Sungguh kita adalah orang yang sangat beruntung ketika diingatkan oleh Tuhan saat kita sedang lengah. Lengah tentang apa? Tentang kita yang sudah merasa bersih ketika kita merasa kita tidak pernah berbuat hal yang buruk. Karena hal itu, kita sudah merasa sangat bersih dan tidak punya dosa. Apalagi ditambah ritual ibadah wajib kita yang rutin, tidak pernah kurang. Tapi sesungguhnya, manusia biasa seperti kita, tidak akan pernah benar-benar bersih, selalu ada kotornya. Gawatnya, saat perasaan "merasa bersih" itu semakin menguat, seringkali kita "merasa benar" dan memandang remeh orang-orang di sekitar yang tabiatnya "terlihat" tidak sebaik kita. Saat itulah kita lengah. Dan sekali lagi, kita adalah orang-orang yang beruntung ketika diingatkan olehNya.
Jumat, 25 November 2022
Balada Kucing Berak
Rabu, 16 Maret 2022
Untuk Istriku
Usia pernikahan empat tahun itu adalah awal dari kebangkitan kita, Sayang.
Tadi siang aku mengucapkan kalimat itu pada Istriku. Bukan membual, tapi adalah doa tulus setelah lika-liku yang kami alami selama empat tahun ini.
Awal pernikahan adalah transisi kehidupan yang luar biasa berat untuk dicerna. Dari seorang bujangan menjadi seseorang yang tiba-tiba harus berbagi segalanya dengan orang lain bukanlah proses yang mudah untuk dilewati. Ego pun menjadi peran utama yang sangat mendominasi. Terutama masalah finansial.
Uang layaknya bahan bakar mesin yang akan membuat kita bertenaga atau tidak dalam menjalani kehidupan. Ketika bahan bakar itu dibagi, maka terbagi pula tenaga kita. Dan pada saat itu terjadi, egolah yang pertama kali menghasut untuk bertindak semaunya. "Tadi buat apa aja uangnya? Kok beli ini sih? Ini kan gak guna? Jangan boros-boros lah, gimana sampai akhir bulan?" Itulah sederet contoh pertanyaan yang muncul begitu saja tanpa dipikirkan apa efek setelahnya. Mungkin saat itu istriku sakit hati, kaget, sedih atau yang lain yang aku tidak pernah perhatikan. Tapi itulah proses transisi dari seorang lajang menjadi seorang yang berumah tangga. Merasa menjadi kepala keluarga kemudian bisa mengatur segalanya. Ada semacam rasa "tidak ikhlas" kalau uang yang aku hasilkan dibagi dengan orang lain. Mungkin itu perumpamaannya.
Tapi lambat laun, aku mengerti seperti apa Istriku dan bagaimana sifatnya - apa yang membuatnya sedih dan bahagia. Dengan banyak proses yang muncul begitu saja, sering kali hatiku terenyuh melihatnya bersedih atas kelakuanku, meskipun tanpa bicara. Begitu saja aku tahu kapan dia sedih dan kapan dia bahagia. Itukah ikatan batin? Mengerti tanpa harus bicara? Bukan! Aku sangat sadar diri karena terlalu sering membuatnya bersedih.
Setelah berbagai macam kejadian, aku sedikit demi sedikit bisa menurunkan egoku. Memang tidak mudah, sekali dua kali masih keceplosan, tapi tidak separah awal-awal. Tapi memang aku menyadari, berumah tangga itu adalah menyatukan dua pikiran yang berbeda, tidak akan selalu sama dan akan selalu ada bentrokan. Sekali lagi tanpa banyak bicara, kami bisa memahami satu sama lain. Untungnya Tuhan menganugrahi kami sifat yang ketika cek-cok, kami tidak saling berteriak. Kami hanya diam sampai ego kami benar-benar mereda dan kemudian membicarakannya.
Percek-cokan itu ternyata semakin berkurang dengan terbentuknya janin di rahim istriku. Fokus kami lebih ke kesehatan calon anak pertama daripada ke hal remeh yang sering diperdebatkan. Pembicaraan tentang bayi dengan segala pembahasan menjadi topik hangat yang selalu membuat kami menjadi sangat mesra. Tuhan sangat berbaik hati, selalu berbaik hati bahkan. Alhamdulillah.
Apalagi menjelang proses kelahiran, ego kami mulai mereda drastis. Aku sadar aku orang yang sangat egois dalam beberapa kondisi, tapi aku memaksakan menutupinya hanya untuk tidak membuat Istriku bersedih, karena kesehatan janin juga sangat berpengaruh pada kondisi emosional Ibunya. Aku menjadi lebih sering mengalah tanpa disadari dan Istriku juga terlihat berubah menjadi seorang yang lebih dewasa. Kami tidak lagi sering memperdebatkan masalah remeh-temeh. Fokus kami adalah kebahagiaan yang akan lahir dari rahim Istriku.
Kelahiran anak pertama benar-benar membuatku terharu. Terharu akan perjuangan Istriku dan paras anak pertamaku yang baru lahir. Aku tidak menyangka Istriku adalah seorang yang kuat, bahkan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental menjadi seorang Ibu. Banyak cerita dari manapun, kalau perempuan yang mengandung itu merasakan sakit yang luar biasa. Banyak juga yang mengeluh dari level tinggi sampai terendah. Tapi, Istriku hampir tidak mengucapkan keluhan sedikitpun! Sakitnya dia nikmati, semuanya prosesnya dia syukuri, dan itu yang membuatku selalu terharu kalau mengingatnya. Segala Puji bagi Tuhan Engkau telah menganugrahiku seorang perempuan pendamping hidup yang sangat kuat! Dengan segala keterbatasan dan kejelekanku, kekuatan istriku menjadi obat mujarab yang melengkapi. Dan paras anakku yang baru lahir. Aku menangis ketika mengumandangkan adzan di telinganya. Ternyata bayi baru lahir adalah lukisan sekaligus nyanyian yang sangat indah. Semua ego terkuras habis saat itu. Magis yang indah.
Tapi memang bagaimanapun, pernikahan adalah menyatukan dua kepala yang berbeda, tidak akan seterusnya klop. Saat-saat merawat dan membesarkan bayi adalah momen yang sangat indah sampai-sampai kami lupa kebutuhan pribadi masing-masing. Dan proses itu pun masih dibarengi dengan ego kita yang sesekali berbentur. Namun setelah itu kami tahu bagaimana cara mengatasinya dengan cepat.
Tahun pertama, kedua, ketiga, pernikahan kami mulai bisa menyesuaikan diri dengan beberapa keadaan rumah tangga secara alamiah. Itu terjadi begitu saja dengan proses yang kita lewati. Saat mentalku di bawah, istriku menjadi penyemangat ulung. Saat Istriku bersedih, spontan saja aku berusaha mencairkan suasana. Kami semakin tahu dengan peran masing-masing sebagai suami dan istri. Tidak sesempurna seperti pasangan ideal yang ada di cerita-cerita fiksi, tapi aku percaya semua punya jalan cerita masing-masing dengan segala proses lika-likunya. Begitu juga pernikahan. Bukan kesempurnaan hubungan yang dicari, tapi tentang semangat membangun bersama dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi. Couple goal? What the hell! Aku percaya tidak ada ada standar sebuah hubungan ideal! Semua punya kondisinya masing-masing.
Kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya anak kedua. Tuhan selalu berbaik hati. Setelah anak kedua lahir, tantangan berikutnya dalam berumah tangga menjadi bertambah level. Selalu ada saja kejadian yang membuat kita drop mental dan berujung perdebatan. Ego mulai menguasai lagi, kami sesaat hampir lupa bagaimana menyelesaikannya. Entahlah, banyak kejadian mulai melemahkan semangat kami. Yang kurasa memang lebih berat daripada sebelum anak kedua lahir. Tapi Tuhan selalu berbaik hati menghadirkan solusi penyelesaian semua pertikaian. Dan salah satunya ada kedua anak kami. Geraknya, tawanya, suaranya, tangisannya, parasnya, pertumbuhannya, adalah obat segala pertikaian antara kami sebagai pasangan suami istri.
Akhirnya, dengan segala prosesnya, kami menapaki empat tahun pernikahan. Alhamdulillah, hari ini, 16 Maret 2022 adalah ulang tahun pernikahan kami. Dengan tersenyum, kami menyambut hari ini, tanpa perayaan seperti kebanyakan orang. Tadi pagi Istriku mengecup keningku dan mengucapkan "Happy anniversary, Sayang." Aku tidak membalas, sengaja memang (Hehe, maaf ya, Sayang). Karena aku sudah menyiapkan ide menulis ini untuk mengucapkan, agar hari ini terkenang dengan waktu yang lama, agar nanti anak-anakku bisa membacanya, dan mengetahui betapa bahagianya kami sebagai pasangan dan sebagai orang tua, lewat sebuah tulisan.
Selamat empat tahun pernikahan, Istriku. Kita memang tidak pernah sempurna sebagai individu atau pasangan. Tapi percayalah dua ketidaksempurnaan yang bertemu akan menjadi sempurna dengan caranya sendiri, seperti rumus matematika, minus bertemu minus selalu menjadi plus.
Sayangku untukmu selalu, Bia.
Selasa, 15 Maret 2022
Voice Of Baceprot - [Not] Public Property : Kualitas Naik Kelas!
Kalau saya punya kuasa dalam menobatkan lagu terbaik Indonesia tahun ini, maka inilah dia lagunya!!!
Perjalanan VOB patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Dari awal karir dengan kekuatan sosial media, sampai kualitas lagu yang sekarang, benar-benar menginspirasi banyak musisi terutama musisi perempuan dan muda.
Lirik yang mereka usung selalu bertema sosial. Dengan musik distorsi tebal, bass betot slapping-an, dan dobel pedal, sepertinya akan sangat aneh memainkan lagu pop penuh nuansa asmara. Pas-lah lirik yang mereka suarakan dipadu dengan jiwa musik mereka. Di lagu ini, saya mendengar begitu kental nuansa lirik yang diusung Rage Against The Machine. Kalau mengulik dari awal bermusik mereka, memang beberapa lagu RATM seperti Killing In The Name Guerilla Radio sempet mereka bawakan dan viral di sosial media sampai akhirnya mendapat respon dari sang gitaris langsung, Tom Morello. Dan dari beberapa wawancara, mereka memang mengakui RATM menjadi salah satu pengaruh terbesar mereka dalam bermusik.
Oke, sekarang kita bahas kenapa lagu ini menjadi sangat menarik.
Intro lagu ini sangat kental dengan riff musik Metallica. Mungkin tanpa melihat video mereka, hanya mendengarkan lagu ini, kita akan mengira ini Metallica lagi bikin lagu baru. Dan setelah melihat visualnya, wow, pasti kita kaget ternyata yang bermain musik adalah tiga perempuan berparas imut, berjilbab pula.
Masuk ke bagian vokal mulai masuk. Nuansa musik langsung berubah groovy dengan beat drum yang catchy ala Chad Smith-nya RHCP, dan permainan bass yang sangat memukau dengan teknik slapping ala-ala Flea. Dari Metallica langsung anjlok ke RHCP? What a transition!!!
Masuk ke bagian bridge, bagian sebelum reff, nuansa rock and roll scale pentatonic, dengan beat ala-ala metal dobel pedal, sangat memacu adrenalin saat mendengarnya. Dan masuk bagian reff, nuansa musik System Of A Down langsung terasa kental dengan ciri khas perpindahan nada yang tidak umum berada di lagu-lagu populer.
Setelah reff pertama, dilanjut dengan riff gitar nuansa Metallica, lagi. Saya kira bakalan dilanjut dengan vokal masuk, eh ternyata ada bagian solo part dari gitaris. Dan, sedikit mengejutkan! Saya mendengar suara gitar solo Kurt Cobain-nya Nirvana! Uniknya, bass yang mengiringi masih model Flea saat ngebetot bass. What a blend!
Bagian song dengan nuansa musik Red Hot Chili Pepper langsung menyambut. Setelah itu disambut bagian bridge seperti sebelumnya.
Yang sangat mengejutkan, setelah bagian bridge dilanjut dengan rap ala-ala RATM yang diramu sangat ciamik, kuat dan menohok! Lirik yang dinyanyikan di bagian ini adalah penegasan dari semua pesan yang mereka suarakan di lagu ini. Bagian ini, di otakku yang sedang mencerna saat mendengarkan, menjadi klimaks dari lagu. Yang awalnya dimanjakan dengan nuansa lagu yang sangat bervariasi dan melimpah, kemudian bertemu bagian klimaks ini, seperti makan bakso yang isinya tidak cuma pentol. Pertama coba kuahnya, kemudian mienya, kemudian tahunya, kemudian somaynya, dan diakhiri dengan makan pentolnya. Benar-benar sensasi pengalaman yang melekat di pikiran.
Setelah bagian klimaks, dilanjut dengan bridge dan reff seperti sebelumnya. Kejutannya tidak sampai di situ, bagian yang benar-benar terakhir dari lagu ini, sang vokalis memakai teknik growl yang biasa ada di musik grind metal, death grind, atau semacamnya lah. Dan yang membuat unik, teknik growl itu disambut dengan backing vocal ala-ala idle pop cewek yang ceria semacam Babymetal. Teriakan ceria di akhir lagu pun mengiringi sampai akhir. Sepertinya memang unsur ini disengaja untuk mengingatkan pendengar, meskipun metal yang mereka mainkan, mereka masih perempuan muda yang ceria. Metal can be fun, right?
Kenapa lagu ini sangat membekas di pikiran saya? Karena tatanan sound-nya! Kalau melihat dari lagu sebelumnya, lagu ini sangat berbeda! Mendengarnya seperti mendengar band-band rock kenamaan dunia.
Nuansa soundnya benar-benar mewah, renyah dan nendang. Seperti semua instrumen keluar tapi dapat tempatnya masing-masing, tidak ada tabrakan sama sekali, semuanya terdengar dan tidak bercampur aduk.
Apa yang terjadi dengan tatanan sound mereka di lagu ini? Saya bela-belain buat mengusut siapa di balik lagu ini sampai terdengar sangat profesional dan berkelas.
Tentu saja saya terkejut mengetahuinya. Di balik lagi ini, ternyata ada dua nama sound engineer yang namanya sudah melegenda dan menangani tatanan sound banyak musisi dunia. Di bagian mixing digarap oleh Tue Madsen yang pernah menangani mixing dari Behemouth, Suicide Silence, bahkan Babymetal. Dan di bagian mastering digarap oleh Howie Weinberg yang reputasinya lihat saja di Google. Kamu akan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa orang yang menggarap mastering ratusan lagu Iron Maiden, bahkan album Nevermind-nya Nirvana, bisa andil menggarap mastering dari lagu Band yang baru terdengar namanya di dunia Internasional dan bahkan baru rilis beberapa lagu baru secara official. Hey VoB, kalian kok bisa sih kenal ni orang-orang kawakan musik dunia? Bayar berapa sih buat garap lagu di mereka? Sampai tulisan ini dibuat pun, mengingat fakta itu tetap membuat saya geleng-geleng kepala dan takjub bahagia.
Yang pasti, VoB menetapkan standar yang sangat tinggi untuk musik di Indonesia. Seperti mereka ingin bilang, "Gini loh harusnya musik Indonesia!!!"
Sekali lagi, buat saya, ini adalah lagu terbaik Indonesia tahun ini dan akan melegenda, setidaknya di hati saya.
Selamat, Voice of Baceprot! You Rooooock!!!
Senin, 19 April 2021
BINUR DAN HUTAN PENYIHIR Bagian 3
Jumat, 16 April 2021
BINUR DAN HUTAN PENYIHIR Bagian 2
Rabu, 14 April 2021
BINUR DAN HUTAN PENYIHIR
Sebuah Dongeng
Di sebuah desa bernama desa Siririti, hiduplah seorang penyihir yang sangat jahat. Lokasi rumahnya berada di tengah hutan. Hutan tersebut memang agak luas dan tidak ada yang berani menebang pohon di hutan yang ditinggali si penyihir. Menurut mitos yang beredar pada masyarakat di sana, yang berani menebang pohon di hutan sekitar rumah si penyihir, akan dikutuk menjadi pohon seperti yang ada di hutan. Menurut masyarakat juga, itulah kenapa hutan di sekitar rumah penyihir itu sangat lebat padahal sekitarnya hanya ada rumput dan semak belukar yang tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon lebat itu adalah wujud kutukan si penyihir pada orang-orang yang berani menebang pohon di sekitar rumah penyihir. Antara hutan dan sekitarnya seperti ada batas, tidak jelas tapi terasa nyata jika dirasakan.
Cerita tentang penyihir dan kutukannya itu memang sangat populer dibicarakan dari generasi ke generasi. Tidak ada anak kecil bahkan orang dewasa pun yang berani mendekati hutan apalagi masuk ke dalamnya. Mereka tidak tahu cerita benar atau tidak. Mereka juga tidak tahu pasti di tengah hutan itu terdapat rumah penyihir atau tidak. Mereka hanya tahu tidak akan menentang mitos yang sudah turun-temurun. Apa susahnya tidak mendekat ke hutan, kan? Pikir mereka.
Tapi dari sekian banyak orang, akan selalu ada orang yang membangkang. Entah itu memang hukum alam atau bagaimana, pasti akan ada. Mungkin ini berkaitan dengan hukum alam yang harus selalu seimbang, ada yang menurut dan ada yang memberontak. Dan sifat pemberontak itu muncul kepada si Binur, yang kelakuannya selalu membuat heboh masyarakat desa, mulai dari membuat gaduh saat adzan subuh dengan memukul bedug tak berirama, maunya dia sendiri, sampai membakar kemenyan di depan rumah-rumah warga karena dianggap, rumah-rumah warga ini bau tidak sedap, karena sampah yang berserakan dan malas dibersihkan. Karena Binur masih terhitung anak kecil, tidak ada yang berani untuk membalas secara fisik, palingan juga omelan biasa. Dan itu tidak dianggap serius oleh Binur. Orang-orang mulai mengerti dengan kelakuan si Binur karena menganggap begitulah kelakuan anak yatim piatu yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Binur adalah anak yang dibuang yang ditemukan oleh seorang kakek tua yang tinggal sendirian. Dengan ikhlas si kakek merawat dan membesarkan sampai pada akhirnya, si kakek meninggal saat Binur masih berusia 6 tahun. Dan saat itu juga, dia tinggal sendirian.
Dan sekarang, Binur berusia 15 tahun. Mandiri dan sangat tekun pergi ke masjid untuk sholat maupun mengaji, tapi memang kelakuannya di luar kebiasaan seumurannya pada umumnya. Apa yang dianggapnya salah, dia akan "memperbaiki" dengan caranya sendiri. Seperti saat dia membuat gaduh bedug masjid desa, Binur menganggap warga desa mulai tidak mau pergi ke masjid saat subuh karena berbagai alasan yang menurut Binur itu hanya kemalasan. Akhirnya sampai puncak keinginannya untuk memperingatkan warga desa agar tidak malas pergi ke masjid saat subuh, Binur langsung membuat gaduh dengan menabuh bedug masjid dengan brutal. Sontak semua warga terganggu dan kebanyakan marah karena dianggap mengganggu tidur mereka. Warga desa Siririti memang kompak kalau masalah emosi-emosian seperti ini, warga berbondong-bondong keluar dari rumah menuju masjid. Pak Ustadz Gofar, imam masjid, yang memang sedang menuju masjid pun terheran-heran dengan kedatangan warga yang sedang marah-marah. Pak Ustadz tidak bisa mendengar apa yang mereka proteskan karena suara bercampur aduk. Binur mulai melihat sosok para warga yang sedang marah menuju masjid. Dia tersenyum dan langsung lari menuju mimbar masjid, meraih mikrofon dan melantunkan adzan dengan lantang dan nyaring.
"Allohuakbar Alloooooohuakbar.."
Pak Ustadz mulai mengerti alurnya dan ini semua ulah si Binur. Warga yang marah-marah langsung diam mendengar suara adzan, agak termenung dan mulai berbalik badan seakan mau pulang padahal masjid sudah di depan mereka. Pak Ustadz menyadari keinginan Binur dan seketika menghampiri warga yang mulai mau pulang.
"Assalamualaikum bapak-bapak. Loh ini sudah di depan masjid kok mau pulang, sudah adzan juga. Ayo-ayo sholat subuh dulu, baru pulang. Sarung banyak di dalam. Ayo pak masuk." Ujar Pak Ustadz Gofar kepada warga.
Warga memang sangat hormat kepada Pak Ustadz Gofar, dan saat beliau berbicara seperti itu, tidak ada yang berani beralasan dan menuruti juga akhirnya.
Itulah salah satu kejadian "pemberontakan" yang dilakukan Binur, bernama lengkap Binurillah. Dan sifatnya itu akhirnya membawa dia penasaran terhadap hutan yang tidak pernah didekati oleh warga. Padahal, pikir Binur, siapa tahu di sana ada sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga. Rasa penasaran Binur dimulai saat para pedagang di pasar tiba-tiba membicarakan tentang "hutan penyihir". Binur juga berjualan ikan hasil tangkapannya dari sungai dan langsung menaruh perhatian penuh kepada cerita tersebut. Petualangan Binur dengan hutan penyihir dimulai..
Senin, 28 September 2020
BERANTAKAN
Sungguh, yang kurindukan dari anak dan istriku saat mereka berada di kampung halaman adalah suasana rumah yang berantakan.
Itu benar-benar terjadi dan aku tidak punya bayangan apapun mengenai hal itu. Awalnya, hari pertama ditinggal, semua biasa saja seperti sebelum-sebelumnya ketika aku tidak bisa ikut mereka pulang kampung. Pekerjaan mengharuskanku tetap menjadi perantau yang baik. Rumah memang sedikit berantakan dan aku biarkan, malas sekali karena masih banyak waktu nanti, pikirku.
Tapi beberapa hari kemudian, ketika aku punya banyak waktu luang dan bingung apa yang perlu aku lakukan, aku memutuskan untuk membersihkan dan merapikan "rumah". Mainan anakku yang tergeletak sana-sini, barang-barang bekas makan dan minum, bungkus-bungkus makanan dan minuman, semua aku bereskan sampai suasana di rumah terlihat "enak".
Saat selesai dan lagi-lagi aku bingung apa yang harus aku lakukan, membaca buku atau menulis cerita sudah terasa membosankan, aku merasakan ada sesuatu yang hilang di rumah. Entahlah, kupikir itu hanya perasaan rinduku kepada anak dan istriku. Tapi rinduku sedikit terobati dengan komunikasi tatap muka menggunakan panggilan video. Tetap saja, masih ada yang menggangjal.
Aku sempat merenung, setelah melakukan berbagai hal yang bisa kulakukan, tetap saja ada yang kurang dan masih menggelitik hati tapi aku tidak paham. Ah, mungkin perasaanku saja. Perasaanku sering kali merasa hal-hal yang tiba-tiba muncul dan itu tidak penting. Apa yang aku pikirkan? Aku juga tidak tahu, terus saja aku memikirkan. Semakin keras aku berpikir semakin tidak ketemu apa yang aku cari. Akhirnya, aku lampiaskan dengan membaca kitab suci. Sejenak menghasilkan ketenangan. Setelah beberapa jam, perasaan tak enak muncul lagi.
Akhirnya aku menyerah, membiarkan semua berjalan seperti biasa meskipun tetap mengganjal. Rasa menyerah membuatku malas membereskan rumah. Perkakas makan di wastafel aku biarkan menumpuk. Bungkus-bungkus makanan aku biarkan. Sprei kasur tidak aku rapikan. Bantal guling biarlah berantakan. Baju kotor aku biarkan menumpuk. Keadaan rumah kembali seperti semula.
Tapi anehnya, perasaanku tenang. Di dalam rumah yang berantakan, aku bisa membayangkan anakku sedang bermain. Namanya anak kecil, setelah mengambil barang, tidak akan dia bereskan. Aku bisa membayangkan istriku bermain dengan anakku dalam rumah yang berantakan. Imajinasi itu, dengan adanya semua yang tidak rapi, membuat rinduku sedikit terobati.
Lama-lama, setelah terlihat sangat berantakan, rumah aku bereskan kembali. Seperti sebelumnya, aku merasakan ada sesuatu yang hilang lagi. Setelah merenung, sepertinya aku menemukan apa yang aku pikirkan. Aku merindukan anak dan istriku menggeletakkan apapun di rumah semau mereka. Aneh sekali. Harusnya orang nyaman dengan rumah yang rapi, tapi aku tidak. Aku nyaman dengan rumah yang berantakan.
Setelah dua belas hari, istri dan anakku kembali dari kampung halaman. Anakku, sesampai di rumah, langsunh saja mengambil mainan yang dia suka. Menaruhnya disana-sini sesukanya. Biasanya, hatiku sangat greget melihat anakku memberantakkan sesuatu. Tapi aneh, aku menikmati perbuatannya. Aku menikmati hasil yang dia buat, rumah berantakan. Sungguh, ternyata, apa yang dilakukan anakku dan istriku, sungguh nikmat di mataku. Mereka selalu bahagia bermain bersama, meskipun pada akhirnya rumah amburadul. Rumah yang tidak rapi, mengingatkanku pada senyum tawa mereka. Sekarang aku menikmatinya, menikmati rumah berantakan yang mereka hasilkan.
Berantakan
Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...
-
Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...
-
Aku akan menulis, tepatnya mulai menulis setelah sekian lama keinginan itu terpendam. Aku juga tidak tahu apakah ini akan berakhir sama deng...
-
Tak terasa besok hari senin dan kedua anakku sekolah. Tapi tahukah kalau aku sama sekali belum membayar uang sekolah mereka? Hahaha. Mau d...