Kali ini, aku akan bercerita tentang pengalamanku dengan anak perempuanku. Rasanya hal ini perlu ku tulis karena sangat berkesan di hatiku.
Jadi ceritanya, dari dulu aku selalu ingin melakukan hal-hal yang ada dalam cerita dari buku-buku yang pernah ku baca. Salah satunya adalah mendongeng. Aku menganggap mendongeng untuk anak sebelum tidur sangat mengasyikkan. Aku merasa seperti menjadi orang tua yang utuh dan berguna dengan itu. Dari cerita-cerita yang aku baca, mendongeng adalah langkah awal mengaktifkan kreativitas anak, sehingga saat ia besar nanti, anak mengoptimalkan imajinasinya untuk berbuat sesuatu di masa depan. Bukankah imajinasi adalah langkah awal dari segala bentuk aktivitas?
Awalnya aku bingung, kapan aku bisa mendongeng seperti dalam cerita. Pertimbanganku, apakah anakku bisa mencerna apa yang aku ceritakan? Kapan anakku bisa memahami apa yang aku ceritakan? Terlalu banyak pertimbangan akhirnya tidak pernah mulai. Akhirnya, aku berkesimpulan bahwa saat anak benar-benar lancar dan cakap berbicara lah ia bisa mencerna apa yang aku ceritakan. Itu hanya kesimpulan ngawurku saja. Dan akhirnya momen itu tiba.
Aku melihat anak perempuanku sudah sangat cas cis cus berbicara. Perkataan apapun bisa dia tiru. Yaa meskipun kadang aku agak geregetan dengan segala pertanyaan dan ceritanya. Aku melihat kesiapan pada anak perempuanku meskipun usianya baru beranjak empat tahun lebih sedikit.
Ide mulai mendongeng itu datang ketika menemani anak perempuanku tidur. Dia memilih tidur dikeloni aku daripada Bia-nya (Bia: Panggilan anak-anakku pada ibunya). Dia punya kebiasaan selalu mengoceh segala hal yang pernah dia tonton sebelum tidur; mulai dari lagu sampai dialog film kartun. Ku pikir, kenapa dia tidak menerima cerita dongeng dariku? Sekaligus aku bisa menyematkan nasehat-nasehat yang siapa tahu baik untuknya di kemudian hari, daripada meniru sesuatu yang tidak jelas arahnya kemana.
Kebingungan pertama muncul. Cerita apa yang akan ku sampaikan? Ah, dasar aku ini, orang yang kekurangan referensi cerita anak. Tidak satu pun muncul cerita anak dalam kepalaku.
Tapi selang beberapa menit, ide pertama muncul juga. Anak pasti suka dengan fabel, cerita hewan-hewan. Di saat anak perempuanku sedang nerocos tak karuan, terjadilah interaksi ini.
"Caca, Bapak punya cerita. Mau denger?" (Kedua anakku memanggilku Bapak. Aku yang minta itu. Entahlah, aku suka panggilan itu. Terdengar Indonesia banget.)
"Cerita apa, Bapak? Mauuu." Dengan ekspresi cerianya dia menimpali. Tak terlihat tanda-tanda mengantuk di wajahnya.
Nah, kebingunganku muncul kembali. Belum terpikirkan cerita apa di kepalaku. Aku sudah memikirkan hewan, tapi entah hewan apa. Jangan ditanya jalan ceritanya bagaimana, tokoh dalam cerita saja belum ketemu.
Tiba-tiba saja aku nyeletuk, "Pada suatu hari..." Kan, biasanya cerita anak-anak diawali dengan keterangan waktu tersebut. Itu muncul begitu saja dalam kepalaku. Kemudian aku lanjutkan dan mengalir begitu saja.
Lanjutannya, "..ada seorang anak perempuan bernama Cici tinggal di dalam hutan." Entahlah, tiba-tiba muncul nama itu. Mungkin karena mirip dengan nama panggilan anakku.
"Di hutan tersebut, ada banyak sekali hewan. Ada kelinci, ada kupu-kupu, ada tupai, ada..."
"Ada singa gak, Bapak?" Aku kaget Caca menyela seperti itu. Di dalam kisah yang pernah ku baca, anak biasanya mendengarkan sampai habis dan akan bertanya setelah cerita selesai. Jadinya aku gelagapan melanjutkan dongeng.
"Eee..." Kenapa harus ada singa sih? Batinku. Ada-ada saja Caca ini. "Yaa, belum ada. Kan, Bapak belum selesai nyebut hewannya. Di hutan itu, juga ada semut, ada belalang, ada kucing, ada..."
"Harimau ada gak, Bapak?" Aih, Caca ini. Belum juga tuntas ceritanya, malah nyeletuk lagi dengan polosnya.
"Belum, Caca. Kan, Bapak belum selesai."
"Ya ya ya..." Polos sekali dia mengangguk-angguk.
Aku jadi bingung mau melanjutkan bagaimana. Imajinasiku buyar seketika gara-gara anak perempuanku yang cantik itu. Kan, bapaknya lagi semangat-semangatnya, sekarang malah kebingungan sendiri. Jadinya, aku lanjutkan membuat alur baru setelah menyelesaikan nama-nama hewan.
"Suatu hari..." Kan, jadi mengulang suatu hari lagi, kan. Ya sudahlah biar, "Cici ingin mengambil buah apel di hutan. Terus..."
"Buah apelnya di mana, Bapak?" Aduh! (Tepok jidat) Disela lagi olehnya.
"Ya di hutan, di pohonnya" Jawabku asal.
"Pohonnya di mana?" Errgghh..Tidak jalan mulus dongengku kalau begini.
"Yaa, di hutan. Kan tadi Bapak bilang, Ca, di hutan."
"Ya ya ya..." Sekali lagi menggangguk polos.
"Terus, Cici ngajak kelinci untuk menemani, mengambil buah apel. Kemudian berangkatlah Cici dan kelinci menuju pohon apel yang buahnya lebat sekali." Ku tengok sekilas, mata Caca menerawang ke atas, pertanda dia sedang antusias membayangkan cerita.
"Pada saat perjalanan menuju pohon apel, tiba-tiba mereka mendengar suara 'eerrgghh..' (aku menirukan suara seperti erangan singa atau harimau) dari kejauhan. Mereka pun..."
"Nah, itu singanya, Bapak."
Aduh, diinterupsi lagi. Lagian, buat apa juga aku menirukan suara itu. Yaa, memang mirip singa atau harimau, sih. Tapi, kenapa mendongeng jadi terasa susah ya? Tidak seperti bayanganku saat membaca kisah di buku tentang dongeng anak dari orang tua.
"Yee, bukan singa itu. Udah diem dulu, Caca. Bapak kan belum selesai ceritanya."
Sebenarnya memang sudah terpikirkan itu suara singa atau harimau. Tapi kalau sudah tertebak, tak seru jadinya lah.
Aku lanjutkan ceritaku sebelum dipotong lagi. "Cici dan kelinci bingung. Suara apa itu? Cici berpikir sepertinya di hutan tidak ada singa. Apa itu suara singa? Tidak mungkin, pikirnya. Si Kelinci tampak ketakutan, tapi Cici tidak melihatnya. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba suara 'eerrgghh' itu muncul lagi (aku menirukan suara harimau ala kadarnya)."
"Nah, itu pasti harimau, Bapak."
Aih, Caca oh Caca anakku. Cerita belum selesai, Nak.
Dengan sabar sambil berpikir itu suara apa, aku menjawab, "Bukan, Caca. Denger dulu ceritanya."
"Ooooo..." Suara "O" bulat muncul dari bibir mungilnya yang berbentuk o juga. Matanya kembali menerawang, menuju cerita.
"Kemudia Cici bertanya, suara apa itu, Kelinci? Sepertinya aku tidak pernah mendengar suara itu. Kemudian Kelinci menjawab, tapi aku takut, Cici. Itu suara harimau atau singa."
Aku melihat sekilas ekspresi Caca saat mendengarkan. Tampak serius sekali dia mengikuti alur yang aku bawakan. Padahal, aku juga tidak tahu bagaimana cerita akan berlanjut.
Otakku terus berpikir dan langsung terucap dari mulutku, "Takut kenapa, Kelinci? Cici bertanya kepada Kelinci. Kemudian Kelinci menjawab, aku takut sama singa dan harimau. Kata hewan-hewan yang lain, mereka makan kelinci seperti aku. Cici menjawab, kamu jangan percaya mereka. Di hutan ini tidak ada singa atau harimau."
Sembari cerita sembari bingung, aku terus berpikir kelanjutannya. Begini ini jadi orang kurang referensi.
Aku melanjutkan, "Kemudian Cici mengajak Kelinci untuk mencari sumber suara. Cici begitu berani, tapi Kelinci terlihat sangat takut. Suara erangan itu berkali-kali muncul. Cici dan Kelinci terus mendekati suara. Semakin keras suara yang mereka dekati, semakin Cici bersemangat tapi tidak denga Kelinci yang semakin ketakutan. Dan ketika sangat dekat dengan suara tersebut, ada di balik semak-semak, wajah Kelinci sudah pucat. Cici langsung menyibak dedaunan, dan, taraaaa, ternyata hanya seekor kucing!"
Aduh, kenapa aku mengucap kucing? Mana ada kucing suaranya seperti harimau? Aku mulai berpikir keras apa yang harus dikatakan untuk melanjutkan. Aku lihat Caca mulai mengernyitkan dahi. Mungkin pikirnya, mana ada kucing suaranya seperti singa?
"Kemudian kucing itu berkata dengan suara serak mirip harimau (mana ada juga, kucing kalau serak mirip macan, pikirku), hai, Cici, hai, Kelinci. Tolong aku. Wajah si Kucing pucat. Tapi Kelinci sudah tidak pucat. Kemudian Cici menjawab, hai, Kucing, apa yang terjadi kepadamu? Si Kucing menjawab.."
Aku lama memberi jeda, karena aku pun bingung. Aku lihat Caca sebentar, wajahnya terlihat serius menunggu.
"Tolong aku, Cici. Tenggorokanku sakit (masih dengan suara yang aku buat-buat mirip harimau sakit tenggorokan). Aku tadi makan ikan dan tulangnya nyangkut di tenggorokan. Bagaimana ini? Tolong aku, Cici, Kelinci. Katanya si Kucing gitu." Lanjutku asal. Aku jadi bingung sendiri. Duh, lebih rumit lagi nanti ini, penyelesaian ceritanya.
"Tenang, Kucing, aku ada obatnya. Ini aku sama Kelinci mau ke sana. Tuh, kan, Kelinci, apa aku bilang? Di hutan ini tidak ada singa atau harimau."
Lagi-lagi otakku berputar-putar. Apa lagi ya? Apa lagi ya? Itu saja yang terngiang-ngiang di pikiran.
"Kemudian si Kucing bertanya, memangnya apa obatnya? Cici menjawab, ayolah, kamu ikut kami saja. Kamu nanti tahu. Tidak tunggu lama, mereka bertiga kemudian berangkat. Lima menit kemudian, pohon apel yang banyak buahnya sudah terlihat. Nah itu dia! Kata Cici. Nanti kalau kamu makan apel itu, pasti tulangnya bakalan keluar."
Mana bisaaa? Bagaimana logikanyaaa? Protesku ke diri sendiri. Caca juga terlihat mengernyitkan dahi, pertanda mungkin dia juga bingung. Kok bisa? Mungkin begitu pikirnya. Meskipun masih empat tahun, dia sudah tampak sangat kritis. Tapi kali ini, dia tidak menyanggah ceritaku.
"Setelah mereka sampai, Cici ambil apel dan memberikannya ke Kucing. Dan benar saja, setelah makan apel itu, kucing terbatuk-batuk dan ingin muntah. Saat muntah, terlihat tulang ikan juga keluar. Selesai batuknya, suara kucing langsung keluar. Meooooong. Suaranya jadi seperti kucing lagi. Selesai deh ceritanya."
Caca langsung menatap aku heran, kok sudah selesai? Begitu ekspresi wajahnya. Jujur aku juga bingung dan asal mengakhiri cerita, karena memang sudah mengantuk.
"Kok kucingnya gak ngomong, Bapak? Cuma meong aja?" Nah, aku sudah menduga pasti muncul pertanyaan ini. Aku juga bingung mau menjawab apa, masa aku revisi? Mana mata sudah lima watt lagi.
"Yaa, pokoknya, makanya Caca jangan makan sembarangan. Nanti tenggorokannya sakit juga."
Nah, lho, apa hubungannya juga? Hahaha. Aku tertawa dalam hati. Untungnya, Caca cuma bilang, "Ya ya ya, Bapak." Dia hanya bilang begitu, tanpa pertanyaan tambahan. Sepertinya, dia tidak ingin bertanya lebih karena aku sudah membahas kebiasaan buruknya, tidak mau aku ceramahi lebih panjang.
Seperti itulah dongeng pertama untuk anakku. Amburadul? Hahaha. Sepertinya memang begitu. Aku harus menambah referensi cerita kalau memang tidak mau bingung dan akhirnya ceritanya membingungkan. Mudah-mudahan jangan sampai ceritaku menyesatkan pemikiran Caca. Takutnya nanti dia bilang ke teman-temannya, "Kata Bapakku, kalau kamu batuk terus, makan apel aja. Bisa sembuh lho." Dan kemudian dipraktekkan oleh temannya, dan sakitnya makin parah. Hahaha. Jangan sampaaai itu terjadi.
Terlepas dari kacaunya dongengku, dan apapun efeknya untuk anakku, setidaknya aku sudah berusaha menjadi orang tua yang menyenangkan. Dan yang menyenangkan, aku tahu bahwa anakku menanti ceritaku selanjutnya.
"Besok cerita lagi ya, Bapak." Katanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar