Selasa, 22 Juli 2025

Berantakan

 


Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (gadget, handphone, smartphone, dsb.) Di sisi yang sangat damai, aku sangat menikmati setiap letak mainan yang berserakan. Di sisi yang memusingkan, aku capeeek! Hahaha. Harus bersihkan lagi, rapikan lagi, inikan lagi, itukan lagi.

Benar, aku menikmati para mainan yang tiduran di manapun mereka ingin. Aku menikmati karena rasa bersyukurku; anakku akhirnya bisa move-on dari ketertarikannya pada smartphone. Ku pikir akan sangat mustahil untuk melepaskan mereka dari itu semua (adiksi terhadap Youtube, games, dll). Ternyata kami, sebagai orang tua, bisa membelenggu ketergantungan mereka.

Berawal dari kasihan, kami memberikan kenikmatan menggunakan smartphone pada anak-anak. Meskipun sebenarnya, selain kasihan, kami juga ingin cara yang sangat mudah agar anak tidak rewel. Aku yakin, semua orang tua yang mudah saja membekali anaknya dengan smartphone adalah tipe orang tua yang tidak mau ribet menangani anak. "Kasih aja hape, biar gak ribet, biar ga macem-macem tingkahnya, biar gak nyusahin kita." Aku yakin alasannya adalah itu, karena aku pun juga begitu.

Sebagai orang tua yang baru belajar, pasti merasakan bagaimana susahnya menangani tingkah anak yang "nakal". Lama-lama, setelah merenungi itu semua, anak-anak yang sedikit bertingkah dan merepotkan bukanlah anak nakal. Mereka hanya belum tahu mana yang baik dan buruk, boleh dan tidak. Ditambah dengan rasa penasaran yang besar akan banyak hal.

Tentunya karakter setiap orang, setiap anak, berbeda-beda. Aku menyebutnya bawaan lahir. Tuhan sudah membubuhi karakter itu bahkan sebelum anak lahir ke dunia. Dan tidak semua anak punya karakter yang penurut, pendiam dan kalem, kan? Kalau kau mendapatkan anak seperti itu, rajin belajar tanpa tingkah laku yang macam-macam, selalu nurut, mudah diatur, itu sungguh kemudahan yang luar biasa nikmat. Jalanmu mendidik anak akan sangat ringan. Bagaimana kalau sebaliknya? Anakmu keras, malas dan terus bergerak mengutak-atik banyak hal (a.k.a. membuat kekacauan)? Ya betul, akan sedikit berat. Hahaha. Dan aku juga mengalami hal itu, Bro, Sis.

Aku dianugerahi dua anak. Yang pertama, si kakak, meskipun aku manjakan dia dengan gadget dari usia satu tahun, ketikan ku hentikan aktivitasnya bermain smartphone, dia tidak berontak, atau meraung-raung, atau merengek meminta lagi. Tapi yang kedua, si adik? Haduh, ku pikir akan sama dengan si kakak. Ternyata aku salah menilai. Maklum lah ya, orang tua yang masih belajar. Ternyata si adik punya karakter rebel. Kalau tidak terima akan sesuatu, seperti tiba-tiba ku ambil smartphone dari tangannya, dia akan berontak, menangis dan sebagainya. Apapun akan dia lakukan sampai dia mendapatkan apa yang diinginkan.

Contohnya ya seperti yang ku sebutkan di atas; menghentikan aktivitas bermain gadget. Aku memanjakan si adik dengan smartphone. Lambat laun akhirnya dia tahu bahwa itu sangat menyenangkan. Lama-lama dia merasa butuh itu. Bangun tidur, yang diminta hape. Mau makan, selesai makan, yang diminta hape. Bangun tidur siang, hape. Everytime hape lah pokoknya. Daripada merengek dan berisik, kasih hape aja kan ya?

Awalnya, ku pikir menggunakan hape terlalu sering tidak banyak berpengaruh apa-apa, seperti si kakak. Dia malah tahu banyak hal dari Youtube. Tontonan yang sering dia lihat masih berbau edukasi; bahasa Inggris lah, angka dan huruf lah, dan banyak lagi tontonan edukatif lainnya. Tapi aku melupakan satu hal, ketertarikan anak berbeda-beda, tergantung karakternya masing-masing.

Sempat ku lihat tontonan anakku yang kedua, ternyata tidak sama dengan si kakak. Yang dilihatnya adalah video-video akting konten kreator anak, sebut saja drama-dramaan. Temanya macam-macam, kebanyakan tidak jelas. Berusaha lucu tapi tidak lucu, berusaha sedih tapi tidak sedih, resolusi gambar ya begitu lah, cuma direkam pake smartphone, serba ala kadarnya. Si adik menyukai adegan drama-dramaan macam itu. Sampai akhirnya aku menyadari, tontonan-tontonan itu yang hampir membentuk perilakunya.

Aku contohkan adegannya seperti ini. Misalnya ada adegan ibu dan anak (pemerannya juga anak-anak semua). Ibu: I, anak: A.

A: "Asiiik, aku main hape.""

I: "Hey, kamu tidak boleh main hape terus. Sini hapenya! Ibu mau belanja di Shopee."

(Kemudian hape direbut oleh si ibu dan si anak menangis)

A: "Heeeeeee (akting menangis). Ibu, aku mau main hape." (Masih akting menangis)

I: "Tidak boleh! Sana kamu main sama temen kamu aja."

A: "Gak mau Ibu (sambil nangis-nangis). Aku mau hape. Sini Ibu, hapenya (berusaha merebut hape dari tangan si ibu)."

I: "Dibilang gak boleh, ya gak boleh! (Akting marah ala anak-anak, sambil melotot dan manyun-manyun pula)"

A: "Ibu jahat sama aku, aku maunya main hape, Ibu gak sayang sama aku."

I: (Dalam hatinya dia berkata, kasihan anakku, sampai bilang kayak gitu ke aku. Ya sudah aku mengalah saja.) "Ya sudah Nak, ini hapenya biar kamu gak sedih lagi."

A: "Horee. Terima kasih Ibu. Aku sayang sekali sama Ibu."

Adegan itu, atau semacam itu, sangat mudah diserap oleh si adik. Mungkin dia tertarik dengan dunia akting, tapi dengan konten itu? Ya itulah senjatanya ketika menemui situasi yang serupa karena itu yang dia pikir benar dilakukan. Secara langsung maupun tidak, dia sudah "belajar".

Bahkan adegan ekspresif yang disajikan akan benar-benar diserap; menangis, tertawa, dan sebagainya. Eskalasi ekspresi yang dipraktekkan bisa jadi meningkat drastis dari tayangan dan akhirnya menjadi "senjata" untuk dia. Kalau orang tuanya "kalah", ketika dia menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya, senjata itulah yang terus dia pakai. Hal ini yang terjadi pada si adik, yang biasa orang bilang "Tantrum", bahkan "Tantroy". Tantrum parah Coy!

Aku dan istri juga sering berdiskusi memikirkan bagaimana caranya menghentikan ketantruman si adik. Karena akhirnya, kebiasaan menangis meraung-raung itu tidak cuma soal gadget, merambat ke hal lain juga. Misalnya, minta kue cokelat, aku tahu dia sedang batuk, kemudian aku melarangnya. Dia akan menangis sejadi-jadinya dan akan terus seperti itu sampai keinginannya terpenuhi. Sampai suatu saat yang paling parah, dia bisa menangis sambil menjerit-jerit dan guling-guling tiduran di manapun; di jalan (pinggirnya ya, bukan tengahnya), di lantai mall, di manapun ketika dia memulai ritual tantrumnya. Lebih parahnya lagi, kebiasaan tersebut terbawa saat tidur. Orang biasanya mengigau ya biasa saja, ngomong ini itu, biasa saja. Tapi anakku, mengigaunya dengan marah-marah, tiba-tiba menangis, sampai akhirnya terbangun dengan tetap menangis dan marah-marah.

Separah itu? Betul. Kami juga pikir itu sudah sangat parah. Setelah sering berdiskusi, aku dan istri sepakat kalau kami sebagai orang tua, harus "tega" mengambil kebahagiaannya, yaitu handphone. Karena itulah akar kenapa anakku bisa punya perilaku seperti itu. Bagaimana kalau dia minta handphone dan tidak diberi, kemudian menangis sejadi-jadinya? Ya kami harus "tega". Kami menjadi raja dan ratu tega. Sungguh sebenarnya hati teriris-iris melihat tangisan anak yang menjadi-jadi, tapi ya mau bagaimana lagi? Demi kebaikannya sendiri saat dia besar nanti.

Berlangsung berapa lama? Entahlah aku tidak memperhatikan. Tapi rasanya lamaaaaa sekali menjadi raja dan ratu tega. Berbulan-bulan yang pasti, mungkin sampai setahun. Dan akhirnya kebiasaan itu berkurang juga, bahkan drastis. Lain kali ku beritahukan caranya.

Aku juga sudah menyadari apa yang akan terjadi ketika anak-anak sudah tidak bergantung lagi bermain gadget. Mereka akan bereksplorasi dengan imajinasinya dan langsung dipraktekkan. Referensi mereka ya pasti dari dunia sekitarnya. Salah satunya adalah televisi.

Seperti gambar yang aku cantumkan di atas, mainan peralatan masak yang berantakan, pasti hasil dari melihat kartun yang adegannya tentang memasak, jual-beli, dagang-dagangan, dan semacamnya. Alhamdulillah, aku pun punya inisiatif mendukung pengembangan imajinasi mereka. Misalnya, kedua anakku sedang mempraktekkan adegan pertarungan antara super hero dan monster. Tiba-tiba muncul ide untuk membuat topeng dari bahan seadanya. Katanya orang tua harus kreatif ya kan? Kalau tidak bisa buat ya beli. Seperti alat masak-masakan, gimana coba bikinnya? Hehe.

Aku juga menyadari konsekuensi dari eksplorasi imajinasi mereka adalah rumah akan sangat berantakan. Kok gak diajarin bersih-bersih? Merapikan mainan lagi? Sudaaaaah, Kawan. Sudah sangat sering, ribuan kali mungkin. Tapi ya, namanya anak kecil, habis main, capek, terus tidur. Mau marahin anak lagi tidur? Kami tidak setega itu ternyata. Akhirnya orang tuanya lah yang membereskan segala yang tercecer berantakan.

Capek kah? Ya iya laaah. Hahaha. Pulang kerja, disambut dengan mainan berserakan. Bangun tidur, disambut dengan senyuman anak yang sedang bermain, dan mainannya masih berserakan. Keluar sebentar, kemudian masuk rumah, disambut dengan hal yang sama, padahal tadi sudah dibereskan. Hadeeeh.

Tapi suasana berubah. Aku sudah jarang mendengar tangisan, amukan, rengekan seperti sebelumnya, saat tragedi tantrum terjadi. Ya sesekali mendengar tangisan, marah-marah, saat mereka, anak-anakku, berantem. Tidak tantrum, waktu main bareng, eeeh, malah berantem. Bisa pukul-pukulan beneran, akhirnya salah satu menangis, atau salah duanya. Kadang rebutan mainan, menangis lagi salah satu, atau salah duanya. PR lagi untuk orang tuanya kalau sudah seperti itu. Habis tantrum, terbitlah berantem. Hadeeeh. Ternyata susah ya jadi orang tua. Hahaha.

Cheers! Untuk kehidupan yang sangat menyenangkan ini.

Minggu, 20 Juli 2025

Besok Sekolah

 


Tak terasa besok hari senin dan kedua anakku sekolah. Tapi tahukah kalau aku sama sekali belum membayar uang sekolah mereka? Hahaha. Mau dibilang bingung ya bener, mau dibilang santai ya juga bener. Aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa berkolaborasi, dua sikap itu.

Bingung? Iya, betul. Aku bingung bagaimana harus mendapatkan uang dengan jumlah sekian juta. Perlu ku sebutkan jumlahnya? Gak usah sih kayanya ya. Meskipun nominalnya tidak sampai dua digit di depan, tapi juga di atas angka lima, rasanya lumayan berat untukku.

Bayangkan saja, setiap bulannya, uang atau pendapatanku sangat pas sampai akhir bulan. Kalau semisal ada lebih, dan berangan-angan untuk ditabung, ada saja kejadian-kejadian tak terduga yang akhirnya, uang hanya pas sampai akhir bulan. Tapi memang Tuhan menciptakan akal manusia untuk selalu berpikir. Rencana A gagal, maka harus dipikirkan yang B. Gagal lagi? Ya, C. Kalau perlu juga langsung direncanakan yang D. Begitu dan akan begitu seterusnya. Dan aku punya rencana selanjutnya.

Rencana selanjutnya, kalau tidak bisa membayar sejumlah uang itu langsung, maka akan ku cicil. Bisa? Alhamdulillah. Segala Puji Bagimu Ya Alloh, Engkau telah memberikan privilege kalau kami, orang tua Gatar dan Caca, boleh mencicil, karena istriku adalah seorang guru di yayasan yang sama dengan sekolah anak-anakku. Maka, solusi mencicil adalah hal yang paling nyata yang bisa kami lakukan. Bahkan, keistimewaan itu ditambah. Kami boleh mencicil berapapun dan kapanpun dengan jangka waktu yang lumayan cukup untuk kami. Untuk sebagian orang dengan keuangan berlebih, mungkin itu sebuah kenestapaan. Tapi untuk kami, itu adalah sebuah kegembiraan luar biasa. Ternyata bahagia bukan cuma materi. Salah satunya adalah menemukan solusi untuk masalah, apapun bentuknya.

Kalau mungkin nanti, ternyata mencicil tidak bisa dilakukan, ya akan kami cari taktik lain (ya, belum dipikirin sih, hahaha). Siapa tahu, kan? Tiba-tiba kebijakan berubah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tomorrow is mistery, right? Ah, nulis inggris, sok gaul banget gue. Nanti lah dipikirkan itu. (Untungnya) aku sudah belajar dan mulai memahami, dari apa yang sudah ku lalui, semua perbuatan dan rencana lebih menenangkan jika diawali dengan Bismillah dan tawakal. Semua yang terjadi Sang Maha-lah yang mengatur, itu yang selalu terlintas kalau pikiran jelek muncul.

Kemudian, poin selanjutnya, santai? Iya, betul, santai kayak di pantai, anjaaaay, kayak anak alaaay.

Sebenarnya sudah ku singgung secara tidak langsung kenapa aku bisa santai di paragraf sebelumnya. Tomorrow is mistery. And the mistery is only known by The Almighty. What can we do as human being? The creatures? Nothing! None of things existing in this world! Semuanya terserah-Nya, kan? Jadi buat apa kita bingung? Mending santai gak sih? Ya kalau sekedar berencana pasti dilakukan secara alamiah oleh manusia. Tapi ya, cuma sekedar berencana.

Jadi ingat kalimat yang menurutku sarkas tapi mengena, "Manusia yang berencana, Tuhan yang tertawa." Entah itu siapa yang bilang. Buatku, maknanya dalam. Kalimat itu, maknanya untukku, aku bisa saja berencana ini itu, berharap ina inu, tapi Tuhan akan menertawakanku karena melihatku terlalu berharap, terlalu meminta, terlalu percaya diri, terlalu ini itu dan sebagainya, sampai-sampai aku lupa Tuhanlah yang menentukan segalanya. Ujung-ujungnya, doaku bukan lagi meminta, tapi memaksa. Kadang akal pikiran menjadi se-arogan itu. Berusaha berpikir ini itu sampai lupa "Laa Hawlaa Walaa Quwwata Illa Billah".

Apakah aku malu menceritakan keadaanku seperti ini? Ah, tidak sama sekali, Kawan. Karena semua orang punya jalannya masing-masing. Semua orang punya filmnya masing-masing. Apakah dengan menulis ini aku ingin dikasihani? Alhamdulillah, tidak sama sekali, Kawan. Aku menulis ini karena tiba-tiba muncul perasaan berbagi kisah itu menyenangkan, syukur-syukur kalau bisa mengingatkan, bahwa Tuhan sudah mengukir kisah setiap insan dengan sangat super variatif.

Kalau kau masih melihat, sepertinya rumput tetangga lebih subur, sepertinya kau sedang kena tipu daya musuh abadi manusia. Rubahlah pemikiran kalau kau tidak lebih beruntung dari dia, karena semua hal selalu datang dengan dua sisi: tantangan dan kenikmatannya. Rumput lebih hijau memang sebuah nikmat. Tapi kau tidak tahu tantangan yang datang bersamanya. Siapa tahu tantangannya lebih berat dari yang kau hadapi sekarang. Asoooy, udah kayak ustadz dakwah aja gue, sok-sokan ceramah. Hahaha.

Aku juga menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri. Aku masih manusia biasa, belum terpapar badai cosmic luar angkasa yang akhirnya aku jadi mutan terus punya kecerdasan luar biasa macam Tony Stark. Aku masih sangat pelupa; sekarang ingat, kadang besoknya lagi sangat ingat, besoknya lagi lupa, dst, dst, dst. Begitu saja roda kehidupan. Tapi apapun itu, kehidupanmu, kalau kau selalu selidiki kenikmatannya, menyelesaikan tantangannya tanpa berlarut dengan sedih dan laranya, akan sama menyenangkannya kok dengan kehidupan orang lain yang kadang membuatmu iri. Susah? Ya jelas lah, Kawan. Tapi ingat, segala hal selalu datang dengan dua sisi, kan? Ada susah ya pasti akan muncul mudah, begitupun sebaliknya. Kalau kau merasa susah, jangan putus asa, pikirkanlah pasti akan muncul mudah pada saatnya. Kalau muncul mudah, jangan lengah dan terlena, karena pasti muncul susah pada saatnya.

Cheers! Untuk kehidupan yang menyenangkan ini.

Jumat, 18 Juli 2025

Pukul 20.20 di Bawah Langit Denpasar

 


Malam ini bintang begitu ramai

Pertunjukan kerlap-kerlip gemulai

Tak biasanya langit begitu elok

Semoga juga ada esok


Pertanda apakah ini?

Apakah langit merasa iri?

Dari kemarin tertutup mendung

Tak ada untuk dirinya yang bersenandung


Melihat gemerlap langit dari bumi

Tak sadar aku sedang meratapi

Kisah kehidupan yang berlalu

Kadang senang kadang pilu


Nasehat lama sudah banyak tertera

Kehidupan itu laksana roda

Selalu berputar sampai nanti

Yang disebut banyak orang, mati


Perputaran itu akan selalu terjadi

Pada siapapun di dunia ini

Kalau kau merasa tinggi sekarang

Sebenarnya kau menghadapi perang


Pertempuran antara nafsu dan nurani

Nafsumu mengajak menjauhkan diri

Lupa dengan Yang Maha Mencipta

Sampai dunia sangat kau cinta


Nuranimu terus membujukmu

Berkata semua itu palsu

Tapi kau malah membuatnya lemah

Terus mengotori hati yang fitrah


Tak sadarkah bagaimana ibadahmu?

Selalu berkelibat yang bukan Penciptamu

Yang fana telah menguasai

Saranku, tetaplah berhati-hati


Karena ada saatnya rodamu di sisi tanah

Kemudian kau menjadi lemah

Padahal kemarin kau busungkan dada

Seakan-akan kau penguasa dunia


Sayang seribu sayang kalau itu terjadi

Kesempatanmu di dunia cuma sekali

Aku cuma ingin berbagi

Berbagi kesadaran lewat tulisan ini


Kamis, 17 Juli 2025

Dongeng Untuk Caca

 


Kali ini, aku akan bercerita tentang pengalamanku dengan anak perempuanku. Rasanya hal ini perlu ku tulis karena sangat berkesan di hatiku.

Jadi ceritanya, dari dulu aku selalu ingin melakukan hal-hal yang ada dalam cerita dari buku-buku yang pernah ku baca. Salah satunya adalah mendongeng. Aku menganggap mendongeng untuk anak sebelum tidur sangat mengasyikkan. Aku merasa seperti menjadi orang tua yang utuh dan berguna dengan itu. Dari cerita-cerita yang aku baca, mendongeng adalah langkah awal mengaktifkan kreativitas anak, sehingga saat ia besar nanti, anak mengoptimalkan imajinasinya untuk berbuat sesuatu di masa depan. Bukankah imajinasi adalah langkah awal dari segala bentuk aktivitas?

Awalnya aku bingung, kapan aku bisa mendongeng seperti dalam cerita. Pertimbanganku, apakah anakku bisa mencerna apa yang aku ceritakan? Kapan anakku bisa memahami apa yang aku ceritakan? Terlalu banyak pertimbangan akhirnya tidak pernah mulai. Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa saat anak benar-benar lancar dan cakap berbicara lah ia bisa mencerna apa yang aku ceritakan. Itu hanya kesimpulan ngawurku saja. Dan akhirnya momen itu tiba.

Aku melihat anak perempuanku sudah sangat cas cis cus berbicara. Perkataan apapun bisa dia tiru. Yaa meskipun kadang aku agak geregetan dengan segala pertanyaan dan ceritanya. Aku melihat kesiapan pada anak perempuanku meskipun usianya baru beranjak empat tahun lebih sedikit.

Ide mulai mendongeng itu datang ketika menemani anak perempuanku tidur. Dia memilih tidur dikeloni aku daripada Bia-nya (Bia: Panggilan anak-anakku pada ibunya). Dia punya kebiasaan selalu mengoceh segala hal yang pernah dia tonton sebelum tidur; mulai dari lagu sampai dialog film kartun. Ku pikir, kenapa dia tidak menerima cerita dongeng dariku? Sekaligus aku bisa menyematkan nasehat-nasehat yang siapa tahu baik untuknya di kemudian hari, daripada meniru sesuatu yang tidak jelas arahnya kemana.

Kebingungan pertama muncul. Cerita apa yang akan ku sampaikan? Ah, dasar aku ini, orang yang kekurangan referensi cerita anak. Tidak satu pun muncul cerita anak dalam kepalaku.

Tapi selang beberapa menit, ide pertama muncul juga. Anak pasti suka dengan fabel, cerita hewan-hewan. Di saat anak perempuanku sedang nerocos tak karuan, terjadilah interaksi ini.

"Caca, Bapak punya cerita. Mau denger?" (Kedua anakku memanggilku Bapak. Aku yang minta itu. Entahlah, aku suka panggilan itu. Terdengar Indonesia banget.)

"Cerita apa, Bapak? Mauuu." Dengan ekspresi cerianya dia menimpali. Tak terlihat tanda-tanda mengantuk di wajahnya.

Nah, kebingunganku muncul kembali. Belum terpikirkan cerita apa di kepalaku. Aku sudah memikirkan hewan, tapi entah hewan apa. Jangan ditanya jalan ceritanya bagaimana, tokoh dalam cerita saja belum ketemu.

Tiba-tiba saja aku nyeletuk, "Pada suatu hari..." Kan, biasanya cerita anak-anak diawali dengan keterangan waktu tersebut. Itu muncul begitu saja dalam kepalaku. Kemudian aku lanjutkan dan mengalir begitu saja.

