Aku bingung kenapa majikanku tiba-tiba mengajakku pindah ke tempat baru. Karena aku penurut, maka aku menuruti saja apa yang mereka kehendaki. Kalau pindah ya ikut pindah. Kalau tinggal ya ikut tinggal.
Majikanku hanya tinggal bersama anak perempuannya. Entah kenapa Nyonya tidak terlihat sama sekali sudah lumayan lama. Mungkin sedang bekerja entah dimana. Yang aku tahu, mereka, Tuan dan anak perempuannya sangat bahagia meskipun sepertinya keadaannya susah.
Aku bisa menyimpulkan susah karena sejak Nyonya tidak terlihat, kualitas makananku menurun, bisa dibilang seadanya. Dulu, makananku adalah makanan bermerk yang mungkin harganya sangat mahal. Setiap hari makan itu rasanya sangat nikmat. Giziku juga terpenuhi dan gerakku menjadi sangat ringan dan lincah. Saat Tuan mulai menuangkan makanan di tempat makanku, jangankan rasanya, bunyi makanan saat dituangkan pun juga terdengar menggugah selera. Momen itulah yang selalu membuatku semangat. Tapi itu hanya masa lalu yang indah. Sekarang? Aku hanya makan seadaanya. Mungkin itu adalah makanan sisa Tuan dan anak perempuannya. Kadang aku hanya mendapat tulang ayam dengan nasi. Kadang juga kepala ikan tanpa nasi. Kadang roti. Pokoknya, menu makananku selalu berubah dan kurang menggugah seleraku. Mau bagaimana lagi? Aku hanya piaraan yang menunggu uluran tangan Tuanku.
Tapi aku tetap merasakan kasih sayang tulus dari Tuanku. Meskipun makan seadanya, dia melarangku mencari makan di tempat sampah. Mungkin biar aku tidak sakit. Dia juga mengajakku ke tempat tinggalnya yang baru. Meskipun cuma kamar kos yang kecil, aku turut diajaknya.
Tak lama kemudian aku mengerti mengapa Tuanku harus pindah. Sejak Nyonya tidak terlihat, Tuan mengalami masalah dengan keadaan ekonomi. Yang Tuan makan setiap hari tidak pernah berbau daging, atau telur, atau yang berbau amis. Seingatku, baunya seperti tempe, tahu dan kuah yang tidak berbau amis. Sesekali memang berbau amis telur, tapi itu dimakan oleh anak perempuannya. Sampai akhirnya, Tuan mendapat pekerjaan baru sebagai penjual makanan berbahan telur. Untuk menghemat biaya, mungkin akhirnya Tuan memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih dekat dengan lokasi pekerjaannya, dan tentunya lebih murah.
Aku senang sekali dengan pekerjaan Tuan yang baru karena selalu berbau amis telur. Tapi aku tidak berani meminta karena tidak ingin merepotkan Tuan yang sedang sibuk melayani pembeli. Aku hanya bisa menunggu sambil tiduran di dekat gerobak untuk menjual jajanan telur tersebut. Aku juga tidak mau dekat-dekat dengan gerobak Tuan, takut pembeli malah tidak berani mendekat ke tempat berjualan Tuan. Tuan memang tidak bilang itu, tapi sorot matanya sudah cukup untuk memberitahuku. Karena yang aku lakukan itu juga lah, kadang Tuan berbaik hati memberi sedikit jajanan telurnya. Ah, senangnya. Rasanya lama sekali aku tidak makan telur sebanyak itu.
Tapi di tempat baru, selalu ada tantangan baru. Di tempat baruku, mulai awal menjejakkan kaki di sana, aku sudah mencium bau kencing anjing lain. Itu pertanda daerah tersebut sudah dikuasai. Benar saja dugaanku, baru awal masuk daerah tersebut, setelah mencium baunya, aku disambut dengan gonggongan anjing yang jumlahnya lebih dari satu. Ternyata mereka dikurung oleh majikannya. Meskipun tubuh mereka lebih kecil, suara mereka sangat berisik dan nyaring. "Hey siapa kau? Pergi dari sini!" Teriak salah satu dari mereka. "Hey jelek. Berani banget kamu masuk sini." Gonggong yang lain yang memang bulunya terawat, tidak sepertiku yang sudah penuh luka sana sini. Ingin hati melawan cercaan mereka, tapi lagi-lagi sorot mata Tuan berbicara. Dia seperti bilang, "Tidak usah dilawan. Kamu ada di daerah anjing lain. Jaga sikap. Ada Tuan di sini. Kamu aman." Aku ciut dengan sorot matanya, tapi aku percaya pada Tuanku.
Pernah suatu hari, aku mau berjalan-jalan karena tiba-tiba bosan menunggu Tuan berjualan. Tuan juga sedang menunggu pembeli yang cukup lama tidak datang. Karena tidak ada yang membeli, jadinya tidak bau telur. Makanya aku bosan. Aku memutuskan untuk mengitari daerah sekitar tempat tinggal baruku. Baru saja berjalan beberapa langkah, semua anjing pemilik rumah kos menghadang. Mereka berjumlah sekitar enam. Meskipun kaget, aku tetap tenang. Mereka mulai bersuara lagi. Hanya berisik yang aku dengar, karena semuanya mengonggong bersamaan. Apalagi pemimpin mereka, aku panggil si Jabrik karena bulunya runcing naik ke atas, suaranya sangat lantang dan melengking. Menghadapi situasi seperti itu, aku bingung harus melawan mengonggong, atau lewat saja tidak mempedulikan.
Akhirnya aku memutuskan untuk melewati saja mereka tak acuh. Aku berjalan beberapa langkah, tapi mereka malah merangsek maju dengan gonggongan lebih berisik. Tanpa sadar aku juga mengerang menantang. Aku tahu gonggonganku lebih keras dan tubuhku lebih besar, jadi aku tidak takut.
Namun eranganku lenyap seketika saat mencium bau badan Tuanku. Aku langsung menoleh dan betul dia sudah di belakangku. Ternyata Tuan langsung mengelus kepalaku dan menatap para anjing yang menghadang. Entah kenapa mereka seperti tidak takut, tetap menggonggong meski tidak melanjutkan langkahnya untuk menghampiri. Sepertinya gonggongan mereka memancing majikannya untuk keluar melihat situasi. Melihat mereka terus membuat bising, majikannya kesal dan menyuruh masuk. Nyali mereka langsung ciut dan menuruti perintah majikannya meski masih mengonggong sekali dua kali. Pintu langsung dikunci dan mereka terkurung kembali.
Jalanku sudah aman. Sebelum kembali ke tempat berjualan, Tuanku mengelus dan menatapku sebentar. Matanya seperti bilang, "Aman. Kamu lanjut ya." Aku jawab dengan gonggongan pelan. Aku mulai menjelajahi daerah tempat tinggal Tuan yang baru. Bentuknya adalah komplek kos dengan kamar-kamar berjumlah lebih dari sepuluh. Ternyata tidak semua wilayah komplek kos dikuasai oleh anjing-anjing pemilik kos. Aku tidak mencium bau mereka di sekitar pojokan komplek. Sepertinya aku aman di sana. Beruntungnya, di salah satu pojokan ada keran air yang airnya selalu menetes, entah bocor atau bagaimana. Aku bisa minum di sana tanpa menunggu diberi oleh Tuan. Tapi aku juga mencium banyak bau manusia. Aku harus menunggu sampai sepi untuk bisa ke sana, takut kalau mereka mengusirku. Siapa tahu mereka lebih galak dari anjing-anjing penjaga yang resek dan berisik.
Dugaanku sedikit tepat. Pernah suatu malam setelah Tuan selesai berjualan, aku rebahan di depan kamarnya. Aku terkejut para anjing penjaga datang ke komplek kos. Pemilik kos melepas mereka saat tengah malam. Tahukah apa yang mereka lakukan? Mereka buang air besar sembarangan. Astaga, dasar para anjing tak beretika. Aku juga anjing, tapi kelakuanku tidak seperti itu. Aku masih tahu tempat untuk melakukan ritual tersebut. Dan ada salah satu penghuni kos yang "ngeh" dengan kehadiran mereka. Langsung saja dia keluar dan berteriak mengusir. "Heh, heh, pergi, pergi, hush, hush." Suaranya yang lantang memecah keheningan malam. Padahal, sepertinya penghuni kos yang lain sudah terlelap. Aku heran si pengusir tersebut bisa berteriak lantang saat semua sudah mulai beristirahat. Para anjing penjaga akhirnya kaget dan kabur tunggang-langgang. Pantas saja bau mereka tidak tercium di sekitar situ, ternyata ada yang lebih galak. Kalau aku mau kesana untuk minum, sepertinya gerak-gerikku harus sesenyap mungkin dalam keadaan sesepi mungkin. Aku takut nasibku seperti para anjing penjaga, apalagi dengan tampilanku yang penuh luka.
Tapi tidak semua penghuni kos seperti si pengusir. Pernah suatu ketika aku ingin menuju keran air tempat biasa aku minum. Mendekati lokasi, aku terkejut ada salah satu penghuni kos sedang duduk di teras sambil merokok. Mata kami sempat saling beradu pandang. Aku takut diteriaki dan diusir tapi aku lanjutkan saja langkahku pelan. Ternyata, dia diam saja membiarkanku. Nasibku beruntung sekali bertemu dengannya, bukan si pengusir yang pernah aku lihat. Aku jadi membuat kesimpulan, para anjing penjaga yang berisik tidak disukai karena mereka tidak berkelakuan baik. Buang air sembarangan membuat mereka diusir.
Aku semakin membulatkan tekad untuk melindungi daerah komplek kos, tidak hanya kamar milik tuanku. Saat tengah malam, aku tidak pernah tidur untuk berjaga siapa tahu ada orang jahat menyelinap. Untuk sementara selama aku tinggal di sana, belum ada kejadian kejahatan yang terjadi. Tapi aku selalu berjaga saat malam hari, menjaga keamanan daerah tempat tinggalku, berharap para penghuni kos yang lain menyukaiku.
Harapanku ternyata belum terwujud. Pernah di suatu siang, aku sedang merebahkan badan menemani Tuan berjualan dari kejauhan. Tiba-tiba datang salah satu penghuni kos yang pernah aku temui dan membiarkanku lewat menuju keran air. Kali ini dia berjalan bersama anak laki-lakinya yang masih kecil. Tampak si anak membawa bungkusan makanan berwarna-warni yang sangat menarik perhatianku. Karena kupikir mereka baik dan tidak keberatan dengan kehadiranku, aku mengikuti mereka. Tidak berharap menerima makanan dari mereka, aku hanya tertarik pada bungkus warna-warni yang si anak pegang. Aku ingin mengajak bermain, jadinya aku mengikuti. Tak kusangka si penghuni kos mengusirku. "Hush hush!" Ucapnya pelan. Tapi si anak tertawa dan aku sangka mereka mengajak bercanda. Jadinya aku ikuti mereka lagi dengan lebih sumringah karena selama ini aku tidak punya teman untuk bermain.
Di luar dugaanku, si penghuni kos yang kupikir mau bermain denganku mengusir dengan suara lebih lantang. Mataku terbelalak sedih. Ternyata mereka tidak ingin bermain denganku. Mereka masih belum menerimaku. Meskipun si anak tetap tertawa melihatku, raut muka si bapak seperti marah. Kemudian aku mundur dan kembali ke Tuanku.
Susah sekali menjadi anjing. Apalagi anjing berpenampilan buruk penuh bekas luka sepertiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar