namaku. Serius aku kaget. Kok tiba-tiba membuka pintu tanpa permisi? Kemudian aku tanya ada apa. Jawab beliau, hanya ingin ngobrol. Seketika hormatku kepada beliau sebagai orang tua runtuh. Beliau memang berbeda, tuna netra, tapi apa bisa seenaknya masuk ke rumah orang tanpa permisi? Awalnya aku memaklumi beliau sering datang ke tempatku. Meskipun saat sangat lelah sekalipun, aku akan mempersilahkan beliau masuk ketika datang. Tapi yang barusan terjadi? Benar-benar tidak pernah aku bayangkan. Bahkan saudaraku sendiri tidak pernah melakukan itu. Mungkin beliau melakukan itu karena sudah merasa sangat akrab denganku.

Sejak kejadian itu, aku berusaha menghindar untuk bertemu dengan beliau. Ketika beliau datang, aku bilang mau keluar padahal kenyataannya tidak. Bahkan beliau melakukan hal yang sama lagi, membuka pintu dan kemudian masuk dan memanggilku. Aku sengaja tidak menjawab agar disangka sedang tidur. Kemudian beliau kembali pulang. Dan sejak kejadian itu, kami tidak pernah mengobrol lagi, hanya bertegur sapa sekedarnya, karena memang aku yang selalu menghindar. Dari situ aku seperti menjadi "jahat".

Awal aku kenal dengan beliau, aku sangat iba karena ketidakbisaannya melihat. Sering aku menawarkan bantuan ketika beliau terlihat kesusahan melakukan sesuatu sendiri. Beliau hidup sendiri sebagai tuna netra. Tapi sejak kejadian yang membuatku "ilfeel", aku jadi seperti membiarkan beliau melakukan segalanya sendiri. Bahkan pada saat tampak membutuhkan bantuan, aku hanya diam berusaha tidak bersuara dan menimbulkan suara. Kadang aku berpikir kenapa aku menjadi jahat? Tapi aku terus memperhatikan, para tetangga lain juga melakukan hal yang sama sejak awal aku datang. Apa ini yang mereka rasakan? Tidak "respect" kepada beliau. Saat itu, berkelitku hanya aku tidak mau berteman lebih jauh dengan orang yang bisa memberikan pengaruh buruk. Apa salahnya?

"Tidak respect" itu berlangsung lama. Sampai akhirnya aku enggan sekali untuk bertegur sapa. Aku memilih untuk diam ketika berpapasan karena beliau juga tidak akan tahu siapa yang lewat. Itu karena aku selalu menghindar. Ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan beliau yang akhirnya aku tahu dan menurutku sangat mengganggu tetangga yang lain, termasuk aku. Bahkan saat ibu dan istri beliau meninggal, aku tidak merasa harus menemui beliau untuk membantunya memberikan semangat, sekedar mengurangi beban perasaannya. Merasa jahat sering kali muncul tapi di sisi lain aku tidak ingin hati dan pikiranku kotor karena ucapan dan perbuatan beliau. Aku selalu ingin menjaga hatiku bersih dengan menghindari hal-hal yang berpengaruh buruk.

Karena itu, aku merasa mempunyai posisi di atas dengan akhlak yang aku punya. Aku hampir tidak pernah berlaku menyebalkan kepada tetanggaku. Aku merasa lebih benar. Aku merasa lebih "suci". Aku merasa lebih-lebih yang lain daripada beliau, yang akhirnya berpikir akhlakku yang "benar" itulah yang membuatku mendapat segala kemudahan dariNya. Ternyata aku salah. Tuhan masih berbaik hati mengingatkanku agar tidak terlalu tinggi lagi dan tidak jatuh lebih sakit.

Semalam, seperti biasa aku duduk di teras sendiri sambil merokok dan menonton video youtube. Aku sekilas melihat beliau sudah masuk beristirahat. Di terasnya terdapat baju bekas yang difungsikan sebagai keset. Semua terlihat seperti biasa. Aku tidak terlalu menghiraukan lagi beliau dan apa yang ada di sekitarnya, termasuk tempat tinggalnya. Tiba-tiba kucing datang ke teras beliau dan berhenti di keset. Biasanya, kucing ketika berada di atas alas kain, langsung merebahkan diri. Tapi si kucing tetap dalam posisi duduk. Aku hanya memperhatikan, sedikit menduga apa yang akan terjadi. Ternyata dugaanku benar, si kucing mau buang air besar di situ. Aku hanya berbicara di dalam hati, "loh loh, kok mau poop disitu?". Saat si kucing mengambil ancang-ancang untuk buang air besar, terdengar suara dari dalam tempat tinggal si bapak tukang pijat. Si kucing kaget dan mengurungkan ancang-ancangnya.

Setelah keadaan sunyi kembali, si kucing siap-siap melakukan aksinya kembali. Si kucing ternyata masih ingin buang air besar di situ. Aku masih mempunyai rasa iba terhadap beliau meskipun tingkah lakunya sedikit menyebalkan, karena memang beliau punya keterbatasan. Terlintas ingin aku usir si kucing agar tidak buang air di keset agar beliau tidak kena "prank" ketika menginjak keset ternyata malah menginjak tai kucing. Tiba-tiba seperti ada yang membujuk dalam pikiranku, "halah ngapain diusir? Biar aja tai kucing disitu. Dia pantas kena tai itu. Toh selama ini dia menyebalkan." Aku bingung apakah aku mau membantu atau tidak. Dalam pikiranku seperti ada yang berdebat. Perdebatan itu semakin sengit sampai-sampai aku hanya bisa termenung melihat si kucing melakukan aksi tidak sopannya. Beberapa buah "poop" yang tidak aku hitung berhasil mendarat di keset. Dengan santainya dia menutupinya dengan bagian keset yang lain kemudian kabur.

Setelah itu terjadi, perdebatan yang tadi sangat hebat lenyap seketika dan menyisakan ampas di hati. Aku merasa sangat bersalah tidak mengusir si kucing. Rasa bersalahku semakin menjadi. Aku merasa bersalah kepada si bapak tukang pijat. Kalau aku mengusir si kucing, harusnya beliau tidak kena "prank" tai kucing. Padahal hanya sekedar bersuara "hush hush" si kucing pasti kabur. Ternyata aku selama ini merasa benar dan lebih dari beliau sehingga menghindarinya menjadi alasan agar aku tidak terpengaruh hal buruk. Tanpa sadar yang aku lakukan menimbulkan dendam halus dalam diri. Padahal selama ini aku berusaha berbuat baik kepada yang lain, ternyata berbuat baik yang pilih-pilih. Perbuatan baikku ternyata membuatku merasa paling baik dari orang yang menurutku tidak lebih baik. Inspirasi-inspirasi kehidupan yang aku baca dan tonton seperti tergambar kembali dan membandingkan apa yang baru saja aku perbuat. Percuma nonton yang "penuh daging" tapi ternyata sama saja kelakuannya.

Setelah itu, aku teringat ucapan yang aku dapat dari video instagram sore harinya pada hari itu. Kurang lebih seperti ini, "jika setan tidak bisa membuatmu jahat, setan akan membuat merasa paling baik dan benar dan lebih dari yang lain-lain." Sungguh ternyata Tuhan telah mengingatkanku di awal tapi tidak kusadari. Sungguh Tuhan telah mengingatkanku tidak cuma dengan ilmu di buku atau video, tapi dengan kehidupan nyata. Bahkan seekor kucing yang buang air sembarangan bisa mengingatkan kalau aku bukan manusia yang baik-baik amat.

Apapun yang kamu lihat dan temui, bisa jadi itu pengingat agar kamu waspada dan tidak lengah. Bersyukurlah orang-orang yang peka dengan hal-hal tersebut.


Rabu, 16 Maret 2022

Untuk Istriku

 


Usia pernikahan empat tahun itu adalah awal dari kebangkitan kita, Sayang.

Tadi siang aku mengucapkan kalimat itu pada Istriku. Bukan membual, tapi adalah doa tulus setelah lika-liku yang kami alami selama empat tahun ini.

Awal pernikahan adalah transisi kehidupan yang luar biasa berat untuk dicerna. Dari seorang bujangan menjadi seseorang yang tiba-tiba harus berbagi segalanya dengan orang lain bukanlah proses yang mudah untuk dilewati. Ego pun menjadi peran utama yang sangat mendominasi. Terutama masalah finansial.

Uang layaknya bahan bakar mesin yang akan membuat kita bertenaga atau tidak dalam menjalani kehidupan. Ketika bahan bakar itu dibagi, maka terbagi pula tenaga kita. Dan pada saat itu terjadi, egolah yang pertama kali menghasut untuk bertindak semaunya. "Tadi buat apa aja uangnya? Kok beli ini sih? Ini kan gak guna? Jangan boros-boros lah, gimana sampai akhir bulan?" Itulah sederet contoh pertanyaan yang muncul begitu saja tanpa dipikirkan apa efek setelahnya. Mungkin saat itu istriku sakit hati, kaget, sedih atau yang lain yang aku tidak pernah perhatikan. Tapi itulah proses transisi dari seorang lajang menjadi seorang yang berumah tangga. Merasa menjadi kepala keluarga kemudian bisa mengatur segalanya. Ada semacam rasa "tidak ikhlas" kalau uang yang aku hasilkan dibagi dengan orang lain. Mungkin itu perumpamaannya.

Tapi lambat laun, aku mengerti seperti apa Istriku dan bagaimana sifatnya - apa yang membuatnya sedih dan bahagia. Dengan banyak proses yang muncul begitu saja, sering kali hatiku terenyuh melihatnya bersedih atas kelakuanku, meskipun tanpa bicara. Begitu saja aku tahu kapan dia sedih dan kapan dia bahagia. Itukah ikatan batin? Mengerti tanpa harus bicara? Bukan! Aku sangat sadar diri karena terlalu sering membuatnya bersedih.

Setelah berbagai macam kejadian, aku sedikit demi sedikit bisa menurunkan egoku. Memang tidak mudah, sekali dua kali masih keceplosan, tapi tidak separah awal-awal. Tapi memang aku menyadari, berumah tangga itu adalah menyatukan dua pikiran yang berbeda, tidak akan selalu sama dan akan selalu ada bentrokan. Sekali lagi tanpa banyak bicara, kami bisa memahami satu sama lain. Untungnya Tuhan menganugrahi kami sifat yang ketika cek-cok, kami tidak saling berteriak. Kami hanya diam sampai ego kami benar-benar mereda dan kemudian membicarakannya.

Percek-cokan itu ternyata semakin berkurang dengan terbentuknya janin di rahim istriku. Fokus kami lebih ke kesehatan calon anak pertama daripada ke hal remeh yang sering diperdebatkan. Pembicaraan tentang bayi dengan segala pembahasan menjadi topik hangat yang selalu membuat kami menjadi sangat mesra. Tuhan sangat berbaik hati, selalu berbaik hati bahkan. Alhamdulillah.

Apalagi menjelang proses kelahiran, ego kami mulai mereda drastis. Aku sadar aku orang yang sangat egois dalam beberapa kondisi, tapi aku memaksakan menutupinya hanya untuk tidak membuat Istriku bersedih, karena kesehatan janin juga sangat berpengaruh pada kondisi emosional Ibunya. Aku menjadi lebih sering mengalah tanpa disadari dan Istriku juga terlihat berubah menjadi seorang yang lebih dewasa. Kami tidak lagi sering memperdebatkan masalah remeh-temeh. Fokus kami adalah kebahagiaan yang akan lahir dari rahim Istriku.

Kelahiran anak pertama benar-benar membuatku terharu. Terharu akan perjuangan Istriku dan paras anak pertamaku yang baru lahir. Aku tidak menyangka Istriku adalah seorang yang kuat, bahkan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental menjadi seorang Ibu. Banyak cerita dari manapun, kalau perempuan yang mengandung itu merasakan sakit yang luar biasa. Banyak juga yang mengeluh dari level tinggi sampai terendah. Tapi, Istriku hampir tidak mengucapkan keluhan sedikitpun! Sakitnya dia nikmati, semuanya prosesnya dia syukuri, dan itu yang membuatku selalu terharu kalau mengingatnya. Segala Puji bagi Tuhan Engkau telah menganugrahiku seorang perempuan pendamping hidup yang sangat kuat! Dengan segala keterbatasan dan kejelekanku, kekuatan istriku menjadi obat mujarab yang melengkapi. Dan paras anakku yang baru lahir. Aku menangis ketika mengumandangkan adzan di telinganya. Ternyata bayi baru lahir adalah lukisan sekaligus nyanyian yang sangat indah. Semua ego terkuras habis saat itu. Magis yang indah.

Tapi memang bagaimanapun, pernikahan adalah menyatukan dua kepala yang berbeda, tidak akan seterusnya klop. Saat-saat merawat dan membesarkan bayi adalah momen yang sangat indah sampai-sampai kami lupa kebutuhan pribadi masing-masing. Dan proses itu pun masih dibarengi dengan ego kita yang sesekali berbentur. Namun setelah itu kami tahu bagaimana cara mengatasinya dengan cepat.

Tahun pertama, kedua, ketiga, pernikahan kami mulai bisa menyesuaikan diri dengan beberapa keadaan rumah tangga secara alamiah. Itu terjadi begitu saja dengan proses yang kita lewati. Saat mentalku di bawah, istriku menjadi penyemangat ulung. Saat Istriku bersedih, spontan saja aku berusaha mencairkan suasana. Kami semakin tahu dengan peran masing-masing sebagai suami dan istri. Tidak sesempurna seperti pasangan ideal yang ada di cerita-cerita fiksi, tapi aku percaya semua punya jalan cerita masing-masing dengan segala proses lika-likunya. Begitu juga pernikahan. Bukan kesempurnaan hubungan yang dicari, tapi tentang semangat membangun bersama dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi. Couple goal? What the hell! Aku percaya tidak ada ada standar sebuah hubungan ideal! Semua punya kondisinya masing-masing.

Kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya anak kedua. Tuhan selalu berbaik hati. Setelah anak kedua lahir, tantangan berikutnya dalam berumah tangga menjadi bertambah level. Selalu ada saja kejadian yang membuat kita drop mental dan berujung perdebatan. Ego mulai menguasai lagi, kami sesaat hampir lupa bagaimana menyelesaikannya. Entahlah, banyak kejadian mulai melemahkan semangat kami. Yang kurasa memang lebih berat daripada sebelum anak kedua lahir. Tapi Tuhan selalu berbaik hati menghadirkan solusi penyelesaian semua pertikaian. Dan salah satunya ada kedua anak kami. Geraknya, tawanya, suaranya, tangisannya, parasnya, pertumbuhannya, adalah obat segala pertikaian antara kami sebagai pasangan suami istri.

Akhirnya, dengan segala prosesnya, kami menapaki empat tahun pernikahan. Alhamdulillah, hari ini, 16 Maret 2022 adalah ulang tahun pernikahan kami. Dengan tersenyum, kami menyambut hari ini, tanpa perayaan seperti kebanyakan orang. Tadi pagi Istriku mengecup keningku dan mengucapkan "Happy anniversary, Sayang." Aku tidak membalas, sengaja memang (Hehe, maaf ya, Sayang). Karena aku sudah menyiapkan ide menulis ini untuk mengucapkan, agar hari ini terkenang dengan waktu yang lama, agar nanti anak-anakku bisa membacanya, dan mengetahui betapa bahagianya kami sebagai pasangan dan sebagai orang tua, lewat sebuah tulisan.

Selamat empat tahun pernikahan, Istriku. Kita memang tidak pernah sempurna sebagai individu atau pasangan. Tapi percayalah dua ketidaksempurnaan yang bertemu akan menjadi sempurna dengan caranya sendiri, seperti rumus matematika, minus bertemu minus selalu menjadi plus.

Sayangku untukmu selalu, Bia.


Selasa, 15 Maret 2022

Voice Of Baceprot - [Not] Public Property : Kualitas Naik Kelas!

 


Kalau saya punya kuasa dalam menobatkan lagu terbaik Indonesia tahun ini, maka inilah dia lagunya!!!

Perjalanan VOB patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Dari awal karir dengan kekuatan sosial media, sampai kualitas lagu yang sekarang, benar-benar menginspirasi banyak musisi terutama musisi perempuan dan muda.

Lirik yang mereka usung selalu bertema sosial. Dengan musik distorsi tebal, bass betot slapping-an, dan dobel pedal, sepertinya akan sangat aneh memainkan lagu pop penuh nuansa asmara. Pas-lah lirik yang mereka suarakan dipadu dengan jiwa musik mereka. Di lagu ini, saya mendengar begitu kental nuansa lirik yang diusung Rage Against The Machine. Kalau mengulik dari awal bermusik mereka, memang beberapa lagu RATM seperti Killing In The Name Guerilla Radio sempet mereka bawakan dan viral di sosial media sampai akhirnya mendapat respon dari sang gitaris langsung, Tom Morello. Dan dari beberapa wawancara, mereka memang mengakui RATM menjadi salah satu pengaruh terbesar mereka dalam bermusik.

Oke, sekarang kita bahas kenapa lagu ini menjadi sangat menarik.

Intro lagu ini sangat kental dengan riff musik Metallica. Mungkin tanpa melihat video mereka, hanya mendengarkan lagu ini, kita akan mengira ini Metallica lagi bikin lagu baru. Dan setelah melihat visualnya, wow, pasti kita kaget ternyata yang bermain musik adalah tiga perempuan berparas imut, berjilbab pula.

Masuk ke bagian vokal mulai masuk. Nuansa musik langsung berubah groovy dengan beat drum yang catchy ala Chad Smith-nya RHCP, dan permainan bass yang sangat memukau dengan teknik slapping ala-ala Flea. Dari Metallica langsung anjlok ke RHCP? What a transition!!!

Masuk ke bagian bridge, bagian sebelum reff, nuansa rock and roll scale pentatonic, dengan beat ala-ala metal dobel pedal, sangat memacu adrenalin saat mendengarnya. Dan masuk bagian reff, nuansa musik System Of A Down langsung terasa kental dengan ciri khas perpindahan nada yang tidak umum berada di lagu-lagu populer.

Setelah reff pertama, dilanjut dengan riff gitar nuansa Metallica, lagi. Saya kira bakalan dilanjut dengan vokal masuk, eh ternyata ada bagian solo part dari gitaris. Dan, sedikit mengejutkan! Saya mendengar suara gitar solo Kurt Cobain-nya Nirvana! Uniknya, bass yang mengiringi masih model Flea saat ngebetot bass. What a blend!

Bagian song dengan nuansa musik Red Hot Chili Pepper langsung menyambut. Setelah itu disambut bagian bridge seperti sebelumnya.

Yang sangat mengejutkan, setelah bagian bridge dilanjut dengan rap ala-ala RATM yang diramu sangat ciamik, kuat dan menohok! Lirik yang dinyanyikan di bagian ini adalah penegasan dari semua pesan yang mereka suarakan di lagu ini. Bagian ini, di otakku yang sedang mencerna saat mendengarkan, menjadi klimaks dari lagu. Yang awalnya dimanjakan dengan nuansa lagu yang sangat bervariasi dan melimpah, kemudian bertemu bagian klimaks ini, seperti makan bakso yang isinya tidak cuma pentol. Pertama coba kuahnya, kemudian mienya, kemudian tahunya, kemudian somaynya, dan diakhiri dengan makan pentolnya. Benar-benar sensasi pengalaman yang melekat di pikiran.

Setelah bagian klimaks, dilanjut dengan bridge dan reff seperti sebelumnya. Kejutannya tidak sampai di situ, bagian yang benar-benar terakhir dari lagu ini, sang vokalis memakai teknik growl yang biasa ada di musik grind metal, death grind, atau semacamnya lah. Dan yang membuat unik, teknik growl itu disambut dengan backing vocal ala-ala idle pop cewek yang ceria semacam Babymetal. Teriakan ceria di akhir lagu pun mengiringi sampai akhir. Sepertinya memang unsur ini disengaja untuk mengingatkan pendengar, meskipun metal yang mereka mainkan, mereka masih perempuan muda yang ceria. Metal can be fun, right?

Kenapa lagu ini sangat membekas di pikiran saya? Karena tatanan sound-nya! Kalau melihat dari lagu sebelumnya, lagu ini sangat berbeda! Mendengarnya seperti mendengar band-band rock kenamaan dunia.

Nuansa soundnya benar-benar mewah, renyah dan nendang. Seperti semua instrumen keluar tapi dapat tempatnya masing-masing, tidak ada tabrakan sama sekali, semuanya terdengar dan tidak bercampur aduk.

Apa yang terjadi dengan tatanan sound mereka di lagu ini? Saya bela-belain buat mengusut siapa di balik lagu ini sampai terdengar sangat profesional dan berkelas.

Tentu saja saya terkejut mengetahuinya. Di balik lagi ini, ternyata ada dua nama sound engineer yang namanya sudah melegenda dan menangani tatanan sound banyak musisi dunia. Di bagian mixing digarap oleh Tue Madsen yang pernah menangani mixing dari Behemouth, Suicide Silence, bahkan Babymetal. Dan di bagian mastering digarap oleh Howie Weinberg yang reputasinya lihat saja di Google. Kamu akan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa orang yang menggarap mastering ratusan lagu Iron Maiden, bahkan album Nevermind-nya Nirvana, bisa andil menggarap mastering dari lagu Band yang baru terdengar namanya di dunia Internasional dan bahkan baru rilis beberapa lagu baru secara official. Hey VoB, kalian kok bisa sih kenal ni orang-orang kawakan musik dunia? Bayar berapa sih buat garap lagu di mereka? Sampai tulisan ini dibuat pun, mengingat fakta itu tetap membuat saya geleng-geleng kepala dan takjub bahagia.

Yang pasti, VoB menetapkan standar yang sangat tinggi untuk musik di Indonesia. Seperti mereka ingin bilang, "Gini loh harusnya musik Indonesia!!!"

Sekali lagi, buat saya, ini adalah lagu terbaik Indonesia tahun ini dan akan melegenda, setidaknya di hati saya.

Selamat, Voice of Baceprot! You Rooooock!!!

Berantakan

  Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...