"Halo, Mas Dhoni."
"Iya, Mas, gimana?" Saat itu pukul satu siang, satu jam sebelum aku masuk shift siang. Ada telepon masuk.
"Begini, Mas." Tiba-tiba aku deg-degan, entah kenapa mendadak terbayang rapid test yang diadakan kantor tempat kerjaku tadi pagi. Ada yang salah? Dia melanjutkan, "Hasil rapid tesnya sampean reaktif."
Sontak degup jantung menjadi lebih kencang berkali-kali lipat. Sepertinya aku sudah banyak menerima firasat ini akan terjadi dan aku pikir itu hanya kebiasaan jelekku yang gampang sekali berfikir negatif.
"Hah? Masaalah (baca : ma-sa-a-lah). Kok bisa ya, Mas." Mulutku mati-matian berusaha tenang padahal jantung sudah dag-dig-dug tak karuan.
"Bener, Mas. Tapi sampean pikir tenang dulu. Jangan terlalu panik. Aku yakin pasti samean kaget dan pasti panik. Toh juga tidak ada yang mau kena hal seperti ini." Dengan suara tenangnya, panggil saja Mas Bagas, dia menjelaskan dengan sedikit memotivasi.
Aku tetap terdiam, berpikir, menunggu ucapan berikutnya.
Mas Bagas melanjutkan, "Jadi, kantor barusan sudah mengadakan rapat tentang hal ini dan memutuskan, samean diWFH-kan dulu sampai ada keputusan lanjutan (WFH : Work From Home). Dan sampean wajib melakukan isolasi mandiri. Alangkah baiknya sampean jaga jarak dulu sama istri dan anak."
"Iya, Mas. Tapi ini kayaknya telat ya. Dari kemarin-kemarin aku ya interaksi sama istri dan anakku. Tiba-tiba denger kabar seperti itu, jadi lemes badanku."
"Ya alangkah bijaknya kalau sampean mulai sekarang jaga jarak dulu meskipun kesannya telat. Mau gimana lagi, Mas. Ga ada yang mau ini terjadi."
"Siap siap mas." Padahal dalam hati sudah sangat bingung, takut, khawatir, semua jadi satu. "Terus ini kelanjutannya gimana, Mas? Aku harus ngapain?"
"Sementara ini, bentar lagi aku ke tempatnya sampean mas. Ada titipan dari kantor."
"Sama siapa mas kesini?" Spontan aku bertanya seperti itu. Bayanganku sudah horor, aku bakal didatengi petugas rapid tes tadi yang menggunakan alat pelindung diri lengkap, sempurna menutup seluruh tubuh dari atas sampai bawah. Aaah, tivi sudah mendoktrin otakku ternyata, menyajikan imajinasi yang sehoror ini.
"Sama Mas Cancan. Sampean sekarang share lokasi ya tempat tinggalnya sampean. Sebentar lagi aku langsung ke sana."
Istriku yang dari tadi memperhatikan bincang-bincangku di telepon, sudah memasang wajah curiga, dengan sedikit khawatir, kemudian bertanya, "Ada apa sayang?". Nadanya khawatir sedikit takut tapi merasa kasihan.
Sebelum menjawab, aku sedikit terdiam selama beberapa detik, seperti mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk menyampaikan "berita buruk" ini. "Hasil rapidku, reaktif sayang."
Aku tahu istriku kaget setengah mati, tapi hebatnya dia bisa menyembunyikan itu agar aku tidak bertambah khawatir. "Halah pasti salah itu. Rapid test kan ga bisa jadi acuan. Sayang tenang aja."
Tenang? Setidaknya aku tenang dengan respon yang diberikan istriku. Tapi tetap saja pikiranku sedang berkelana dengan lembah-lembah imajinasi kegelapan, ketakutan, kekhawatiran, dan sebangsanya.
Sekejap aku melihat wajah anakku yang sedang asik bermain dengan mainannya. Aku perhatikan senyumnya, bisakah aku menahan untuk menjaga jarak dan tidak mengecup keningnya? Itu yang biasa aku lakukan saat bermain dengan anakku. Bahkan sebelum dering telepon pembawa kabar buruk itu berbunyi, aku menemani anakku tidur siang bersama istriku. Aku suka melihat wajahnya terlelap. Aku juga menatap wajah istriku yang ikut terlelap. Dan tiba-tiba harus menjaga jarak dengan mereka? Aku tidak ingin, tapi bayangan buruk sudah benar-benar menghipnotisku. Aku jadi takut membawa penyakit untuk mereka, meskipun itu belum pasti.
"Terus sayang gimana sekarang?" Istriku bertanya, masih dengan nada dan ekspresi yang tenang.
"Ga boleh masuk kantor. Disuruh isolasi mandiri dulu. Gatau sampai kapan, nanti ada keputusan lebih lanjut dari kantor." Jawabku.
Ada telepon masuk, dari Mas Bagas.
"Mas, sampean keluar ke gang ya. Aku sudah sampe."
"Siap, Mas. Tunggu."
Saat itu istriku repot masak, dan bilang bawa saja Galih, anakku. Dalam hati, sepertinya istriku memang tidak percaya dengan penyakit baru ini. Aku sudah divonis reaktif saja dia masih tidak melarangku berdekatan dengan anakku. Lantas aku menggendong Galih dan membawa keluar gang.
Ada mobil hitam disana, mobil operasional kantor, sedang menunggu di pinggir jalan besar. Yang pertama terlihat adalah supir kantor, Mas Diyeng, aku kenal akrab, yang biasa tampil dengan senyum cengengesannya, sekarang menampakkan wajah serius dan cemberut sekaligus khawatir. Apa seserius itu kah kasusku?
Mas Bagas keluar dari mobil, menggunakan masker lengkap dengan sarung tangan karet, masih dengan seragam kantor, sambil membawa paper bag bertuliskan nama perusahaan kantor. Bergegas menyebrang jalan menuju arahku, dan aku juga sudah sampai di pinggir jalan besar.
Tak ada salam tak ada basa-basi dengan wajah serius dia berkata sambil menyerahkan paper bag yang dibawanya, "Mas, sampean ga usah panik."
Jantungku berdegup kencang. Pastilah aku panik, hanya memasang wajah sok tenang dengan senyum tanggung.
"Sampean ga usah mikir macem-macem. Omongan orang kantor dan sebagainya." Memang tadi aku sempat bertanya apa aku saja yang diWFH-kan. Ternyata semua anggota grup kerjaku. Aku sempat bilang aku ga enak sama mereka. Kejadian ini seperti disamber geledek. Tiba-tiba pikiran positif hangus terbakar menjadi negatif semua. Pikiran nantinya bakal dikucilkan, akan dijauhi, digosipkan berpenyakit.
Dengan senyum tanggung aku menimpali kalimat Mas Bagas, "Iya, Mas. Tenang saja. Pasti cuma salah alatnya aja."
Sesekali mata Mas Bagas melirik Galih yang aku gendong, kok malah digendong? Kan tadi disuruh jaga jarak? Mungkin itu pikirnya.
"Yang penting sekarang, samean isolasi mandiri dulu. Setelah ini kan sampean harus menjalani swab test, jadi nanti itu menunggu keputusan selanjutnya dari kantor. Ini di dalam tas ada titipan dari kantor. Dan ada amplop di dalamnya, tapi aku ga tahu jumlahnya. Yang jelas buat sampean jaga-jaga nanti kalau disuruh swab test."
Wah dapat duit. Girangku dalam hati. Jangan-jangan ini semacam uang dispensasi selama aku isolasi mandiri.
"Kapan kira-kira mas? Swab test-nya?" Tanyaku.