Lanjutannya, "..ada seorang anak perempuan bernama Cici tinggal di dalam hutan." Entahlah, tiba-tiba muncul nama itu. Mungkin karena mirip dengan nama panggilan anakku. 

"Di hutan tersebut, ada banyak sekali hewan. Ada kelinci, ada kupu-kupu, ada tupai, ada..."

"Ada singa gak, Bapak?" Aku kaget Caca menyela seperti itu. Di dalam kisah yang pernah ku baca, anak biasanya mendengarkan sampai habis dan akan bertanya setelah cerita selesai. Jadinya aku gelagapan melanjutkan dongeng.

"Eee..." Kenapa harus ada singa sih? Batinku. Ada-ada saja Caca ini. "Yaa, belum ada. Kan, Bapak belum selesai nyebut hewannya. Di hutan itu, juga ada semut, ada belalang, ada kucing, ada..."

"Harimau ada gak, Bapak?" Aih, Caca ini. Belum juga tuntas ceritanya, malah nyeletuk lagi dengan polosnya.

"Belum, Caca. Kan, Bapak belum selesai."

"Ya ya ya..." Polos sekali dia mengangguk-angguk.

Aku jadi bingung mau melanjutkan bagaimana. Imajinasiku buyar seketika gara-gara anak perempuanku yang cantik itu. Kan, bapaknya lagi semangat-semangatnya, sekarang malah kebingungan sendiri. Jadinya, aku lanjutkan membuat alur baru setelah menyelesaikan nama-nama hewan.

"Suatu hari..." Kan, jadi mengulang suatu hari lagi, kan. Ya sudahlah biar, "Cici ingin mengambil buah apel di hutan. Terus..."

"Buah apelnya di mana, Bapak?" Aduh! (Tepok jidat) Disela lagi olehnya.

"Ya di hutan, di pohonnya" Jawabku asal. 

"Pohonnya di mana?" Errgghh..Tidak jalan mulus dongengku kalau begini.

"Yaa, di hutan. Kan tadi Bapak bilang, Ca, di hutan."

"Ya ya ya..." Sekali lagi menggangguk polos.

"Terus, Cici ngajak kelinci untuk menemani, mengambil buah apel. Kemudian berangkatlah Cici dan kelinci menuju pohon apel yang buahnya lebat sekali." Ku tengok sekilas, mata Caca menerawang ke atas, pertanda dia sedang antusias membayangkan cerita.

"Pada saat perjalanan menuju pohon apel, tiba-tiba mereka mendengar suara 'eerrgghh..' (aku menirukan suara seperti erangan singa atau harimau) dari kejauhan. Mereka pun..."

"Nah, itu singanya, Bapak."

Aduh, diinterupsi lagi. Lagian, buat apa juga aku menirukan suara itu. Yaa, memang mirip singa atau harimau, sih. Tapi, kenapa mendongeng jadi terasa susah ya? Tidak seperti bayanganku saat membaca kisah di buku tentang dongeng anak dari orang tua.

"Yee, bukan singa itu. Udah diem dulu, Caca. Bapak kan belum selesai ceritanya."

Sebenarnya memang sudah terpikirkan itu suara singa atau harimau. Tapi kalau sudah tertebak, tak seru jadinya lah.

Aku lanjutkan ceritaku sebelum dipotong lagi. "Cici dan kelinci bingung. Suara apa itu? Cici berpikir sepertinya di hutan tidak ada singa. Apa itu suara singa? Tidak mungkin, pikirnya. Si Kelinci tampak ketakutan, tapi Cici tidak melihatnya. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba suara 'eerrgghh' itu muncul lagi (aku menirukan suara harimau ala kadarnya)."

"Nah, itu pasti harimau, Bapak."

Aih, Caca oh Caca anakku. Cerita belum selesai, Nak.

Dengan sabar sambil berpikir itu suara apa, aku menjawab, "Bukan, Caca. Denger dulu ceritanya."

"Ooooo..." Suara "O" bulat muncul dari bibir mungilnya yang berbentuk o juga. Matanya kembali menerawang, menuju cerita.

"Kemudia Cici bertanya, suara apa itu, Kelinci? Sepertinya aku tidak pernah mendengar suara itu. Kemudian Kelinci menjawab, tapi aku takut, Cici. Itu suara harimau atau singa."

Aku melihat sekilas ekspresi Caca saat mendengarkan. Tampak serius sekali dia mengikuti alur yang aku bawakan. Padahal, aku juga tidak tahu bagaimana cerita akan berlanjut.

Otakku terus berpikir dan langsung terucap dari mulutku, "Takut kenapa, Kelinci? Cici bertanya kepada Kelinci. Kemudian Kelinci menjawab, aku takut sama singa dan harimau. Kata hewan-hewan yang lain, mereka makan kelinci seperti aku. Cici menjawab, kamu jangan percaya mereka. Di hutan ini tidak ada singa atau harimau."

Sembari cerita sembari bingung, aku terus berpikir kelanjutannya. Begini ini jadi orang kurang referensi.

Aku melanjutkan, "Kemudian Cici mengajak Kelinci untuk mencari sumber suara. Cici begitu berani, tapi Kelinci terlihat sangat takut. Suara erangan itu berkali-kali muncul. Cici dan Kelinci terus mendekati suara. Semakin keras suara yang mereka dekati, semakin Cici bersemangat tapi tidak denga Kelinci yang semakin ketakutan. Dan ketika sangat dekat dengan suara tersebut, ada di balik semak-semak, wajah Kelinci sudah pucat. Cici langsung menyibak dedaunan, dan, taraaaa, ternyata hanya seekor kucing!"

Aduh, kenapa aku mengucap kucing? Mana ada kucing suaranya seperti harimau? Aku mulai berpikir keras apa yang harus dikatakan untuk melanjutkan. Aku lihat Caca mulai mengernyitkan dahi. Mungkin pikirnya, mana ada kucing suaranya seperti singa?

"Kemudian kucing itu berkata dengan suara serak mirip harimau (mana ada juga, kucing kalau serak mirip macan, pikirku), hai, Cici, hai, Kelinci. Tolong aku. Wajah si Kucing pucat. Tapi Kelinci sudah tidak pucat. Kemudian Cici menjawab, hai, Kucing, apa yang terjadi kepadamu? Si Kucing menjawab.."

Aku lama memberi jeda, karena aku pun bingung. Aku lihat Caca sebentar, wajahnya terlihat serius menunggu.

"Tolong aku, Cici. Tenggorokanku sakit (masih dengan suara yang aku buat-buat mirip harimau sakit tenggorokan). Aku tadi makan ikan dan tulangnya nyangkut di tenggorokan. Bagaimana ini? Tolong aku, Cici, Kelinci. Katanya si Kucing gitu." Lanjutku asal. Aku jadi bingung sendiri. Duh, lebih rumit lagi nanti ini, penyelesaian ceritanya.

"Tenang, Kucing, aku ada obatnya. Ini aku sama Kelinci mau ke sana. Tuh, kan, Kelinci, apa aku bilang? Di hutan ini tidak ada singa atau harimau."

Lagi-lagi otakku berputar-putar. Apa lagi ya? Apa lagi ya? Itu saja yang terngiang-ngiang di pikiran.

"Kemudian si Kucing bertanya, memangnya apa obatnya? Cici menjawab, ayolah, kamu ikut kami saja. Kamu nanti tahu. Tidak tunggu lama, mereka bertiga kemudian berangkat. Lima menit kemudian, pohon apel yang banyak buahnya sudah terlihat. Nah itu dia! Kata Cici. Nanti kalau kamu makan apel itu, pasti tulangnya bakalan keluar."

Mana bisaaa? Bagaimana logikanyaaa? Protesku ke diri sendiri. Caca juga terlihat mengernyitkan dahi, pertanda mungkin dia juga bingung. Kok bisa? Mungkin begitu pikirnya. Meskipun masih empat tahun, dia sudah tampak sangat kritis. Tapi kali ini, dia tidak menyanggah ceritaku.

"Setelah mereka sampai, Cici ambil apel dan memberikannya ke Kucing. Dan benar saja, setelah makan apel itu, kucing terbatuk-batuk dan ingin muntah. Saat muntah, terlihat tulang ikan juga keluar. Selesai batuknya, suara kucing langsung keluar. Meooooong. Suaranya jadi seperti kucing lagi. Selesai deh ceritanya."

Caca langsung menatap aku heran, kok sudah selesai? Begitu ekspresi wajahnya. Jujur aku juga bingung dan asal mengakhiri cerita, karena memang sudah mengantuk.

"Kok kucingnya gak ngomong, Bapak? Cuma meong aja?" Nah, aku sudah menduga pasti muncul pertanyaan ini. Aku juga bingung mau menjawab apa, masa aku revisi? Mana mata sudah lima watt lagi.

"Yaa, pokoknya, makanya Caca jangan makan sembarangan. Nanti tenggorokannya sakit juga."

Nah, lho, apa hubungannya juga? Hahaha. Aku tertawa dalam hati. Untungnya, Caca cuma bilang, "Ya ya ya, Bapak." Dia hanya bilang begitu, tanpa pertanyaan tambahan. Sepertinya, dia tidak ingin bertanya lebih karena aku sudah membahas kebiasaan buruknya, tidak mau aku ceramahi lebih panjang.

Seperti itulah dongeng pertama untuk anakku. Amburadul? Hahaha. Sepertinya memang begitu. Aku harus menambah referensi cerita kalau memang tidak mau bingung dan akhirnya ceritanya membingungkan. Mudah-mudahan jangan sampai ceritaku menyesatkan pemikiran Caca. Takutnya nanti dia bilang ke teman-temannya, "Kata Bapakku, kalau kamu batuk terus, makan apel aja. Bisa sembuh lho." Dan kemudian dipraktekkan oleh temannya, dan sakitnya makin parah. Hahaha. Jangan sampaaai itu terjadi.

Terlepas dari kacaunya dongengku, dan apapun efeknya untuk anakku, setidaknya aku sudah berusaha menjadi orang tua yang menyenangkan. Dan yang menyenangkan, aku tahu bahwa anakku menanti ceritaku selanjutnya.

"Besok cerita lagi ya, Bapak." Katanya.


Senin, 14 Juli 2025

Tiba-tiba

 Seakan-akan semuanya gelap

Padahal baru kemarin terang

Tak tampak benih-benih menghangatkan

Langsung berbalik begitu saja

Dari senyum menjadi tantrum

Ingin marah semarah-marahnya

Ini tidak adil! Ucapku dalam hati

Hidup sudah terbatas, masih dibuat jatuh

Tapi Sang Pencipta Maha Tahu

Bahkan isi ucapan hati terdalam

Tiba-tiba saja muncul nasehat

"Tuhan akan menguji hamba-Nya yang beriman"

Selentingan suara tak terucap itu menancap

Menancap di pikiran yang kurang cakap

Tapi cukup untuk membuatku merenung

Apa ujian ini menandakan aku orang beriman?

Tanyaku senyap diiringi rasa bangga tak pantas

Apa ini hanya balasan karena kesalahanku?

Memang apa yang sudah ku perbuat?

Ku pikir aku tak melakukan salah apapun

Pikiran-pikiran itu bertubrukan

Membuatku pening sembari mempertanyakan

Tapi Tuhan Maha Tahu

Tiba-tiba saja hatiku dikuatkan sesuatu

"Alloh Maha Besar, Alloh Maha Tahu"

"Masalahmu tidak ada apa-apanya"

Ya. Tiba-tiba saja kabut berhamburan

Sekitarku terang benderang

"Jangan khawatir, semua sudah ditetapkan"

"Tuhan selalu punya maksud baik atas segala kejadian"

Hatiku jadi kuat lagi. Tak sedih lagi. Semangat lagi. Berdiri lagi. Berlari lagi. Ingat lagi kalau aku hanya perantau di dunia ini.

Tidak ada hak milik atas apapun

Sadar lagi, semua terserah Yang Punya

Mau ini mau itu, semua terserah-Nya

Kita hanya diperintah menyembah dan memohon pertolongan pada-Nya

Apa susahnya? Jawabannya, sangat susah!

Karena setan ada di mana-mana

Tugasnya membuat manusia menjadi sepertinya

Jumat, 23 Desember 2022

Pria Pembawa Petaka

 Hatinya pilu. Ingin menangis tapi dia merasa dia adalah pria tangguh. Buat apa menangis hanya karena wanita? Menangis hanya untuk pria lemah. Lalu lalang kendaraan hanya menjadi layar abu-abu dan hening semata. Yang didengar hanya suara kepalanya yang sedang berbincang ramai tentang kejadian yang barusan terjadi. Motor yang sedang ia kendarai seperti jalan dengan sendirinya, seperti ada yang mengendalikan, bukan dia. Fokus pikirannya hanya kejadian barusan, ya, barusan. Bukan jalan dengan banyak kendaraan yang dia lihat di depan matanya. Hanya mantan kekasihnya yang baru saja ia putus tanpa kata putus dan segala kenangan setelah menjalin hubungan selama hampir empat tahun lamanya.


Tiba-tiba pusing terasa di belakang matanya. Mungkin karena menahan tangis. Hatinya terasa perih sangat dalam. Tegar, kamu tidak boleh menangis, kamu pria kuat seperti namamu, ucapnya dalam hati untuk memotivasi. Tapi pusingnya malah menjadi. Dia memutuskan untuk menghentikan laju motornya dan menepi. Helm yang dipakai juga terasa sangat berat, membuat pusingnya menyebar ke seluruh bagian kepala. Dia copot helm setelah memakirkan motor di pinggir jalan dan duduk di tepi trotoar yang posisinya lebih tinggi dari jalan aspal.

Sekali lagi dia menghembuskan nafas setelah berkali-kali dilakukannya saat mengendarai motornya tadi, sekedar untuk mengurangi beban dadanya yang terasa sesak. Menatap jalanan yang ramai malah membuat beban pikirannya bertambah. Untung sedang mendung. Panasnya matahari tidak membuat kepalanya jadi lebih panas.

Oh, Nia, kenapa kamu berkhianat? Kalimat itu saja yang terngiang di kepala Tegar. Kepalanya terasa berat sekali sampai-sampai harus menunduk, seperti tidak kuasa menegakkan kepala. Beberapa pengendara motor yang melewatinya pun menengok ke arahnya, bertanya-tanya apa yang dilakukan seorang pemuda yang duduk di pinggir jalan menatap ke tanah. Tapi Tegar benar-benar sedang tidak berada di dunia nyata. Dia sedang terpuruk di dunia pikirannya sendiri. Sekitarnya hanya layar abu-abu.

Tegar merogoh tasnya dan mendapati bungkus rokok bersandingan dengan korek api. Diraihnya sepasang sejoli itu kemudian diambilnya satu batang rokok dari bungkusnya. Sebatang putih dipasangkan ke mulutnya dan siap dibakar. Tapi semesta seperti membuatnya lebih kesal. Saat akan memantik korek api, angin berhembus kencang, karena memang lalu lalang kendaraan menimbulkan angin yang lumayan terasa. Berkali-kali dia mencoba tapi kekuatan angin tetap lebih perkasa dari nyala kecil korek api. Hatinya dongkol bukan main, menambah sesak dada. Menunggu angin tidak berhembus, akhirnya dia mencoba sekali lagi dan berhasil. Sebatang kenikmatan berwarna putih berhasil dia sulut.

Tegar menghisap dalam-dalam asap rokok yang dia bakar dan menghembuskannya dengan pelan dan syahdu. Nikotin lumayan membuat pikirannya rileks sedikit demi sedikit. Fokusnya sudah berganti dari bayangan mantan kekasihnya ke nikmatnya rokok yang dia hisap. Layar yang tampak di penglihatannya sudah tidak abu-abu lagi, sudah mulai berwarna dan menunjukkan lalu lalang kendaraan. Tapi bayangan Nia tetap tampak samar, hanya samar, dan terus berusaha untuk menerobos pikirannya lagi.

Oh, Nia, kenapa kamu berkhianat? Suara itu lagi yang muncul disertai gambaran samar Nia yang sedang tersenyum. Perih hatinya terasa lagi. Ah, kenapa dia lagi yang muncul? Grundelnya dalam hati. Cahaya matahari mulai muncul menerpa wajahnya. Ditengoknya ke atas, ternyata mendung mulai memudar. Sudah hatinya panas, ditambah kepalanya panas. Tegar memasang helmnya lagi dan menaiki motornya. Rokok masih terjepit di antara jari telunjuk dan tengah tangan kirinya. Setelah men-stater si Jengki, motor butut kesayangannya yang sudah berpenampilan klimis karena dicat ulang, Tegar menghisap lagi rokoknya yang tinggal separuh dalam-dalam dan menghembuskan asapnya perlahan dengan lembut. Barulah dia mulai melaju ke jalanan.

Pandangannya sudah tidak suram lagi, sudah mulai normal tapi masih dikelebati bayang-bayang samar mantan kekasinya. Senyumnya masih menari-menari di kepalanya. Ah betapa indah senyummu, Nia. Spontan Tegar pun tersenyum juga. Parasnya benar-benar melekat di hati dan pikirannya. Bagaimana tidak? Selama hampir empat tahun dan hampir setiap hari dia bersama Nia. Sebagai pasangan kekasih, Tegar dan Nia terbilang mesra. Yang tampak ketika mereka bersama hanya tersenyum dan tertawa dengan raut wajah riang. Perlakuan mesra antara keduanya yang tidak mengindahkan sekitar membuat yang menontonnya hanya tersenyum geli, bisa jadi iri. Nia yang berkuliah di Fakultas Ekonomi, sering dijemput oleh Tegar yang berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas yang sama. Hampir setiap hari seperti itu kecuali hari libur. Kenangan-kenangan indah selama hampir empat tahun terpatri terlalu dalam di hati Tegar.

Ah, kenapa Nia lagi Nia lagi? Ucapnya kesal dalam hati. Diisapnya lagi rokok di tangannya untuk mengalihkan bayang-bayang kenangan yang terus muncul. Asap rokok disertai remah-remah abu beterbangan ke arah belakang meninggalkan Tegar dan Jengki-nya. Angin yang menerpa dari depan tidak menyurutkan usahanya untuk terus menghisap rokok. Ternyata nikmat juga merokok sambil berkendara, pikirnya. Lumayan mengurangi stres pikiran dan ganjalan hati.

Tapi, lagi, bayangan Nia muncul. Bukan Nia yang sedang tersenyum, tapi kejadian yang Tegar saksikan tadi yang membuatnya benar-benar tidak bertenaga, kejadian yang sangat merobek hatinya, meluruhkan semangatnya, mengaburkan pandangannya.

Seperti biasa, tadi, Tegar akan menjemput Nia. Dia menunggu Nia di depan gerbang Fakultas Ekonomi. Tapi sesuatu di luar kebiasaan terjadi. Lima belas menit menunggu, Nia tidak kunjung keluar. Dicobalah menghubungi lewat telepon. Menunggu sampai nada dering telepon selesai, tidak juga diangkat. Dicobanya lagi berkali-kali, tidak juga ada respon. Mungkin masih menghadap dosen. Diputuskannya menunggu beberapa menit lagi.

Ah, Nia lagi Nia lagi. Tegar tersadar dan kembali ke kehidupan nyata. Diisapnya rokok yang tinggal seperempat sambil masih memacu si Jengki dengan tidak kencang. Kepulan asap dan abu sisa pembakaran tembakau masih berterbangan diterpa angin jalanan. Dengan tetap melihat ke depan, bayangan Nia muncul lagi. Adegan yang dibayangkan tadi berlanjut.

Setelah mencoba menghubungi Nia dan menunggu beberapa menit lagi, Tegar tetap tidak menemukan sosok kekasihnya keluar melewati gerbang Fakultas Ekonomi. Dia mulai gelisah. Lebih baik aku masuk aja nyari Nia, dia memutuskan. Dia masuk ke areal parkir Fakultas kekasihnya itu dan mulai berjalan mencari pujaan hatinya yang tak kunjung menampakkan diri.

Saat itu masih pukul sepuluh pagi, tapi awan terlihat mendung pekat. Muramnya langit menambah kegelisahan hatinya. Tempat yang dituju pertama adalah kantin Fakultas Ekonomi. Tidak mungkin dia menuju kelas, nanti malah dicurigai banyak orang karena memang Tegar bukan mahasiswa di kampus itu. Jaraknya tidak jauh dari tempat parkir, hanya berjalan lima menit. Tegar sudah sering ke sana sejak berpacaran dengan Nia jadi tidak susah mencari lokasi kantin. Dari jarak dua puluh meter menuju kantin, dia melihat sosok kekasihnya yang dia hafal betul.

Kekasihnya berkemeja pendek kuning kunyit, dipadu celana jeans skinny. Rambut hitam legamnya tergerai anggun dan serasi dengan postur tubuhnya. Senyum tersimpul di bibir Tegar. Tapi senyumnya sementara, langsung menghilang digantikan kernyit dahi. Kekasihnya tidak sendiri. Dia bersama dengan sesosok yang sepertinya laki-laki. Mereka sedang duduk bersama di satu meja kayu berbentuk bulat, melakukan percakapan, sesekali dengan senyuman. Tegar melambatkan langkahnya. Hatinya mulai panas. Warna mukanya mulai memerah menahan amarah. Tangannya terkepal kencang. Tapi Tegar adalah Tegar yang terkenal dengan kedewasaannya mengolah emosi. Mungkin itu teman kuliahnya yang kebetulan sedang duduk di sana juga, pikirnya positif. Panas hatinya menurun. Warna mukanya berangsur normal. Tegar melanjutkan langkahnya seperti sebelumnya.

Jarak tinggal sepuluh meter dari kantin. Tegar mencoba menyimpulkan senyum kembali sambil memikirkan kalimat yang pas agar kekasihnya bisa tersenyum mesra saat bertemu dengannya. Naas, sepertinya Zeus sang dewa petir di balik mendung sedang murka. Tegar merasa seperti disambar petir begitu melihat Nia kekasihnya memegang tangan sosok lelaki di depannya. Entah itu mesra atau tidak, pandangan Tegar sudah kabur. Kepalanya seperti mulai berasap. Amarah tidak bisa dibendungnya lagi. Ia menghentikan langkahnya sesaat kemudian berlari kencang menuju kekasihya dan sosok lelaki di depannya.

Derap langkah yang berlari menimbulkan suara yang lumayan menyita perhatian orang-orang yang berada di sekitar kantin. Tegar tidak acuh dengan hal tersebut. Yang melihat pun hanya heran kenapa dia berlarian seperti kesurupan. Sampai pada jarak satu meter dengan lokasi meja kekasihnya berada, barulah Nia dan sosok lelaki tersebut menoleh. Mereka terlambat menyadari kehadiran Tegar dan gerak-geriknya. Sepersekian detik akhirnya Nia "ngeh" apa yang akan dilakukan kekasihnya. Sepersekian detik Tegar sempat melihat Nia melepaskan pegangan tangannya dengan sosok lelaki tak dikenal. Sepersekian detik juga Nia melihat tangan kekasihnya yang terkepal lumayan keras melayang ke arah wajah lelaki yang tak dikenal Tegar.

Buuuk!

Suara benturan kepalan tangan Tegar dan pipi lelaki tidak dikenal terdengar sangat jelas. Spontan Nia berteriak dan menyita seluruh perhatian penghuni kantin. Si lelaki tak dikenal sudah tersungkur jatuh dari tempat duduknya. Terlihat sedikit darah keluar dari ujung bibirnya. Nia juga sudah bangkit dan berusaha menahan Tegar sambil meracau tidak terlalu jelas. Air mata tampak jatuh dari ujung matanya yang memerah. Si lekaki tak dikenal tidak berusaha bangkit. Mungkin "hook" yang dilayangkan Tegar menguras sedikit kesadarannya.

Tegar menatap mata Nia yang sudah merah dan basah. Mulut masih meracau tidak jelas, setidaknya itu yang didengar Tegar. "Apa maksudmu?" Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya. Nia menjawabnya sambil menangis tapi masih terdengar meracau tidak jelas di telinga Tegar. Tegar tidak perlu penjelasan apapun dari Nia. Yang dia lihat sudah menjelaskan apa yang terjadi. Dia memutuskan pergi begitu saja di tengah penjelasan Nia yang terdengar seperti kicauan berisik di telinga Tegar.

Tegar tersadar, kembali dari lamunan panjang. Ah Nia lagi Nia lagi. Pandangannya kembali ke jalanan dengan lalu lalang kendaraan. Kesadarannya yang mulai kembali ke dunia nyata juga membuatnya sadar rokok yang diapit kedua jarinya sudah tidak di tempatnya. Mungkin terlepas dan terhembus angin, pikirnya.

Saat melihat kaca spion, dia sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Refleks rem ditekan menghentikan laju si Jengki. Ada pengendara motor di belakangnya jatuh. Seorang perempuan tampak masih muda dengan helm putih berjaket tipis gelap tampak kesakitan terjepit motor matic-nya di atas jalan aspal. Ingin hati menolong tapi jaraknya sekitar sepuluh meter dari perempuan tersebut. Pengendara-pengendara lain di belakang juga mulai menghentikan lajunya dan membantu si perempuan berhelm putih. Sepertinya kecelakaan tunggal, hasil pengamatan Tegar yang masih duduk di sadel si Jengki. Melihat mulai banyak yang membantu si korban kecelakaan tunggal, Tegar memutuskan untuk tidak menghampiri dan melanjutkan perjalanan yang belum tahu kemana bersama si Jengki. Dia terus melaju bersama Jengki, diterpan angin jalanan yang menerpa wajahnya, sambil berharap ingatan dan kenangan tentang Nia dibawa olehnya. Angin, bawalah, jiwaku melayang. Terlintas di pikiran Tegar lagu milik band idolanya.

***

"Mbak, kenapa bisa jatuh?" Tanya seorang bapak-bapak paruh baya kepada seorang perempuan muda yang barusan jatuh dari motornya. Sambil mengangkat motor agar tubuh perempuan tersebut tidak terjepit, terlontar pertanyaan tersebut. Seorang lagi, seorang ibu-ibu muda, juga menghentikan laju motornya hendak membantu.

"Iya, Mbak, kenapa bisa jatuh sendiri?" Ibu-ibu muda tersebut bertanya sambil membantu si perempuan korban kecelakaan tunggal bangkit berdiri kemudian menuju tepi jalan.

Setelah duduk dengan nyaman, dan memeriksa tubuhnya yang terasa nyeri sambil menepis debu-debu yang menempel di pakaiannya, dia menjawab, "Tadi ada mas-mas naik motor tua di depan saya buang rokok masih menyala di jalan bu, Bu. Rokoknya kebawa angin menuju arah saya. Ya saya kaget, refleks langsung menghindar. Eh, malah kepleset dan jatuh."

Bapak-bapak paruh baya dan ibu-ibu muda yang menolong pun cuma bisa geleng-geleng kepala tanpa berkata apa-apa.

Kamis, 22 Desember 2022

Tak Tahu Diri

 "Bro, ayo nongkrong di taman kota." Ajak Gondrong kepada Cepak di telepon.


"Ayo, Bro. Sekalian nih aku mau curhat. Males banget di rumah. Istri ngomel terus." Cepak dengan antusias menyambut ajakan Gondrong.

"Hahaha. Baiklah. Aku siap menjadi pendengar setia."

Mulailah mereka berangkat dari rumah masing-masing. Gondrong yang masih bujangan meskipun usianya sudah beranjak tiga puluh langsung berangkat setelah berpamitan kepada ibunya yang sedang mencuci piring. Tak lupa tas kecil yang selalu dibawa yang selalu berisi dompet, sebungkus rokok, korek, dan handphone dibawanya. Motor sport 250 cc kesayangannya langsung ditunggangi menuju taman kota.

Sedangkan Cepak, harus menunggu istrinya yang sedang menyusui anak mereka. Biasanya, sang istri akan ikut tertidur ketika si bayi mulai terlelap. Saat sang istri terlelap itulah dia bisa "kabur" dari rumah. Pamitan nanti saja lah lewat chat Whatsapp, bilang aja gak enak bangunin waktu mau pamit keluar, ucap Cepak dalam hati.

Pelan-pelan sekali Cepak melangkah keluar menghindari mainan anaknya yang berserakan di ruang tamu agar tidak menimbulkan suara dan membangunkan istrinya. Sesampainya di garasi, ia memutuskan mengendarai sepeda motor matic istrinya, bukan motor sport besarnya, agar tidak gaduh saat di-stater di depan rumah. Sangat pelan juga ia menutup pagar sampai akhirnya "lolos" dan tancap gas.

Tak sampai 10 menit Gondrong dan Cepak tiba hampir bersamaan di taman kota. Saat itu sudah jam 4 sore. Banyak orang mulai yang dewasa, anak kecil, sampai pedagang asongan memadati area taman yang memang merupakan tempat favorit masyarakat menghabiskan waktu menjelang malam.

"Bro, sini!" Gondrong menyapa terlebih dahulu dan Cepak menghampiri dengan wajah kusut. "Kenapa kamu? Muka kok kayak jemuran belum kering." Kata Gondrong dengan sedikit mengejek sambil tertawa kecil.

"Suntuk di rumah. Istri ngomel terus. Begini lah, begitu lah. Adaaa aja bahan yang dibuat omelan." Cepak berkata dengan nada jengkel.

"Haha. Santai. Duduk dulu lah. Di sana aja deh, deket pohon besar." Gondrong menunjuk ke arah pohon jambu air yang sudah hampir 10 meter tingginya.

Mereka mulai berjalan bersisian ke arah tempat yang dituju. Sambil berjalan, Gondrong menoleh sekitar untuk mencari pedagang yang menjual minuman. Akhirnya tampaklah si pedagang asongan yang dicari.

"Bro, mau minum apa? Tuh ada yang jualan." Tanya Gondrong kepada Cepak sambil menghentikan langkahnya.

"Aduh, aku gak bawa duit, Bro. Cuma handphone yang aku bawa." Wajah Cepak memelas.

"Yaelah, santai aja. Kayak aku ini orang lain aja. Kopi apa teh? Dingin apa panas? Atau yang lain?" Lanjut Gondrong menawarkan.

"Boleh deh kopi item panas. Makasih ya, Bro."

"Santai. Kayak siapa aja. Kamu duluan ke sana ya, deket pohon jambu besar itu. Aku yang beli kopinya. Nanti aku nyusul ke sana." Perintah Gondrong dibalas Cepak dengan anggukan masih dengan wajah tidak bersemangat.

Sepuluh menit kemudian Gondrong datang berikut dua gelas plastik berisi kopi panas, kemudian duduk di samping Cepak. Gondrong merogoh tas, mengambil rokok dan korek.

"Rokok, Bro? Biar santuy." Gondrong memulai percakapan.

"Maaf ya, Bro. Ini malah gratisan terus dari kamu. Sejak anakku lahir, istri selalu ngomel kalau rumah bau asap rokok. Padahal aku merokok sudah di teras rumah. Makanya, sekarang aku jarang bawa rokok karena rokokku aku tinggal di kantor. Kalau disimpan di rumah dan istri tahu, pasti ngomel gak selesai-selesai." Penjelasan panjang lebar Cepak membuat Gondrong tertawa. Meskipun sedikit emosional, Cepak tetap mengambil satu batang dan dibakarnya.

"Hahaha. Iya, iya santai. Habisin dah kalau perlu ini sebungkus. Gak usah berapi-api gitu." Respon si Gondrong dengan sedikit bercanda menenangkan sahabatnya. "Emangnya kenapa kok sering ngomel istrimu?" Lanjut Gondrong bertanya sambil menyalakan satu batang rokok.

"Gak tahu pasti aku, Bro. Setiap ditanya, jawabnya gak tahu. Ditanya kenapa begini, jawabnya gak tahu. Ditanya begitu, jawabnya pikir aja sendiri. Ada lagi yang lebih nyebelin. Ditanya kenapa kok sering emosi, jawabnya kamu nanya? Kamu nanya? Kamu bertanya-bertanya? Sambil monyong-monyong gitu mulutnya. Aku kan bukan dukun yang bisa nebak pikirannya dia." Jelas Cepak dengan menggebu-menggebu diikuti dengan hisapan rokok yang dalam dan seruputan kopi miliknya.

Gondrong yang mendengarkan cerita kawan karibnya dengan seksama sambil menghisap rokok dan meminum kopi bertanya kembali dengan wajah sedikit prihatin, "Mungkin lagi dapet, kali?"

"Dapet apaan, Bro? Udah selesai seminggu yang lalu." Jawab Cepak singkat. Tak terasa rokok yang dihisapnya sudah menuju batas filter rokok. Dilemparnya sembarangan puntung rokok di rumput lapangan taman kota.

"Hmm, kenapa ya? Atau mungkin lagi capek aja, kali. Capek ngurus anak." Timpal Gondrong dengan pertanyaan lain sambil menyodorkan bungkus rokok sebagai isyarat "Nih, ambil lagi."

Cepak mengambil satu batang rokok lagi dan menyulutnya, kemudian meminum kopinya yang sudah tidak terlalu panas dan melanjutkan obrolan, "Mungkin ya, Bro. Biasanya emang pas ngomel, bilang dia capek ngurus anak, ngurus ini itu, tapi aku gak pernah ngerti. Katanya aku gak peka. Lah, aku kan pulang kerja pasti ngerasa capek. Sampai di rumah ya langsung tidur."

Gondrong mendengarkan curhatan sahabatnya dengan rasa iba sambil membayangkan apakah begitu nanti keadaannya kalau nanti dia menikah dan punya anak. Lamunannya terhenti karena menyadari rokok di tangannya akan habis. Dibuangnya puntung rokok sembarangan ke arah lapangan taman kota, sama seperti yang dilakukan Cepak. Sebelum menimpali curahan hati sahabatnya, dibakarnya satu batang rokok lagi.

"Ya, gimana ya ngomongnya? Perempuan kan emang biasanya gitu, Bro. Kadang-kadang susah ditebak maunya apa. Mungkin istrimu lagi butuh perhatianmu. Siapa tahu akhir-akhir ini dia merasa kurang diperhatikan. Ya, bisa jadi, perhatianmu dia anggap sebagai apresiasi karena sudah melakukan banyak hal seperti ngurus anak, bersih-bersih rumah, nyuci baju, nyuci piring, dan sebagainya." Gondrong merespon dengan perkataan sedikit panjang berisi pengertian yang tidak menyudutkan Cepak maupun istrinya. Gondrong merasa puas setelah memberikan wejangan bijak padahal dia asal bicara saja. Dihisapnya rokok sekali lagi dan kopi kembali diseruput nikmat.

"Bisa jadi sih, Bro." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cepak, kemudian termenung sambil menghisap rokoknya sampai habis.

Gondrong enggan menyela sahabatnya yang sedang termenung dan mungkin meresapi yang tadi dia katakan. Dia sodorkan kembali rokok kepada Cepak dan langsung disulutnya.

Gondrong akhirnya memperhatikan sekitar daripada tidak melakukan apapun. Rokok yang sudah habis dia buang sembarangan ke arah depan. Diminumnya kopi bergelas plastik yang sudah dingin sambil melihat-lihat aktivitas di sekeliling. Ternyata banyak juga yang melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Gondrong dan Cepak; duduk bersama bercengkrama. Ada yang di rumput lapangan, ada yang di pinggir trotoar, ada yang di bangku taman, dan masih banyak lagi di bagian lain area taman kota. Ada yang seperti pasangan kekasih sedang saling merayu dan tersenyum mesra, ada yang berkumpul 3 sampai 5 orang sedang tertawa-tawa, dan banyak lagi sekumpulan orang yang lain yang sedang duduk bersama. Keramaian taman kota benar-benar berkah untuk pedagang kecil di sekitarnya, pikir Gondrong saat itu.

Setelah itu, Gondrong dan Cepak melanjutkan obrolan masih seputar curhatan Cepak tentang istrinya dan Gondrong lebih banyak mendengarkan, sesekali menimpali dengan sedikit nasehat, saran, bahkan candaan. Tak lupa rokok terus-menerus "ngebul" ditemani dengan seruputan kopi yang sudah dingin. Setelah matahari tampak menepi ke arah barat dan mulai menyemburkan cahaya jingga pertamanya, Gondrong dan Cepak memutuskan pulang, kemudian saling berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Gelas-gelas kopi kosong yang hanya tersisa ampasnya, serta berpuntung-puntung rokok yang tergeletak di antara rerumputan lapangan taman kota, menjadi saksi berakhirnya percakapan dua sahabat tersebut.

***

Masih jam 6 pagi waktu Bu Indah sampai di taman kota. Setelah mengayuh sepeda sekitar 25 menit dari rumahnya, nafasnya sedikit tersengal-sengal. Ditambah dengan tadi harus bangun jam 4 pagi untuk bersih-bersih rumah dan memasak untuk sarapan ketiga anaknya yang akan berangkat sekolah. Ditambah dengan usianya yang sudah beranjak 45 tahun dan fisiknya tidak sekuat saat berusia dua puluhan. Semua aktivitas paginya benar-benar menguras tenaga sebelum ia memulai pekerjaannya sebagai petugas kebersihan taman kota.

Seperti biasa, pemandangan yang dilihatnya setiap pagi adalah hijaunya taman kota dengan pepohonan yang begitu banyak dan rimbun, serta rumput yang basah karena embun. Bu Indah menghela nafas. Bukan karena lelahnya setelah mengayuh sepeda yang lumayan jauh jaraknya, tapi taman kota yang harusnya indah dengan pemandangan hijaunya, setiap pagi selalu dihiasi dengan bungkus plastik bekas cilok yang bumbunya masih tersisa di dalamnya, gelas plastik kosong sisa kopi yang begitu saja nangkring di lapangan taman kota, botol plastik yang dibuang begitu saja di sela-sela semak-semak yang sudah dibentuk sangat cantik, dan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus bahkan beribu-ribu bahkan berjuta-juta puntung rokok yang berserakan hampir di semua bagian taman kota mulai dari bagian tengah sampai bagian tepi.

Bu Indah menghela nafas sekali lagi dengan agak keras. Dengan mengucap "Bismillah", ia merasa sudah siap dan mulai membersihkan semua sampah yang berserakan di taman kota bersama dengan petugas kebersihan yang lainnya.

Berantakan

  Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...