Jumat, 25 November 2022

Balada Kucing Berak

 Sungguh kita adalah orang yang sangat beruntung ketika diingatkan oleh Tuhan saat kita sedang lengah. Lengah tentang apa? Tentang kita yang sudah merasa bersih ketika kita merasa kita tidak pernah berbuat hal yang buruk. Karena hal itu, kita sudah merasa sangat bersih dan tidak punya dosa. Apalagi ditambah ritual ibadah wajib kita yang rutin, tidak pernah kurang. Tapi sesungguhnya, manusia biasa seperti kita, tidak akan pernah benar-benar bersih, selalu ada kotornya. Gawatnya, saat perasaan "merasa bersih" itu semakin menguat, seringkali kita "merasa benar" dan memandang remeh orang-orang di sekitar yang tabiatnya "terlihat" tidak sebaik kita. Saat itulah kita lengah. Dan sekali lagi, kita adalah orang-orang yang beruntung ketika diingatkan olehNya.

Cerita ini sangat ingin aku tulis. Entah kenapa kejadian tadi malam sangat membekas dan menempel di pikiran dan perasaan. Lengah. Itulah kata yang tepat tentang apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.

Semalam, seperti biasa, aku menikmati kesendirian di teras rumah sambil menyulut batang demi batang rokok yang aku punya. Momen itulah yang bisa aku nikmati seusai istri dan anak-anakku terlelap. Sangat sering aku lakukan sebagai renungan tentang apapun yang terjadi dalam kehidupanku. Kepulan asap yang aku hembus begitu menenangkan otak. Dibarengi dengan tontonan video Youtube yang sengaja aku cari untuk membuatku terhibur.
Aku seperti berbicara pada diri sendiri saat momen tersebut. Melihat tontonan Youtube yang menampilkan macam-macam karakter manusia, menimbulkan inspirasi yang sering menjawab pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang selalu muncul di kepala. Tanpa disadari, tontonan-tontonan "penuh daging" yang selalu aku lihat memunculkan perasaan-perasaan bahwa aku ternyata berada pada jalan yang benar, ternyata aku orang baik, ternyata aku orang yang diberkati dan beruntung, dan masih banyak perasaan yang membuatku sekaan menjadi orang yang sangat beruntung mendapatkan pemikiran yang selalu positif untuk menjadi orang baik. Ternyata sangat halus sekali sesuatu itu muncul. Itu adalah perasaan tinggi hati. Sombong.

Ternyata aku tidak sadar aku adalah orang yang sombong. Bukan tentang harta, tapi tentang segala kemudahan yang aku dapatkan. Penghasilan stabil, selalu bisa beli ini itu, dan selalu merasa bahagia setelah itu adalah beberapa dari segala kemudahan yang diberikan olehNya. Mungkin karena selama ini aku selalu berbuat baik kepada semua orang sekalipun orang itu membenci. Mempunyai pandangan seperti itu sepertinya menjebakku. Aku selalu melihat kehidupan seperti sebuah pertunjukan, setiap elemen punya perannya masing-masing. Orang-orang yang tidak seberuntung aku, selalu aku pandang "ya memang jalannya sudah seperti itu." Ternyata sudut pandang seperti itu menjebakku.

Ketika bertemu dengan karakter orang yang tidak aku suka, aku akan berusaha diam, tidak berusaha membahasnya lewat lisan atau apapun. Hanya pikiran yang kadang dibujuk setan dalam diri yang berusaha untuk memikirkan bahwa orang itu lebih buruk dari aku. Aku selalu berusaha tidak membahasnya sekalipun kepada istriku. Memang manusia itu lemah, aku juga bisa lengah karena bujukan setan. Saat lengah itulah aku merasa aku benar. Saat bertemu dengan orang yang karakternya tidak aku sukai, dan ditimpa kesusahan, aku akan merasa "ya itu karena selama ini tabiatnya seperti itu, Tuhan memberikan balasannya."

Ada salah satu tetanggaku, yang sedikit tempramental ketika menghadapi anaknya yang sedang membuat ulah. Suara jeritan si anak sangat terdengar dari tempat tinggalku. Sampai suara barang-barang dibanting, dipukul, disertai teriakan si anak juga pernah aku dengar. Aku pikir, anak belum lima tahun tidak tahu mana salah dan benar. Tidak perlu diperlakukan sangat kasar apalagi sampai bermain fisik. Saat itu aku merasa benar apa yang aku lakukan kepada anakku. Aku tidak pernah memperlakukan anakku seperti mereka, apalagi saat anak berulah. Aku merasa aku sangat beruntung punya pengetahuan bagaimana memperlakukan anak dengan baik. Dan saat itulah ternyata rasa sombong yang sangat tipis menyelip di dalam hati. Saat keluarga mereka ditimpa kesusahan, si bapak akhirnya kehilangan pekerjaan dan harus bekerja sebagai ojol yang waktunya benar-benar panjang dari pagi sampai tengah malam, aku hanya bisa menggumun dalam hati, "ya makanya jangan seperti itu ke anakmu, jadi Tuhan ngasih yang susah."

Yang barusan hanyalah satu contoh bagaimana kesombongan itu muncul. Meskipun itu halus, akhirnya terasa sangat mengganjal. Tuhan masih sangat berbaik hati memberikan kesadaran kalau aku salah, seperti yang terjadi tadi malam.

***

Sudah lama aku "tidak suka" dengan salah satu tetanggaku ini. Awal tinggal di tempatku sekarang, aku berusaha menyapa dan mengakrabkan diri kepada tetangga baru, termasuk beliau. Beliau tuna netra dan sepuh, tapi sudah kebiasaanku tidak pernah membeda-bedakan orang dari apapun keadaannya. Bercerita ya bercerita saja. Ngobrol ya ngobrol saja selama itu tidak mengarah kepada hal-hal yang tidak nyaman aku dengar. Singkat cerita, aku sedikit akrab dengan beliau karena aku dan beliau suka ngobrol.

Terbilang sering kami ngobrol ketika waktu senggang. Aku ke tempat beliau atau beliau aku undang ke tempatku. Saling ngobrol dan makin merasa akrab adalah yang aku rasakan. Selang beberapa waktu, karena aku disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan dan keluarga, aku jadi jarang bertamu ke tempat beliau. Jadinya, beliaulah yang sering datang ketika mendengarku sedang telepon atau menonton video Youtube di depan teras. Aku tidak bermasalah dengan hal itu. Bahkan aku senang didatangi untuk diajak berbincang. Dari awalnya ngobrol tentang kehidupan keluarganya di kampung, sampai aktivitas pekerjaan sebagai tukang pijat urat, bahkan sampai keluhan yang beliau punya tentang kehidupannya, pernah aku dengar. Aku masih tidak bermasalah dengan hal tersebut. Sampai akhirnya aku tahu bagaimana karakter aslinya yang aku "tidak suka".

Beliau terbilang sering datang ke tempatku ketika mendengar aku berada di depan teras. Dan selalu aku ajak masuk untuk ngobrol. Dari tema obrolan yang aku sebutkan tadi, akhirnya mengarah ke tema obrolan "ngomongin orang". Jujur, aku selalu menghindar dari lingkaran obrolan seperti itu, tidak nyaman didengar. Tapi mau bagaimana lagi, beliau sudah di tempatku dan aku cuma bisa mendengarkan. Karena beliau seorang yang sepuh, aku jadi enggan untuk membantah. Membicarakan tetangga-tetangga lain tentang keburukannya, bahkan kejelekan anggota keluarganya, adalah hal yang beliau lakukan saat itu. Dalam hati aku segera ingin menyudahi pembicaraan macam itu tapi seakan sulit sekali mencari jeda untuk menghentikan. Jadinya aku dengarkan ceritanya sampai habis. Aku tidak mau berburuk sangka karena hal tersebut. Bodo amat mikirin karakter orang lain, yang penting aku tidak seperti itu.

Aku juga sering ngobrol dengan tetangga yang lain. Di salah satu obrolan, mereka menceritakan kejelekan si bapak tukang pijat. Ah, aku tidak peduli, aku tidak mau memikirkan kejelekan orang lain. Tapi obrolan beliau terakhir membuatku menyangkut pautkan dengan cerita tetangga yang lain. Apa ini karakter asli beliau? Menyebalkan? Kenapa mereka "tidak terlalu suka" dengan beliau? Ketika pertanyaan macam itu muncul, aku selalu berusaha untuk menghilangkannya. Aku tidak mau membebani otakku dengan hal yang tidak berguna.

Sampai akhirnya, kejadian yang membuatku kehilangan "respect" kepada beliau terjadi. Suatu hari, aku sedang senggang dan ingin di dalam saja. Sengaja pintu ditutup agar tidak ada yang mengganggu. Aku sedang bersama istri dan anak-anakku. Di tengah obrolan dengan istriku, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Dan muncullah beliau dengan memanggil namaku. Serius aku kaget. Kok tiba-tiba membuka pintu tanpa permisi? Kemudian aku tanya ada apa. Jawab beliau, hanya ingin ngobrol. Seketika hormatku kepada beliau sebagai orang tua runtuh. Beliau memang berbeda, tuna netra, tapi apa bisa seenaknya masuk ke rumah orang tanpa permisi? Awalnya aku memaklumi beliau sering datang ke tempatku. Meskipun saat sangat lelah sekalipun, aku akan mempersilahkan beliau masuk ketika datang. Tapi yang barusan terjadi? Benar-benar tidak pernah aku bayangkan. Bahkan saudaraku sendiri tidak pernah melakukan itu. Mungkin beliau melakukan itu karena sudah merasa sangat akrab denganku.

Sejak kejadian itu, aku berusaha menghindar untuk bertemu dengan beliau. Ketika beliau datang, aku bilang mau keluar padahal kenyataannya tidak. Bahkan beliau melakukan hal yang sama lagi, membuka pintu dan kemudian masuk dan memanggilku. Aku sengaja tidak menjawab agar disangka sedang tidur. Kemudian beliau kembali pulang. Dan sejak kejadian itu, kami tidak pernah mengobrol lagi, hanya bertegur sapa sekedarnya, karena memang aku yang selalu menghindar. Dari situ aku seperti menjadi "jahat".

Awal aku kenal dengan beliau, aku sangat iba karena ketidakbisaannya melihat. Sering aku menawarkan bantuan ketika beliau terlihat kesusahan melakukan sesuatu sendiri. Beliau hidup sendiri sebagai tuna netra. Tapi sejak kejadian yang membuatku "ilfeel", aku jadi seperti membiarkan beliau melakukan segalanya sendiri. Bahkan pada saat tampak membutuhkan bantuan, aku hanya diam berusaha tidak bersuara dan menimbulkan suara. Kadang aku berpikir kenapa aku menjadi jahat? Tapi aku terus memperhatikan, para tetangga lain juga melakukan hal yang sama sejak awal aku datang. Apa ini yang mereka rasakan? Tidak "respect" kepada beliau. Saat itu, berkelitku hanya aku tidak mau berteman lebih jauh dengan orang yang bisa memberikan pengaruh buruk. Apa salahnya?

"Tidak respect" itu berlangsung lama. Sampai akhirnya aku enggan sekali untuk bertegur sapa. Aku memilih untuk diam ketika berpapasan karena beliau juga tidak akan tahu siapa yang lewat. Itu karena aku selalu menghindar. Ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan beliau yang akhirnya aku tahu dan menurutku sangat mengganggu tetangga yang lain, termasuk aku. Bahkan saat ibu dan istri beliau meninggal, aku tidak merasa harus menemui beliau untuk membantunya memberikan semangat, sekedar mengurangi beban perasaannya. Merasa jahat sering kali muncul tapi di sisi lain aku tidak ingin hati dan pikiranku kotor karena ucapan dan perbuatan beliau. Aku selalu ingin menjaga hatiku bersih dengan menghindari hal-hal yang berpengaruh buruk.

Karena itu, aku merasa mempunyai posisi di atas dengan akhlak yang aku punya. Aku hampir tidak pernah berlaku menyebalkan kepada tetanggaku. Aku merasa lebih benar. Aku merasa lebih "suci". Aku merasa lebih-lebih yang lain daripada beliau, yang akhirnya berpikir akhlakku yang "benar" itulah yang membuatku mendapat segala kemudahan dariNya. Ternyata aku salah. Tuhan masih berbaik hati mengingatkanku agar tidak terlalu tinggi lagi dan tidak jatuh lebih sakit.

Semalam, seperti biasa aku duduk di teras sendiri sambil merokok dan menonton video youtube. Aku sekilas melihat beliau sudah masuk beristirahat. Di terasnya terdapat baju bekas yang difungsikan sebagai keset. Semua terlihat seperti biasa. Aku tidak terlalu menghiraukan lagi beliau dan apa yang ada di sekitarnya, termasuk tempat tinggalnya. Tiba-tiba kucing datang ke teras beliau dan berhenti di keset. Biasanya, kucing ketika berada di atas alas kain, langsung merebahkan diri. Tapi si kucing tetap dalam posisi duduk. Aku hanya memperhatikan, sedikit menduga apa yang akan terjadi. Ternyata dugaanku benar, si kucing mau buang air besar di situ. Aku hanya berbicara di dalam hati, "loh loh, kok mau poop disitu?". Saat si kucing mengambil ancang-ancang untuk buang air besar, terdengar suara dari dalam tempat tinggal si bapak tukang pijat. Si kucing kaget dan mengurungkan ancang-ancangnya.

Setelah keadaan sunyi kembali, si kucing siap-siap melakukan aksinya kembali. Si kucing ternyata masih ingin buang air besar di situ. Aku masih mempunyai rasa iba terhadap beliau meskipun tingkah lakunya sedikit menyebalkan, karena memang beliau punya keterbatasan. Terlintas ingin aku usir si kucing agar tidak buang air di keset agar beliau tidak kena "prank" ketika menginjak keset ternyata malah menginjak tai kucing. Tiba-tiba seperti ada yang membujuk dalam pikiranku, "halah ngapain diusir? Biar aja tai kucing disitu. Dia pantas kena tai itu. Toh selama ini dia menyebalkan." Aku bingung apakah aku mau membantu atau tidak. Dalam pikiranku seperti ada yang berdebat. Perdebatan itu semakin sengit sampai-sampai aku hanya bisa termenung melihat si kucing melakukan aksi tidak sopannya. Beberapa buah "poop" yang tidak aku hitung berhasil mendarat di keset. Dengan santainya dia menutupinya dengan bagian keset yang lain kemudian kabur.

Setelah itu terjadi, perdebatan yang tadi sangat hebat lenyap seketika dan menyisakan ampas di hati. Aku merasa sangat bersalah tidak mengusir si kucing. Rasa bersalahku semakin menjadi. Aku merasa bersalah kepada si bapak tukang pijat. Kalau aku mengusir si kucing, harusnya beliau tidak kena "prank" tai kucing. Padahal hanya sekedar bersuara "hush hush" si kucing pasti kabur. Ternyata aku selama ini merasa benar dan lebih dari beliau sehingga menghindarinya menjadi alasan agar aku tidak terpengaruh hal buruk. Tanpa sadar yang aku lakukan menimbulkan dendam halus dalam diri. Padahal selama ini aku berusaha berbuat baik kepada yang lain, ternyata berbuat baik yang pilih-pilih. Perbuatan baikku ternyata membuatku merasa paling baik dari orang yang menurutku tidak lebih baik. Inspirasi-inspirasi kehidupan yang aku baca dan tonton seperti tergambar kembali dan membandingkan apa yang baru saja aku perbuat. Percuma nonton yang "penuh daging" tapi ternyata sama saja kelakuannya.

Setelah itu, aku teringat ucapan yang aku dapat dari video instagram sore harinya pada hari itu. Kurang lebih seperti ini, "jika setan tidak bisa membuatmu jahat, setan akan membuat merasa paling baik dan benar dan lebih dari yang lain-lain." Sungguh ternyata Tuhan telah mengingatkanku di awal tapi tidak kusadari. Sungguh Tuhan telah mengingatkanku tidak cuma dengan ilmu di buku atau video, tapi dengan kehidupan nyata. Bahkan seekor kucing yang buang air sembarangan bisa mengingatkan kalau aku bukan manusia yang baik-baik amat.

Apapun yang kamu lihat dan temui, bisa jadi itu pengingat agar kamu waspada dan tidak lengah. Bersyukurlah orang-orang yang peka dengan hal-hal tersebut.


Rabu, 16 Maret 2022

Untuk Istriku

 


Usia pernikahan empat tahun itu adalah awal dari kebangkitan kita, Sayang.

Tadi siang aku mengucapkan kalimat itu pada Istriku. Bukan membual, tapi adalah doa tulus setelah lika-liku yang kami alami selama empat tahun ini.

Awal pernikahan adalah transisi kehidupan yang luar biasa berat untuk dicerna. Dari seorang bujangan menjadi seseorang yang tiba-tiba harus berbagi segalanya dengan orang lain bukanlah proses yang mudah untuk dilewati. Ego pun menjadi peran utama yang sangat mendominasi. Terutama masalah finansial.

Uang layaknya bahan bakar mesin yang akan membuat kita bertenaga atau tidak dalam menjalani kehidupan. Ketika bahan bakar itu dibagi, maka terbagi pula tenaga kita. Dan pada saat itu terjadi, egolah yang pertama kali menghasut untuk bertindak semaunya. "Tadi buat apa aja uangnya? Kok beli ini sih? Ini kan gak guna? Jangan boros-boros lah, gimana sampai akhir bulan?" Itulah sederet contoh pertanyaan yang muncul begitu saja tanpa dipikirkan apa efek setelahnya. Mungkin saat itu istriku sakit hati, kaget, sedih atau yang lain yang aku tidak pernah perhatikan. Tapi itulah proses transisi dari seorang lajang menjadi seorang yang berumah tangga. Merasa menjadi kepala keluarga kemudian bisa mengatur segalanya. Ada semacam rasa "tidak ikhlas" kalau uang yang aku hasilkan dibagi dengan orang lain. Mungkin itu perumpamaannya.

Tapi lambat laun, aku mengerti seperti apa Istriku dan bagaimana sifatnya - apa yang membuatnya sedih dan bahagia. Dengan banyak proses yang muncul begitu saja, sering kali hatiku terenyuh melihatnya bersedih atas kelakuanku, meskipun tanpa bicara. Begitu saja aku tahu kapan dia sedih dan kapan dia bahagia. Itukah ikatan batin? Mengerti tanpa harus bicara? Bukan! Aku sangat sadar diri karena terlalu sering membuatnya bersedih.

Setelah berbagai macam kejadian, aku sedikit demi sedikit bisa menurunkan egoku. Memang tidak mudah, sekali dua kali masih keceplosan, tapi tidak separah awal-awal. Tapi memang aku menyadari, berumah tangga itu adalah menyatukan dua pikiran yang berbeda, tidak akan selalu sama dan akan selalu ada bentrokan. Sekali lagi tanpa banyak bicara, kami bisa memahami satu sama lain. Untungnya Tuhan menganugrahi kami sifat yang ketika cek-cok, kami tidak saling berteriak. Kami hanya diam sampai ego kami benar-benar mereda dan kemudian membicarakannya.

Percek-cokan itu ternyata semakin berkurang dengan terbentuknya janin di rahim istriku. Fokus kami lebih ke kesehatan calon anak pertama daripada ke hal remeh yang sering diperdebatkan. Pembicaraan tentang bayi dengan segala pembahasan menjadi topik hangat yang selalu membuat kami menjadi sangat mesra. Tuhan sangat berbaik hati, selalu berbaik hati bahkan. Alhamdulillah.

Apalagi menjelang proses kelahiran, ego kami mulai mereda drastis. Aku sadar aku orang yang sangat egois dalam beberapa kondisi, tapi aku memaksakan menutupinya hanya untuk tidak membuat Istriku bersedih, karena kesehatan janin juga sangat berpengaruh pada kondisi emosional Ibunya. Aku menjadi lebih sering mengalah tanpa disadari dan Istriku juga terlihat berubah menjadi seorang yang lebih dewasa. Kami tidak lagi sering memperdebatkan masalah remeh-temeh. Fokus kami adalah kebahagiaan yang akan lahir dari rahim Istriku.

Kelahiran anak pertama benar-benar membuatku terharu. Terharu akan perjuangan Istriku dan paras anak pertamaku yang baru lahir. Aku tidak menyangka Istriku adalah seorang yang kuat, bahkan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mental menjadi seorang Ibu. Banyak cerita dari manapun, kalau perempuan yang mengandung itu merasakan sakit yang luar biasa. Banyak juga yang mengeluh dari level tinggi sampai terendah. Tapi, Istriku hampir tidak mengucapkan keluhan sedikitpun! Sakitnya dia nikmati, semuanya prosesnya dia syukuri, dan itu yang membuatku selalu terharu kalau mengingatnya. Segala Puji bagi Tuhan Engkau telah menganugrahiku seorang perempuan pendamping hidup yang sangat kuat! Dengan segala keterbatasan dan kejelekanku, kekuatan istriku menjadi obat mujarab yang melengkapi. Dan paras anakku yang baru lahir. Aku menangis ketika mengumandangkan adzan di telinganya. Ternyata bayi baru lahir adalah lukisan sekaligus nyanyian yang sangat indah. Semua ego terkuras habis saat itu. Magis yang indah.

Tapi memang bagaimanapun, pernikahan adalah menyatukan dua kepala yang berbeda, tidak akan seterusnya klop. Saat-saat merawat dan membesarkan bayi adalah momen yang sangat indah sampai-sampai kami lupa kebutuhan pribadi masing-masing. Dan proses itu pun masih dibarengi dengan ego kita yang sesekali berbentur. Namun setelah itu kami tahu bagaimana cara mengatasinya dengan cepat.

Tahun pertama, kedua, ketiga, pernikahan kami mulai bisa menyesuaikan diri dengan beberapa keadaan rumah tangga secara alamiah. Itu terjadi begitu saja dengan proses yang kita lewati. Saat mentalku di bawah, istriku menjadi penyemangat ulung. Saat Istriku bersedih, spontan saja aku berusaha mencairkan suasana. Kami semakin tahu dengan peran masing-masing sebagai suami dan istri. Tidak sesempurna seperti pasangan ideal yang ada di cerita-cerita fiksi, tapi aku percaya semua punya jalan cerita masing-masing dengan segala proses lika-likunya. Begitu juga pernikahan. Bukan kesempurnaan hubungan yang dicari, tapi tentang semangat membangun bersama dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi. Couple goal? What the hell! Aku percaya tidak ada ada standar sebuah hubungan ideal! Semua punya kondisinya masing-masing.

Kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya anak kedua. Tuhan selalu berbaik hati. Setelah anak kedua lahir, tantangan berikutnya dalam berumah tangga menjadi bertambah level. Selalu ada saja kejadian yang membuat kita drop mental dan berujung perdebatan. Ego mulai menguasai lagi, kami sesaat hampir lupa bagaimana menyelesaikannya. Entahlah, banyak kejadian mulai melemahkan semangat kami. Yang kurasa memang lebih berat daripada sebelum anak kedua lahir. Tapi Tuhan selalu berbaik hati menghadirkan solusi penyelesaian semua pertikaian. Dan salah satunya ada kedua anak kami. Geraknya, tawanya, suaranya, tangisannya, parasnya, pertumbuhannya, adalah obat segala pertikaian antara kami sebagai pasangan suami istri.

Akhirnya, dengan segala prosesnya, kami menapaki empat tahun pernikahan. Alhamdulillah, hari ini, 16 Maret 2022 adalah ulang tahun pernikahan kami. Dengan tersenyum, kami menyambut hari ini, tanpa perayaan seperti kebanyakan orang. Tadi pagi Istriku mengecup keningku dan mengucapkan "Happy anniversary, Sayang." Aku tidak membalas, sengaja memang (Hehe, maaf ya, Sayang). Karena aku sudah menyiapkan ide menulis ini untuk mengucapkan, agar hari ini terkenang dengan waktu yang lama, agar nanti anak-anakku bisa membacanya, dan mengetahui betapa bahagianya kami sebagai pasangan dan sebagai orang tua, lewat sebuah tulisan.

Selamat empat tahun pernikahan, Istriku. Kita memang tidak pernah sempurna sebagai individu atau pasangan. Tapi percayalah dua ketidaksempurnaan yang bertemu akan menjadi sempurna dengan caranya sendiri, seperti rumus matematika, minus bertemu minus selalu menjadi plus.

Sayangku untukmu selalu, Bia.


Selasa, 15 Maret 2022

Voice Of Baceprot - [Not] Public Property : Kualitas Naik Kelas!

 


Kalau saya punya kuasa dalam menobatkan lagu terbaik Indonesia tahun ini, maka inilah dia lagunya!!!

Perjalanan VOB patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Dari awal karir dengan kekuatan sosial media, sampai kualitas lagu yang sekarang, benar-benar menginspirasi banyak musisi terutama musisi perempuan dan muda.

Lirik yang mereka usung selalu bertema sosial. Dengan musik distorsi tebal, bass betot slapping-an, dan dobel pedal, sepertinya akan sangat aneh memainkan lagu pop penuh nuansa asmara. Pas-lah lirik yang mereka suarakan dipadu dengan jiwa musik mereka. Di lagu ini, saya mendengar begitu kental nuansa lirik yang diusung Rage Against The Machine. Kalau mengulik dari awal bermusik mereka, memang beberapa lagu RATM seperti Killing In The Name Guerilla Radio sempet mereka bawakan dan viral di sosial media sampai akhirnya mendapat respon dari sang gitaris langsung, Tom Morello. Dan dari beberapa wawancara, mereka memang mengakui RATM menjadi salah satu pengaruh terbesar mereka dalam bermusik.

Oke, sekarang kita bahas kenapa lagu ini menjadi sangat menarik.

Intro lagu ini sangat kental dengan riff musik Metallica. Mungkin tanpa melihat video mereka, hanya mendengarkan lagu ini, kita akan mengira ini Metallica lagi bikin lagu baru. Dan setelah melihat visualnya, wow, pasti kita kaget ternyata yang bermain musik adalah tiga perempuan berparas imut, berjilbab pula.

Masuk ke bagian vokal mulai masuk. Nuansa musik langsung berubah groovy dengan beat drum yang catchy ala Chad Smith-nya RHCP, dan permainan bass yang sangat memukau dengan teknik slapping ala-ala Flea. Dari Metallica langsung anjlok ke RHCP? What a transition!!!

Masuk ke bagian bridge, bagian sebelum reff, nuansa rock and roll scale pentatonic, dengan beat ala-ala metal dobel pedal, sangat memacu adrenalin saat mendengarnya. Dan masuk bagian reff, nuansa musik System Of A Down langsung terasa kental dengan ciri khas perpindahan nada yang tidak umum berada di lagu-lagu populer.

Setelah reff pertama, dilanjut dengan riff gitar nuansa Metallica, lagi. Saya kira bakalan dilanjut dengan vokal masuk, eh ternyata ada bagian solo part dari gitaris. Dan, sedikit mengejutkan! Saya mendengar suara gitar solo Kurt Cobain-nya Nirvana! Uniknya, bass yang mengiringi masih model Flea saat ngebetot bass. What a blend!

Bagian song dengan nuansa musik Red Hot Chili Pepper langsung menyambut. Setelah itu disambut bagian bridge seperti sebelumnya.

Yang sangat mengejutkan, setelah bagian bridge dilanjut dengan rap ala-ala RATM yang diramu sangat ciamik, kuat dan menohok! Lirik yang dinyanyikan di bagian ini adalah penegasan dari semua pesan yang mereka suarakan di lagu ini. Bagian ini, di otakku yang sedang mencerna saat mendengarkan, menjadi klimaks dari lagu. Yang awalnya dimanjakan dengan nuansa lagu yang sangat bervariasi dan melimpah, kemudian bertemu bagian klimaks ini, seperti makan bakso yang isinya tidak cuma pentol. Pertama coba kuahnya, kemudian mienya, kemudian tahunya, kemudian somaynya, dan diakhiri dengan makan pentolnya. Benar-benar sensasi pengalaman yang melekat di pikiran.

Setelah bagian klimaks, dilanjut dengan bridge dan reff seperti sebelumnya. Kejutannya tidak sampai di situ, bagian yang benar-benar terakhir dari lagu ini, sang vokalis memakai teknik growl yang biasa ada di musik grind metal, death grind, atau semacamnya lah. Dan yang membuat unik, teknik growl itu disambut dengan backing vocal ala-ala idle pop cewek yang ceria semacam Babymetal. Teriakan ceria di akhir lagu pun mengiringi sampai akhir. Sepertinya memang unsur ini disengaja untuk mengingatkan pendengar, meskipun metal yang mereka mainkan, mereka masih perempuan muda yang ceria. Metal can be fun, right?

Kenapa lagu ini sangat membekas di pikiran saya? Karena tatanan sound-nya! Kalau melihat dari lagu sebelumnya, lagu ini sangat berbeda! Mendengarnya seperti mendengar band-band rock kenamaan dunia.

Nuansa soundnya benar-benar mewah, renyah dan nendang. Seperti semua instrumen keluar tapi dapat tempatnya masing-masing, tidak ada tabrakan sama sekali, semuanya terdengar dan tidak bercampur aduk.

Apa yang terjadi dengan tatanan sound mereka di lagu ini? Saya bela-belain buat mengusut siapa di balik lagu ini sampai terdengar sangat profesional dan berkelas.

Tentu saja saya terkejut mengetahuinya. Di balik lagi ini, ternyata ada dua nama sound engineer yang namanya sudah melegenda dan menangani tatanan sound banyak musisi dunia. Di bagian mixing digarap oleh Tue Madsen yang pernah menangani mixing dari Behemouth, Suicide Silence, bahkan Babymetal. Dan di bagian mastering digarap oleh Howie Weinberg yang reputasinya lihat saja di Google. Kamu akan geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa orang yang menggarap mastering ratusan lagu Iron Maiden, bahkan album Nevermind-nya Nirvana, bisa andil menggarap mastering dari lagu Band yang baru terdengar namanya di dunia Internasional dan bahkan baru rilis beberapa lagu baru secara official. Hey VoB, kalian kok bisa sih kenal ni orang-orang kawakan musik dunia? Bayar berapa sih buat garap lagu di mereka? Sampai tulisan ini dibuat pun, mengingat fakta itu tetap membuat saya geleng-geleng kepala dan takjub bahagia.

Yang pasti, VoB menetapkan standar yang sangat tinggi untuk musik di Indonesia. Seperti mereka ingin bilang, "Gini loh harusnya musik Indonesia!!!"

Sekali lagi, buat saya, ini adalah lagu terbaik Indonesia tahun ini dan akan melegenda, setidaknya di hati saya.

Selamat, Voice of Baceprot! You Rooooock!!!

Senin, 19 April 2021

BINUR DAN HUTAN PENYIHIR Bagian 3

Mengaji dengan Pak Ustadz Gofar memang selalu asik. Tidak hanya diajarkan membaca kitab suci, tapi juga dengan cerita-cerita tentang budi pekerti para pejuang agama yang terdahulu. Mulai mengaji adalah satu jam sebelum adzan maghrib. Setengah jam dipakai untuk membaca Al-Qur'an, sisanya dipakai untuk bercerita agar para muridnya mengaji juga tahu bagaimana peristiwa pada jaman dahulu dan harapan beliau murid-muridnya bisa mengambil pelajaran dari setiap cerita. Gaya berceritanya pun juga sangat menyenangkan. Itulah kenapa anak-anak kecil yang mengaji di masjid hampir tidak pernah absen. Salah satunya adalah Binur, yang bisa dibilang tidak pernah tidak hadir.

Melihat Binur termenung sambil menunggu yang lain datang, Pak Ustadz Gofar sedang merencanakan sesuatu untuknya. Beliau menghampiri muridnya yang duduk sendirian itu dan duduk di sebelahnya.

"Pak Ustadz?" Tanya Binur kaget.

"Kaget ya, Nur?" Jawab Pak Ustadz Gofar sambil tersenyum.

Binur hanya tersenyum lebar salah tingkah. Kemudian memandang kedepan lagi. Hanya ada beberapa pepohonan besar yang menjadi hiasan di depan masjid.

"Binur, kamu tahu tidak pohon-pohon besar di depan masjid ini siapa yang menanam?" Tanya Pak Ustadz tiba-tiba.

Ekspresi Binur menandakan dia kaget lagi, tapi tidak sekaget yang pertama. Dalam hati dia heran, tumben sekali Pak Ustadz menanyakan hal aneh macam ini.

"Hmm, tidak tahu Pak Ustadz. Yang jelas pasti manusia." Jawab Binur sekena pikirannya.

"Yakin yang menanam itu manusia?" Tanya Pak Ustadz lagi dan lebih membuat terkejut dengan pertanyaan yang tidak terduga oleh Binur.

"Lah, kalau bukan manusia siapa lagi Pak Ustadz? Jin? Setan?" Dengan perasaan penasaran Binur mulai bertanya.

"Bisa jadi jin, bisa jadi setan, bisa jadi raksasa, bisa jadi apapun." Jawab Pak Ustadz sambil tertawa kecil.

Jawaban Pak Ustadz membuat Binur heran ditunjukkan dengan ekspresinya yang mengernyitkan dahi. Tumben Pak Ustadz memberikan jawaban seperti ini, batin Binur. Tapi, akhirnya terlintas cerita yang pernah diobrolkan oleh Pak Karni dan Pak Sugeng, kalau pohon-pohon di hutan penyihir sebagian adalah orang-orang usil yang ingin menebang pohon di sana. Terbersit keinginan untuk bertanya tentang hutan penyihir pada Pak Ustadz Gofar. Tapi hatinya menolak, belum saatnya, atau tidak perlu, jangan-jangan ketika ditanyakan Pak Ustadz hanya tersenyum dan Binur tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Tapi keinginannya untuk bertanya semakin besar. Akhirnya dia mengajukan pertanyaan yang sedikit menyinggung tentang hutan penyihir.

"Atau mungkin, pohon-pohon ini asalnya dari orang-orang jahat yang mau merusak desa ya, Pak Ustadz?"

Tawa Pak Ustadz Gofar sedikit meledak. Binur pun jadi tersenyum salah tingkah lagi.

"Binur.. Binur.. Kamu ini ada-ada saja. Kalau pohon ini dari orang-orang yang dikutuk jadi pohon, sudah lama orang-orang lihat penampakan di depan masjid ini." Jawab Pak Ustadz sambil berusaha meredakan tawa.

Masuk akal juga jawaban Pak Ustadz, pikir Binur. Dari kejauhan sudah terlihat gerombolan teman-temannya yang akan mengaji sedang berjalan ceria sambil bersenda gurau. Pak Ustadz pun beranjak dari tempatnya duduk dan Binur pun mengikuti. Ketika dia berdiri, Pak Ustadz dari kejauhan seperti menunggu dirinya menatap beliau. Memang didapatinya Pak Ustadz sedang tersenyum kepadanya. Binur heran, kenapa Pak Ustadz tersenyum kepadanya. Dan yang lebih membuatnya heran, apa yang diucapkan Pak Ustadz ketika dia menatap beliau. Memang lirih tapi Binur bisa mendengarnya.

"Tapi bisa saja itu benar, Nur."

Binur semakin bingung mencerna perkataan Pak Ustadz barusan. Apanya yang benar? Pertanyaan terakhirnya tadi? Kenapa Pak Ustadz tiba-tiba mengiyakan? Dalam hati Binur timbul pertanyaan-pertanyaan yang sedang bergejolak. Ingin rasanya menghampiri Pak Ustadz tapi teman-temannya sudah mulai naik ke teras masjid dan Pak Ustadz sudah berpaling dan duduk di tempatnya untuk mengajar. Tanda kegiatan mengaji sudah akan dimulai. Binur mengurungkan niatnya dan mulai duduk juga dengan pikiran yang masih melayang-layang dengan pertanyaan. Teman-temannya pun sudah mulai masuk dan duduk. Suasana masih ramai dengan yang berbincang-bincang menunggu semuanya duduk. Pak Ustadz dengan wajah tenangnya seperti biasanya. Apa Pak Ustadz tahu tentang hutan penyihir? Tiba-tiba terbersit pertanyaan itu. Tapi buru-buru dia menghapuskan itu dari pikirannya. Bisa dipikirkan nanti, sekarang mengaji, ucap Binur dalam hati.

Meskipun sudah meneguhkan hati untuk fokus mengaji, tetap saja pikirannya melayang membayangkan apakah Pak Ustadz tahu tentang hutan penyihir atau tidak. Seperti ada setan halus yang bilang ke Binur, "Pak Ustadz pasti tahu, ayo tanya Binur, sekarang saja, mumpung banyak teman-temanmu." Terus saja ajakan itu berulang-ulang sampai fokus mengajinya buyar. Pengucapan huruf-huruf dan panjang pendeknya banyak yang salah dan meleset. Binur mengeluh dalam hati, kenapa jadi susah sekali membaca Al-Qur'an ini. Padahal biasanya lancar-lancar saja.

"Ayo fokus fokus fokus, konsentrasi!" Ucapnya lirih memotivasi diri.

Tapi tetap saja, mengaji saat ini rasanya susah sekali. Akhirnya Binur tersadar, pertanyaan dan penasaran dalam kepalanya itu yang menghalangi konsentrasi.

Binur menghela nafas saat tiba gilirannya menghadap Pak Ustadz Gofar untuk membacakan bacaan yang tadi sudah dibaca duluan untuk dipelajari. Tradisi mengaji membaca Al-Qur'an pada umumnya seperti itu, disuruh untuk membaca sendiri-sendiri kemudian menghadap kepada guru ngaji agar guru bisa tahu yang mana yang belum lancar dan yang mana yang salah pengucapannya dan lain-lain. Saat berada di depan Pak Ustadz, hal tidak biasa terjadi. Tumben sekali Binur merasa deg-degan saat bertemu Pak Ustadz. Tiba-tiba grogi. Biasanya santai saja Binur ketika bertemu, saling tatap muka adu mata pun tidak masalah. Sekarang, seperti tiba-tiba leher tidak bisa digerakkan tegak, maunya menunduk, tidak berani menatap Pak Ustadz.

"Binur, kamu kenapa?" Tanya Pak Ustadz Gofar.

"Emm tidak apa-apa emmm anu emm tidak ada apa-apa, Pak Ustadz." Binur mendadak gagap bicara.

Pak Ustadz sudah mengerti yang terjadi. Binur sangat penasaran dengan pertanyaan tentang kebenaran hutan penyihir. Pertanyaan itu semakin menghantui sejak Pak Ustadz memberikan sedikit isyarat kepada Binur. Benar juga kalau bacaannya beberapa kali kesleo. Pak Ustadz tersenyum tanpa diketahui Binur. Beliau sudah merencanakan sesuatu untuk Binur. Dan yang pertama adalah memberikan isyarat yang lebih lengkap untuk muridnya yang sedang penasaran tentang hutan penyihir.

Setengah jam sudah berlalu sejak awal dimulai tadi. Semua murid sudah menghadap Pak Ustadz. Semuanya sedang ceria dan sumringah karena memang waktu setelah membaca Al-Qur'an adalah yang paling dinanti-nanti semua anak. Tapi tidak dengan Binur yang sedang sedikit melamun dan tidak ceria seperti yang lain. Pak Ustadz juga memperhatikan. Tapi beliau selalu tersenyum melihat Binur yang berpikir keras. Salah satu keinginannya mungkin akan terpenuhi lewat Binur, tapi perjalanannya masih panjang.

"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh." Ucap Pak Ustadz di tengah keceriaan para muridnya yang sedang saling ngobrol. Sontak semua terkejut langsung menghentikan obrolan dan menjawab salam. Tapi semua memasang wajah cerah karena momen yang ditunggu sudah datang.

"Hari ini Pak Ustadz akan bercerita tentang sesuatu yang sedikit menyeramkan. Apakah kalian siap?"

Semuanya diam, tidak seperti biasanya. Kalau ditanya seperti itu semua akan menjawab "siaaaaap" dengan lantang. Tapi ini beda karena ada kata "menyeramkan". Jadinya semua masih berpikir untuk menjawab. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, isyarat mau bertanya.

"Ya silahkan, Jono. Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Pak Ustadz Gofar.

"Hmm, begini Pak Ustadz. Sekarang kan malam jumat kliwon, apa tidak apa-apa kalau ceritanya seram-seram gitu?" Tanya Jono dengan nada yang semakin ke belakang semakin lirih.

Pak Ustadz terseyum dan geleng-geleng kepala. Menjawab ini Pak Ustadz sedikit berpikir dan sempat hening beberapa detik. Jawaban harus tepat agar anak-anak tidak salah persepsi mengenai ini, pikir beliau.

"Begini anak-anakku. Sekarang Pak Ustadz tanya, makan pakai tangan kiri benar atau salah?"

Semua menjawab salah dengan serentak. Tidak dengan Binur yang sepertinya masih melamun.

"Kalau memanggil orang tua dengan nama, salah apa tidak?" Lanjut Pak Ustadz.

Semua masih bersemangat dengan menjawab salah dengan serentak. Binur masih melamun.

"Masuk ke rumah pakai sandal atau sepatu, boleh atau tidak?"

"Tidaaaaaaak." Semuanya masih serentak. Jawaban terakhir membuat Binur terbangun dari lamunan. Dia menoleh ke kiri ke kanan heran apa yang sudah terjadi. Tapi tetap diam sembari menerka-nerka situasi.

"Makan pakai tangan kiri memang salah di sini, tapi di tempat lain seperti Eropa dan Amerika, mau pakai tangan apapun semuanya benar. Begitu juga dengan memanggil orang yang lebih tua dengan nama saja, di sini dianggap tidak sopan. Kalau di luar sana? Meskipun anak baru lima tahun memanggil ke kakek usia tujuh puluh tahun dengan nama pun tidak masalah." Jelas Pak Ustadz dengan membuat pengandaian. Tapi murid-muridnya masih berusaha berpikir apa hubungannya menyeramkan dan penjelasan yang diberikan Pak Ustadz. Penjelasan beliau tidak ada unsur seramnya.

"Dan juga, kenapa masuk dalam rumah harus lepas alas kaki? Karena tradisi kita seperti itu. Bisa jadi kebiasaan itu dilakukan karena orang dulu berpikir, rumah kita harus bebas dari sesuatu yang kotor dan negatif. Tapi kalau di dunia barat sana, mau masuk pakai alas kakipun tidak masalah. Tradisinya bukan seperti itu, karena pikiran orang kita dan mereka tidak sama." Tambah Pak Ustadz yang membuat anak-anak semakin bingung.

"Tapi Pak Ustadz, hubungannya jum'at kliwon sama tidak pakai sendal apa ya?" Mamad tiba-tiba bertanya tanpa acungkan tangan. Semua langsung terbahak-bahak mendengar pertanyaannya. Obrolan yang daritadi terjadi cuma dia serap awalan dan akhirannya saja.

Pak Ustadz Gofar tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tapi beliau paham, sebenarnya yang ditanyakan Mamad dan ditertawakan oleh yang lain itu adalah inti dari kebingungan para murid-muridnya.

"Pertanyaan bagus, Mad. Tapi memang yang lain, yang menertawakan pertanyaan Mamad, pasti dari awal bertanya apa hubungannya dari menyeramkan sampai ke penjelasan terakhir Pak Ustadz, kan?" Tiba-tiba semua diam mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Pak Ustadz Gofar. Mungkin mereka pikir, si Mamad benar juga, tapi kenapa mereka malah tertawa. Mungkin beberapa berpikir Mamad ini ternyata si jenius yang kebetulan lugu.

"Nah begini anak-anakku. Dari penjelasan tadi, intinya di sini boleh, di sana tidak boleh. Di sana boleh, di sini tidak boleh. Kenapa begitu? Karena setiap tempat punya pendirian dan keyakinan masing-masing. Di sini, makan pakai tangan kiri kenapa tidak boleh? Karena keyakinan kita sebagai orang timur, tangan kiri adalah tangan yang dipakai untuk hal-hal yang jorok. Dan menurut agama malah tangan kiri itu tangan bantuannya setan. Kalau kita makan pakai tangan kiri, ya kita makan dibantu sama setan dan setannya masuk ke badan kita." Jelas Pak Ustadz. Beberapa mulai mengangguk dan beberapa masih diam tanda masih mencerna perkataan beliau. Ada satu yang diam dan mulai melamun lagi, si Binur.

"Intinya, kalau kita punya keyakinan yang kuat tentang sesuatu, kalau ada yang lain di luar kita yang sangat berbeda dengan kita, kita tidak akan terpengaruh meskipun pengaruh yang lain sangat kuat untuk berusaha mengikuti mereka. Sama halnya dengan malam jum'at kliwon. Siapa yang bilang malam jum'at kliwon itu seram?" Tanya balik Pak Ustadz ke para muridnya.

"Kata banyak orang-orang di desa begitu, Pak Ustadz." Jono yang tadi punya pertanyaan tentang jum'at kliwon tadi berargumen.

"Orang-orang desa kata siapa, Jon?" Pak Ustadz bertanya lagi.

"Kata mereka sih, di film-film hantu seperti itu. Mereka katanya dulu lihatnya pas di kota. Di sini kan tidak ada televisi Pak Ustadz. Jadi saya tidak tahu itu benar apa tidak. Karena yang cerita kebanyakan orang tua makanya saya percaya saja Pak Ustadz." Penjelasan Jono cukup mewakili apa yang dirasakan kebanyakan muridnya tentang persepsi jum'at kliwon yang menyeramkan.

"Nah, ini akibatnya kalau kita belum punya pendirian yang kuat. Yang cerita ke kalian mungkin orang tua, tapi kita harus teliti dulu benar tidak itu ceritanya? Dan mereka pun bilang dapat info itu dari film. Tahu kalian film itu apa?" Pertanyaan Pak Ustadz kali ini membuat mereka semua diam. Bahkan saling tengok kanan kiri melihat satu sama lain dengan tatapan bingung. Maklum, mereka belum pernah melihat yang namanya tayangan televisi. Jadi informasi yang mereka dapat ya hanya dari cerita orang lain saja, entah dari ibu bapaknya, saudaranya, tetangganya, dan banyak lagi orang lain di sekitar. Dan juga dapat informasi dari buku yang ada di masjid, tapi jumlahnya sangat terbatas, dan tidak semua bisa membaca. Membaca tulisan arab malah lebih jago kebanyakan dari mereka.

"Film itu adalah cerita karangan manusia. Cerita yang tidak nyata, hanya karangan. Bahasa kerennya, cerita fiktif. Jadi info yang orang-orang dapat adalah bukan kenyataan. Secara tidak langsung mereka membohongi orang lain dengan cerita seperti itu meskipun niatnya tidak. Apalagi kalau sampai yang dapat cerita sangat percaya sampai terbawa mimpi pula. Dan yang lebih gawat lagi adalah orang-orang yang langsung percaya saja dengan info yang didapat. Jangan-jangan nanti ada yang cerita katanya mbah ini di pohon ini ada penunggunya, dan penunggunya bilang malam minggu semua harus mandi di sungai saat hujan turun. Kalau yang percaya saja ya bisa dilakukan. Alhasil, setelah mandi sungai, hujan-hujanan juga, semua jadi masuk angin paginya. Mak Inem banyak deh pasiennya yang mau minta pijat." Penjelasan panjang lebar Pak Ustadz dan cerita lucunya membuat murid-murid tertawa sangat lepas. Membayangkan Mak Inem, ahli pijat di desa sudah berusia enam puluh tahunan, terlalu banyak pasien, bisa-bisa besoknya sakit juga dan tidak terima pasien lagi alias pensiun.

"Tapi, yang paling penting adalah, anak-anakku jangan sampai takut kepada apapun kecuali Tuhan yang kita sembah. Kalau kalian sampai takut sama yang setan-setan atau apapun selain Alloh, bisa-bisa kalian dikutuk jadi pohon." Pak Ustadz berulah lagi. Perut para murid yang tadinya lelah karena gurauannya, sekarang harus agak sakit karena tambahan kutukan jadi pohon. Beberapa tidak bisa menahan untuk jatuh merebahkan diri sambil memegangi perut.

Di tengah tawa para murid, ada yang tidak tertawa malah serius mendengar kalimat terakhir. Pak Ustadz bilang apa? Dikutuk jadi pohon? Tanya Binur dalam hati. Apa Pak Ustadz tahu apa yang dia pikirkan daritadi? Apakah Pak Ustadz barusan memberi isyarat kepada Binur kalau beliau tahu tentang hutan penyihir dan kebenaran mitosnya? Tapi Binur masih tidak yakin. Tapi kali ini dia harus menanyakan meskipun nantinya Pak Ustadz tidak memberikan jawaban apapun.

Jumat, 16 April 2021

BINUR DAN HUTAN PENYIHIR Bagian 2

Binur bukanlah orang yang mudah sekali percaya begitu saja dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia membutuhkan bukti-bukti yang bisa menjelaskan apa yang baru saja dia dengar atau ketahui. Yang jelas, dia tidak akan merasa puas sampai semua terjelaskan oleh fakta-fakta yang berkaitan dengan apa yang dia ingin cari tahu. Sampai semuanya didapat, dia tidak akan bisa tidur nyenyak. Begitulah dia.

Saat mendengar cerita tentang "hutan penyihir" di pasar pun, dia tidak langsung percaya begitu saja. Tapi, dia akan menyimak cerita tersebut dari awal sampai akhir. Selama ini yang menarik perhatian Binur adalah hal-hal yang sekiranya membuat resah warga dan dirinya. Dan dia ingin membuktikan bahwa keresahan tersebut tidak penting. Maka dari itu, dia selalu mempunyai cara untuk "menyadarkan" orang-orang yang terserang keresahan ataupun dirinya sendiri yang sedang resah. Tidak peduli apapun nanti reaksi sekitarnya, yang penting dia berbuat sesuatu. Itu yang selalu dipikirkan oleh Binur.

Pak Karni dan Pak Sugeng yang membicarakan tentang hutan penyihir itu memang terkenal suka menggembar-gemborkan sesuatu yang sekiranya masih jadi misteri di sekitarnya. Dengan suara yang agak lantang biasanya mereka bercerita tentang banyak hal. Mereka juga pedagang pasar seperti Binur. Pak Karni jualan tempe tahu dan Pak Sugeng jualan bumbu-bumbu dapur. Lapak mereka pun bersebelahan. Kalau mereka berbincang dengan suara keras, ya pasti artinya mereka hanya ingin perhatian sekitar saja. Dan ulah dua pedagang tersebut sudah sangat terkenal di area pasar. Sekeras apapun mereka berbicara, tidak akan mungkin ada yang menghiraukan karena ceritanya setiap hari sama, itu-itu saja. Kalau ada pembeli yang baru masuk pasar dan baru bertemu duo itu, pasti dikiranya mereka agak terganggu pendengarannya, kemudian pindah ke pedagang lain karena suasana sangat bising kalau mereka sedang beraksi.

Beda halnya dengan Binur. Binur baru berjualan sekitar empat hari di pasar. Atas saran Pak Ustadz Gofar agar Binur tidak kekurangan akan kebutuhan hidup, akhirnya dia berjualan ikan yang dia tangkap di sungai. Hasilnya lumayan untuk membeli kebutuhan pokok. Binur selama ini memang banyak mendapat bantuan dari tetangga-tetangganya masalah kebutuhan pokok, termasuk dari Ustadz Gofar. Tapi suatu hari Ustadz memberikan sebuah cerita budi pekerti kalau tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Meskipun belum di atas, setidaknya berusaha untuk tidak di bawah. Binur mulai meresapi hal tersebut dan melaksanakan saran dari Ustadz Gofar. Setidaknya berusaha dulu.

Selama empat hari berjualan di pasar, Binur memang memperhatikan Pak Karni dan Pak Sugeng. Selain suaranya yang keras, cerita mereka sangat menarik bagi Binur karena memang baru ini dia bertemu duo maut tersebut. Saat melayani pembeli pun Binur masih memperhatikan cerita mereka. Sampai pada akhirnya mereka bercerita tentang hutan penyihir yang Binur belum tahu. Menurut hampir semua orang di pasar, cerita hutan penyihir sudah dianggap basi. Banyak yang menganggap itu hanya akal-akalan orang dulu agar tidak ada orang yang berani masuk ke hutan. Ada yang beranggapan mungkin alasannya agar hutan itu tetap terjaga, agar tetap ada tempat yang asri untuk desa, bahkan ada yang beranggapan di sana terdapat binatang-binatang buas. Cerita hutan penyihir itu dibuat agar mereka terlindungi dari binatang buas dan para binatang tidak terganggu. Kalau sampai mereka terganggu, bisa jadi para binatang itu masuk area desa. Bisa gawat kalau begitu.

Obrolan Pak Karni dan Pak Sugeng sangat menarik untuk Binur, karena ternyata tidak semua orang di desa percaya itu nyata, tapi memang kebanyakan dari mereka percaya hal mistis tersebut. Berbagai macam argumen dari masyarakat tentang hutan penyihir menjadi objek riset pribadi yang menyenangkan buat Binur. Seperti pendapat kalau hutan penyihir hanya akal-akalan orang dulu. Kalau mereka percaya itu, kenapa mereka tidak berusaha membuktikan kalau disana memang tidak ada hal mistis seperti yang sudah diceritakan banyak orang? Pasti kalau ditanya seperti itu akan banyak beralasan. Sebenarnya takut dan hanya mau memotivasi dirinya sendiri agar tidak terlihat takut. Juga lagi, seperti pendapat kalau cerita hutan penyihir itu untuk melindungi harta karun terpendam yang ada di dalam hutan. Itu sangat menarik, tapi tidak cukup menggoda untuk membuat orang menjelajah hutan tersebut. Hanya cerita dari orang yang kurang perhatian saja. Semua argumen-argumen tersebut menarik untuk Binur dan hampir semuanya didapat dari obrolan si duo maut jika sedang beraksi.

Sejak mendapat cerita itu, dengan berbagai versinya yang mengikuti, Binur susah sekali untuk tidur nyenyak. Bahkan saat mencari ikan pun seringkali gagal tangkap karena imajinasi sering dilewati cerita hutan penyihir. Semakin lama rasa penasaran semakin besar dan semakin membuat Binur tidak betah dengan keadaan seperti itu. Sebenarnya cerita yang tidak terlalu penting tetapi entah kenapa terus melekat di benaknya.

Demi menghilangkan kegundahannya, Binur berusaha keras mencari cara bagaimana dia bisa mendapatkan informasi yang benar tentang cerita tersebut. Hanya satu hal terbersit di benak Binur, Pak Ustadz Gofar. Tapi ketika membayangkan sosoknya, Binur mengernyitkan dahi, tidak yakin beliau tahu ini. Kalau tahu pun pasti dianggap tidak penting dan segera ditinggalkan. Pak Ustadz Gofar punya karakter yang sangat bersemangat tentang agama dan menolak hal-hal yang tidak penting untuk didengar, tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu percuma menurut beliau. Binur terus berpikir keras, tapi tetap tidak menemukan siapa yang bisa ditanyai mengenai hal ini. Tanya kepada Pak Karni dan Pak Sugeng pun lebih percuma. Obrolan mereka levelnya melebihi obrolan ibu-ibu yang sedang bergosip ria saat belanja di pasar. Semua cuma omongan-omongan yang dibumbui dan diulang-ulang. Semakin keras Binur berpikir, sosok Pak Ustadz lagi yang muncul. Mengernyitkan dahi lagi lah dia. Mencoba lagi dan lagi dan terus mencoba, sampai akhirnya tidak sadar keringat dingin meluncur di dahinya dan nafas sedikit tersengal seperti sehabis jalan terburu-buru. Ah, sepertinya terlalu menyita pikiran dan tenaga untuk hal yang tidak penting, pikir Binur.

Keesokan harinya Binur mengalami hal aneh lagi. Saat sedang dalam perjalanan mengaji, dia bertemu Pak Ustadz Gofar yang memang juga berjalan ke arah yang sama, ke masjid. Binur sudah melupakan pikiran sia-sianya hari lalu. Tapi hal lebih aneh terjadi, melihat wajah Pak Ustadz Gofar setelah menyalami beliau, kenapa terlintas lagi cerita angin tentang hutan penyihir? Binur mengernyitkan dahi tiba-tiba dan Pak Ustadz tahu perubahan ekspresi Binur yang aneh.

"Kenapa, Nur? Tangan Pak Ustadz bau ya?" Pak Ustadz malah bercanda menanggapi perubahan ekspresi Binur.

Binur segera tersadar dengan pertanyaan Pak Ustad, itu karena tiba-tiba dia melamun dan berubah ekspresi mendadak. 

"Eh, tidak Pak Ustadz. Tangan Pak Ustadz harum kok bau minyak kasturi, enak. Hehe." Binur menjawab sambil cengengesan dan menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Kalau harum kok ekspresinya seperti habis nyium kotoran sapi gitu, Nur?" Pak Ustadz juga terus menggoda Binur yang salah tingkah.

"Ah bukan Pak Ustadz, pas nyium tangan Pak Ustadz tadi, Binur merasa seperti di dekat para wali Alloh." Jawab Binur sedapatnya.

"Wah, emang bau kasturi ini baunya Wali Alloh ya? Kok kamu tahu sih, Nur?" Pas Ustadz masih saja menggoda Binur. Ekspresinya terlihat heran dan serius, tapi dalam hatinya memang sedang tersenyum melihat keluguan muridnya itu.

Binur yang ditanya seperti itu juga semakin salah tingkah. Penyesalan tentang jawaban ngawur tadi mulai datang. Binur tidak ingin berbicara hal-hal yang dia tidak tahu dan dibuat-buat di depan guru ngajinya itu. Rasa hormatnya lebih besar daripada keinginannya untuk bercanda meskipun Pak Ustadz memang asik untuk diajak bersenda gurau.

"Hehe maaf Pak Ustadz, tadi cuma bercanda." Jawab Binur dengan perasaan sungkan dan sedikit tidak enak.

"Lah tapi kenapa tadi tiba-tiba bengong?" Tanya Pak Ustadz lagi.

Dalam hatinya, Binur sangat ingin bertanya tentang hal yang membuatnya kepikiran akhir-akhir ini. Tapi Binur mengerti karakter Pak Ustadz Gofar, percuma juga kalau tanya pun pasti juga akan dijawab dengan senyumam saja.

"Oh bukan apa-apa, Pak Ustadz. Tidak tahu kenapa tadi tiba-tiba diam gitu." Jawab Binur dengan aman.

Hanya suara "oh" saja yang keluar dari mulut Pak Ustadz dan kemudian tersenyum sambil berjalan semakin mendekati masjid. Masjid masih terlihat sepi. Sepertinya Binur adalah murid pertama yang datang. Hari itu matahari masih terlihat terang menerangi langit, satu jam sebelum waktu sholat maghrib.

Sesampainya di sana, Binur tidak langsung masuk, masih duduk di teras masjid sembari menunggu teman-teman yang lain. Binur masih termenung memikirkan cara untuk menghapus kegundahannya karena penasaran yang berlebihan. Tanpa sadar, Binur sedang diawasi dari kejauhan. Pak Ustadz tersenyum senang melihat kelakuan muridnya itu. Akhirnya, akan ada yang masuk lagi ke dalam hutan itu, ucapnya dalam hati..

Rabu, 14 April 2021

BINUR DAN HUTAN PENYIHIR

Sebuah Dongeng

Di sebuah desa bernama desa Siririti, hiduplah seorang penyihir yang sangat jahat. Lokasi rumahnya berada di tengah hutan. Hutan tersebut memang agak luas dan tidak ada yang berani menebang pohon di hutan yang ditinggali si penyihir. Menurut mitos yang beredar pada masyarakat di sana, yang berani menebang pohon di hutan sekitar rumah si penyihir, akan dikutuk menjadi pohon seperti yang ada di hutan. Menurut masyarakat juga, itulah kenapa hutan di sekitar rumah penyihir itu sangat lebat padahal sekitarnya hanya ada rumput dan semak belukar yang tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon lebat itu adalah wujud kutukan si penyihir pada orang-orang yang berani menebang pohon di sekitar rumah penyihir. Antara hutan dan sekitarnya seperti ada batas, tidak jelas tapi terasa nyata jika dirasakan.

Cerita tentang penyihir dan kutukannya itu memang sangat populer dibicarakan dari generasi ke generasi. Tidak ada anak kecil bahkan orang dewasa pun yang berani mendekati hutan apalagi masuk ke dalamnya. Mereka tidak tahu cerita benar atau tidak. Mereka juga tidak tahu pasti di tengah hutan itu terdapat rumah penyihir atau tidak. Mereka hanya tahu tidak akan menentang mitos yang sudah turun-temurun. Apa susahnya tidak mendekat ke hutan, kan? Pikir mereka.

Tapi dari sekian banyak orang, akan selalu ada orang yang membangkang. Entah itu memang hukum alam atau bagaimana, pasti akan ada. Mungkin ini berkaitan dengan hukum alam yang harus selalu seimbang, ada yang menurut dan ada yang memberontak. Dan sifat pemberontak itu muncul kepada si Binur, yang kelakuannya selalu membuat heboh masyarakat desa, mulai dari membuat gaduh saat adzan subuh dengan memukul bedug tak berirama, maunya dia sendiri, sampai membakar kemenyan di depan rumah-rumah warga karena dianggap, rumah-rumah warga ini bau tidak sedap, karena sampah yang berserakan dan malas dibersihkan. Karena Binur masih terhitung anak kecil, tidak ada yang berani untuk membalas secara fisik, palingan juga omelan biasa. Dan itu tidak dianggap serius oleh Binur. Orang-orang mulai mengerti dengan kelakuan si Binur karena menganggap begitulah kelakuan anak yatim piatu yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Binur adalah anak yang dibuang yang ditemukan oleh seorang kakek tua yang tinggal sendirian. Dengan ikhlas si kakek merawat dan membesarkan sampai pada akhirnya, si kakek meninggal saat Binur masih berusia 6 tahun. Dan saat itu juga, dia tinggal sendirian.

Dan sekarang, Binur berusia 15 tahun. Mandiri dan sangat tekun pergi ke masjid untuk sholat maupun mengaji, tapi memang kelakuannya di luar kebiasaan seumurannya pada umumnya. Apa yang dianggapnya salah, dia akan "memperbaiki" dengan caranya sendiri. Seperti saat dia membuat gaduh bedug masjid desa, Binur menganggap warga desa mulai tidak mau pergi ke masjid saat subuh karena berbagai alasan yang menurut Binur itu hanya kemalasan. Akhirnya sampai puncak keinginannya untuk memperingatkan warga desa agar tidak malas pergi ke masjid saat subuh, Binur langsung membuat gaduh dengan menabuh bedug masjid dengan brutal. Sontak semua warga terganggu dan kebanyakan marah karena dianggap mengganggu tidur mereka. Warga desa Siririti memang kompak kalau masalah emosi-emosian seperti ini, warga berbondong-bondong keluar dari rumah menuju masjid. Pak Ustadz Gofar, imam masjid, yang memang sedang menuju masjid pun terheran-heran dengan kedatangan warga yang sedang marah-marah. Pak Ustadz tidak bisa mendengar apa yang mereka proteskan karena suara bercampur aduk. Binur mulai melihat sosok para warga yang sedang marah menuju masjid. Dia tersenyum dan langsung lari menuju mimbar masjid, meraih mikrofon dan melantunkan adzan dengan lantang dan nyaring.

"Allohuakbar Alloooooohuakbar.."

Pak Ustadz mulai mengerti alurnya dan ini semua ulah si Binur. Warga yang marah-marah langsung diam mendengar suara adzan, agak termenung dan mulai berbalik badan seakan mau pulang padahal masjid sudah di depan mereka. Pak Ustadz menyadari keinginan Binur dan seketika menghampiri warga yang mulai mau pulang.

"Assalamualaikum bapak-bapak. Loh ini sudah di depan masjid kok mau pulang, sudah adzan juga. Ayo-ayo sholat subuh dulu, baru pulang. Sarung banyak di dalam. Ayo pak masuk." Ujar Pak Ustadz Gofar kepada warga.

Warga memang sangat hormat kepada Pak Ustadz Gofar, dan saat beliau berbicara seperti itu, tidak ada yang berani beralasan dan menuruti juga akhirnya.

Itulah salah satu kejadian "pemberontakan" yang dilakukan Binur, bernama lengkap Binurillah. Dan sifatnya itu akhirnya membawa dia penasaran terhadap hutan yang tidak pernah didekati oleh warga. Padahal, pikir Binur, siapa tahu di sana ada sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga. Rasa penasaran Binur dimulai saat para pedagang di pasar tiba-tiba membicarakan tentang "hutan penyihir". Binur juga berjualan ikan hasil tangkapannya dari sungai dan langsung menaruh perhatian penuh kepada cerita tersebut. Petualangan Binur dengan hutan penyihir dimulai..

Senin, 28 September 2020

BERANTAKAN

 Sungguh, yang kurindukan dari anak dan istriku saat mereka berada di kampung halaman adalah suasana rumah yang berantakan.

Itu benar-benar terjadi dan aku tidak punya bayangan apapun mengenai hal itu. Awalnya, hari pertama ditinggal, semua biasa saja seperti sebelum-sebelumnya ketika aku tidak bisa ikut mereka pulang kampung. Pekerjaan mengharuskanku tetap menjadi perantau yang baik. Rumah memang sedikit berantakan dan aku biarkan, malas sekali karena masih banyak waktu nanti, pikirku.

Tapi beberapa hari kemudian, ketika aku punya banyak waktu luang dan bingung apa yang perlu aku lakukan, aku memutuskan untuk membersihkan dan merapikan "rumah". Mainan anakku yang tergeletak sana-sini, barang-barang bekas makan dan minum, bungkus-bungkus makanan dan minuman, semua aku bereskan sampai suasana di rumah terlihat "enak".

Saat selesai dan lagi-lagi aku bingung apa yang harus aku lakukan, membaca buku atau menulis cerita sudah terasa membosankan, aku merasakan ada sesuatu yang hilang di rumah. Entahlah, kupikir itu hanya perasaan rinduku kepada anak dan istriku. Tapi rinduku sedikit terobati dengan komunikasi tatap muka menggunakan panggilan video. Tetap saja, masih ada yang menggangjal.

Aku sempat merenung, setelah melakukan berbagai hal yang bisa kulakukan, tetap saja ada yang kurang dan masih menggelitik hati tapi aku tidak paham. Ah, mungkin perasaanku saja. Perasaanku sering kali merasa hal-hal yang tiba-tiba muncul dan itu tidak penting. Apa yang aku pikirkan? Aku juga tidak tahu, terus saja aku memikirkan. Semakin keras aku berpikir semakin tidak ketemu apa yang aku cari. Akhirnya, aku lampiaskan dengan membaca kitab suci. Sejenak menghasilkan ketenangan. Setelah beberapa jam, perasaan tak enak muncul lagi.

Akhirnya aku menyerah, membiarkan semua berjalan seperti biasa meskipun tetap mengganjal. Rasa menyerah membuatku malas membereskan rumah. Perkakas makan di wastafel aku biarkan menumpuk. Bungkus-bungkus makanan aku biarkan. Sprei kasur tidak aku rapikan. Bantal guling biarlah berantakan. Baju kotor aku biarkan menumpuk. Keadaan rumah kembali seperti semula.

Tapi anehnya, perasaanku tenang. Di dalam rumah yang berantakan, aku bisa membayangkan anakku sedang bermain. Namanya anak kecil, setelah mengambil barang, tidak akan dia bereskan. Aku bisa membayangkan istriku bermain dengan anakku dalam rumah yang berantakan. Imajinasi itu, dengan adanya semua yang tidak rapi, membuat rinduku sedikit terobati. 

Lama-lama, setelah terlihat sangat berantakan, rumah aku bereskan kembali. Seperti sebelumnya, aku merasakan ada sesuatu yang hilang lagi. Setelah merenung, sepertinya aku menemukan apa yang aku pikirkan. Aku merindukan anak dan istriku menggeletakkan apapun di rumah semau mereka. Aneh sekali. Harusnya orang nyaman dengan rumah yang rapi, tapi aku tidak. Aku nyaman dengan rumah yang berantakan.

Setelah dua belas hari, istri dan anakku kembali dari kampung halaman. Anakku, sesampai di rumah, langsunh saja mengambil mainan yang dia suka. Menaruhnya disana-sini sesukanya. Biasanya, hatiku sangat greget melihat anakku memberantakkan sesuatu. Tapi aneh, aku menikmati perbuatannya. Aku menikmati hasil yang dia buat, rumah berantakan. Sungguh, ternyata, apa yang dilakukan anakku dan istriku, sungguh nikmat di mataku. Mereka selalu bahagia bermain bersama, meskipun pada akhirnya rumah amburadul. Rumah yang tidak rapi, mengingatkanku pada senyum tawa mereka. Sekarang aku menikmatinya, menikmati rumah berantakan yang mereka hasilkan.

Berantakan

  Lagi-lagi, rumah sangat berantakan di mana-mana. Yaa, aku menyadari ini namanya konsekuensi, atas lepasnya ketergantungan terhadap gawai (...