Minggu, 20 Juli 2025

Besok Sekolah

 


Tak terasa besok hari senin dan kedua anakku sekolah. Tapi tahukah kalau aku sama sekali belum membayar uang sekolah mereka? Hahaha. Mau dibilang bingung ya bener, mau dibilang santai ya juga bener. Aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa berkolaborasi, dua sikap itu.

Bingung? Iya, betul. Aku bingung bagaimana harus mendapatkan uang dengan jumlah sekian juta. Perlu ku sebutkan jumlahnya? Gak usah sih kayanya ya. Meskipun nominalnya tidak sampai dua digit di depan, tapi juga di atas angka lima, rasanya lumayan berat untukku.

Bayangkan saja, setiap bulannya, uang atau pendapatanku sangat pas sampai akhir bulan. Kalau semisal ada lebih, dan berangan-angan untuk ditabung, ada saja kejadian-kejadian tak terduga yang akhirnya, uang hanya pas sampai akhir bulan. Tapi memang Tuhan menciptakan akal manusia untuk selalu berpikir. Rencana A gagal, maka harus dipikirkan yang B. Gagal lagi? Ya, C. Kalau perlu juga langsung direncanakan yang D. Begitu dan akan begitu seterusnya. Dan aku punya rencana selanjutnya.

Rencana selanjutnya, kalau tidak bisa membayar sejumlah uang itu langsung, maka akan ku cicil. Bisa? Alhamdulillah. Segala Puji Bagimu Ya Alloh, Engkau telah memberikan privilege kalau kami, orang tua Gatar dan Caca, boleh mencicil, karena istriku adalah seorang guru di yayasan yang sama dengan sekolah anak-anakku. Maka, solusi mencicil adalah hal yang paling nyata yang bisa kami lakukan. Bahkan, keistimewaan itu ditambah. Kami boleh mencicil berapapun dan kapanpun dengan jangka waktu yang lumayan cukup untuk kami. Untuk sebagian orang dengan keuangan berlebih, mungkin itu sebuah kenestapaan. Tapi untuk kami, itu adalah sebuah kegembiraan luar biasa. Ternyata bahagia bukan cuma materi. Salah satunya adalah menemukan solusi untuk masalah, apapun bentuknya.

Kalau mungkin nanti, ternyata mencicil tidak bisa dilakukan, ya akan kami cari taktik lain (ya, belum dipikirin sih, hahaha). Siapa tahu, kan? Tiba-tiba kebijakan berubah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tomorrow is mistery, right? Ah, nulis inggris, sok gaul banget gue. Nanti lah dipikirkan itu. (Untungnya) aku sudah belajar dan mulai memahami, dari apa yang sudah ku lalui, semua perbuatan dan rencana lebih menenangkan jika diawali dengan Bismillah dan tawakal. Semua yang terjadi Sang Maha-lah yang mengatur, itu yang selalu terlintas kalau pikiran jelek muncul.

Kemudian, poin selanjutnya, santai? Iya, betul, santai kayak di pantai, anjaaaay, kayak anak alaaay.

Sebenarnya sudah ku singgung secara tidak langsung kenapa aku bisa santai di paragraf sebelumnya. Tomorrow is mistery. And the mistery is only known by The Almighty. What can we do as human being? The creatures? Nothing! None of things existing in this world! Semuanya terserah-Nya, kan? Jadi buat apa kita bingung? Mending santai gak sih? Ya kalau sekedar berencana pasti dilakukan secara alamiah oleh manusia. Tapi ya, cuma sekedar berencana.

Jadi ingat kalimat yang menurutku sarkas tapi mengena, "Manusia yang berencana, Tuhan yang tertawa." Entah itu siapa yang bilang. Buatku, maknanya dalam. Kalimat itu, maknanya untukku, aku bisa saja berencana ini itu, berharap ina inu, tapi Tuhan akan menertawakanku karena melihatku terlalu berharap, terlalu meminta, terlalu percaya diri, terlalu ini itu dan sebagainya, sampai-sampai aku lupa Tuhanlah yang menentukan segalanya. Ujung-ujungnya, doaku bukan lagi meminta, tapi memaksa. Kadang akal pikiran menjadi se-arogan itu. Berusaha berpikir ini itu sampai lupa "Laa Hawlaa Walaa Quwwata Illa Billah".

Apakah aku malu menceritakan keadaanku seperti ini? Ah, tidak sama sekali, Kawan. Karena semua orang punya jalannya masing-masing. Semua orang punya filmnya masing-masing. Apakah dengan menulis ini aku ingin dikasihani? Alhamdulillah, tidak sama sekali, Kawan. Aku menulis ini karena tiba-tiba muncul perasaan berbagi kisah itu menyenangkan, syukur-syukur kalau bisa mengingatkan, bahwa Tuhan sudah mengukir kisah setiap insan dengan sangat super variatif.

Kalau kau masih melihat, sepertinya rumput tetangga lebih subur, sepertinya kau sedang kena tipu daya musuh abadi manusia. Rubahlah pemikiran kalau kau tidak lebih beruntung dari dia, karena semua hal selalu datang dengan dua sisi: tantangan dan kenikmatannya. Rumput lebih hijau memang sebuah nikmat. Tapi kau tidak tahu tantangan yang datang bersamanya. Siapa tahu tantangannya lebih berat dari yang kau hadapi sekarang. Asoooy, udah kayak ustadz dakwah aja gue, sok-sokan ceramah. Hahaha.

Aku juga menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri. Aku masih manusia biasa, belum terpapar badai cosmic luar angkasa yang akhirnya aku jadi mutan terus punya kecerdasan luar biasa macam Tony Stark. Aku masih sangat pelupa; sekarang ingat, kadang besoknya lagi sangat ingat, besoknya lagi lupa, dst, dst, dst. Begitu saja roda kehidupan. Tapi apapun itu, kehidupanmu, kalau kau selalu selidiki kenikmatannya, menyelesaikan tantangannya tanpa berlarut dengan sedih dan laranya, akan sama menyenangkannya kok dengan kehidupan orang lain yang kadang membuatmu iri. Susah? Ya jelas lah, Kawan. Tapi ingat, segala hal selalu datang dengan dua sisi, kan? Ada susah ya pasti akan muncul mudah, begitupun sebaliknya. Kalau kau merasa susah, jangan putus asa, pikirkanlah pasti akan muncul mudah pada saatnya. Kalau muncul mudah, jangan lengah dan terlena, karena pasti muncul susah pada saatnya.

Cheers! Untuk kehidupan yang menyenangkan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berantakan

  Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...