"Ya ini belum tahu mas. Yang pasti, sampean tunggu saja kabar selanjutnya ya. Nanti aku hubungi lagi. Dan yang jelas, jangan panik, jangan mikir macem-macem. Tetap jaga kondisi psikis dan jaga jarak dulu dengan keluarga." Sambil melirik Galih, anakku.
"Siap siap, Mas. Nanti kalau ada apa- apa langsung hubungi ya. Serius aku kaget, Mas. Kok bisa badan sehat gini, ga pilek ga flu jadi reaktif. Secepatnya kalau ada kabar hubungi aku ya, Mas."
"Ya namanya musibah mas, ga ada yang tahu. Pasti aku langsung hubungi nanti."
Percakapan selanjutnya hanya sekedar basa-basi dan pamitan kembali ke kantor lagi. Aku yang sedang menggendong Galih, rasanya lemas tapi tetap aku kuatkan dekapanku agar dia tidak jatuh. Seburuk ini kah yang terjadi padaku, hanya soal hasil rapid test reaktif? Psikisku yang biasanya aku sugesti selalu kuat, tiba-tiba melemah begitu saja. Apa karena pikiran-pikiran buruk yang melintas yang tidak bisa aku jabarkan itu apa? Mungkin saja.
Aku berjalan menuju tempat tinggalku, hanya sebuah kamar kos dengan ruang tamu kecil. Aku melangkah dengan pikiran dan pandangan mata yang tidak singkron.
"Mana tamunya sayang?" Istriku bertanya.
"Cuma nganterin bingkisan ini aja, cuma di pinggir jalan, ga masuk."
"Terus gimana?"
"Masih menunggu kabar selanjutnya dari kantor."
Semua hasil percakapan sama Mas Bagas aku ceritakan ke istriku. Istriku berhak tahu. Di tengah percakapan, Mas Bagas menelpon kembali.
"Iya, Mas? Bagaimana?" Sahutku langsung.
"Mas, ini keputusan kantor masih ruwet. Ga tahu kok dari tadi koordinasi belum selesai. Jadi saranku, sampean tes saja langsung ke RSUD. Tadi dokter Wirna udah ngomong, disuruh kesana. Kalau bisa secepatnya."
"Sekarang mas?"
"Kalau saranku iya, Mas. Aku tahu sampean ga nyaman sama kondisi sekarang. Daripada nunggu koordinasi kantor yang lama, dan biar sampean juga tenang, sebaiknya dilakukan secepatnya. Tadi kan ada titipan uang, kalau misalnya kurang sampean bilang saja."
Ke rumah sakit umum daerah? Harus ke situ? Padahal dari kemarin-kemarin bayanganku sudah horor tentang tempat itu. Aku tahu itu rumah sakit rujukan untuk pasien dengan gejala penyakit yang sedang merebak, makanya aku benar-benar tidak mau pergi ke sana meskipun hanya ke bagian depannya. Dan sekarang harus kesana? Aaah.
Dengan berusaha tetap tenang, tapi pikiran masih kalut, aku mengiyakan saran Mas Bagas. Segera membulatkan tekad dan keberanian, aku bergegas ke tempat tujuan. Aku yakin aku tidak terjangkit penyakit apapun, ini hanya masalah kesalahan alat deteksi, sudah banyak yang bilang ini tidak akurat, tetap saja dipakai.
Ganti baju, persiapkan apa yang diperlukan, berpamitan kepada istri dan dia tetap tersenyum dan memberikan semangat, naik motor, dengan pikiran positif, aku menuju ke rumah sakit tujuan. Aku siap menghadapi semuanya, meskipun dalam hati kecilku masih ada perasaan takut kalau aku memang benar membawa penyakit tersebut.
Saat di jalan, dengan semangat membara, aku masih stabil dengan perasaan membara siap menghadapi apapun yang terjadi. Setidaknya itu bertahan, sampai di rumah sakit...
(Bersambung pada bagian ke-2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar